Océane Hurtré, Winger Birmingham yang Bersinar di WSL

Nama Océane Hurtré kini jadi salah satu yang paling sering dibicarakan di Women’s Super League (WSL). Winger berusia 22 tahun itu telah mencetak enam gol dari delapan pertandingan pembuka bersama Birmingham, tim yang baru saja promosi ke kasta teratas, dan menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua bersama di liga. Hanya Khadija Shaw yang menorehkan angka lebih banyak darinya sejauh musim ini.

Catatan itu belum termasuk dua assist di WSL serta satu gol dan satu assist pada debutnya bersama timnas Prancis bulan lalu. Bagi pemain yang datang ke Inggris pada musim panas 2025 dengan status pemain kasta kedua, lonjakan performa ini terasa seperti lompatan besar. Birmingham sendiri diuntungkan langsung: gol-golnya membantu klub meraih promosi, dan ia turut mencetak gol ke gawang tim-tim besar seperti Arsenal, Brighton, dan Manchester City.

Rekor gol Océane Hurtré dan sentuhan yang bikin WSL terpukau

Detail kecil sering lebih jujur menggambarkan seorang pemain daripada statistik. Saat sesi pemanasan Birmingham di Keys Park, markas Hednesford Town, para pemain memasukkan bola ke dalam tas bertali satu per satu dengan hati-hati. Hurtré melakukan hal berbeda: ia mencungkil bolanya langsung masuk ke dalam tas dari jarak sekitar 15 yard, tanpa gestur berlebihan. Momen sederhana itu mungkin luput dari mata penonton, tetapi memperlihatkan kepercayaan diri yang sedang ia bawa ke lapangan.

Pemandangan serupa muncul saat Birmingham bermain imbang 1-1 melawan Aston Villa di League Cup pekan sebelumnya. Dalam pemanasan, Hurtré tampak membuat hal sulit menjadi mudah: cukup satu sentuhan di situasi yang menuntut dua sentuhan, plus umpan tanpa melihat arah. Kualitas itu bukan cuma pemanis, karena ia membuktikannya di kompetisi sesungguhnya lewat produktivitas gol dan assist yang konsisten.

Berkat performa tersebut, Hurtré menerima penghargaan pemain terbaik WSL bulan September. Bagi Birmingham, yang musim lalu masih berjuang di kompetisi lapis kedua, kehadiran pemain dengan angka gol seperti ini menjadi pembeda antara sekadar bertahan dan benar-benar bersaing. Bagi Hurtré sendiri, musim ini adalah pembuktian bahwa keputusannya meninggalkan zona nyaman di Prancis berjalan sesuai rencana.

Jejak di PSG dan kepercayaan pelatih pada pemain 16 tahun

Jauh sebelum namanya dikenal di Inggris, Hurtré sudah mencuri perhatian di Prancis. Olivier Echouafni, mantan pelatih kepala timnas Prancis, memberinya debut profesional di Paris Saint-Germain saat ia baru berusia 16 tahun, pada kampanye 2020-21 yang berakhir dengan gelar juara liga. Itu menjadi satu-satunya kesempatan dalam 20 tahun terakhir di mana sebuah klub mampu menghentikan OL Lyonnes finis di puncak klasemen.

Echouafni mengenang Hurtré sebagai sosok yang tekun mendengarkan arahan. “Dia mendengarkan semua yang dikatakan pelatih, sangat perhatian, dan sangat fokus,” ujarnya. Ia menggambarkan sang pemain seperti matahari karena selalu membawa cahaya saat diajak bicara. Menurutnya, Hurtré sejak awal sudah lihai menggerakkan bola dengan cepat untuk menarik lawan keluar dari posisinya, punya tembakan bagus, dan menghasilkan umpan silang berkualitas.

Kekurangannya saat itu, kata Echouafni, murni soal fisik dan usia. Stamina atletiknya belum cukup untuk menopang sprint berulang, dan ia kerap kesulitan dalam duel satu lawan satu. Namun kemajuan yang ia tunjukkan sejak itu dinilai besar, termasuk secara mental. Kepindahannya ke Birmingham disebut Echouafni membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan kariernya.

Salah satu momen yang paling membekas di ingatan Echouafni justru bukan gol, melainkan penyelamatan. Pada penampilan liga keduanya melawan Paris FC di Mei 2021, Hurtré masuk menggantikan bek sayap Kanada Ashley Lawrence saat laga hanya menyisakan dua menit. Ia menyapu bola tepat di garis gawang dan menggagalkan peluang penyamaan skor. Aksi itu terasa krusial karena sepekan kemudian PSG memastikan gelar juara.

Dipinjamkan ke Dijon dan Bordeaux, lalu berani turun kasta

Berada di PSG berarti tumbuh di tengah pemain-pemain berpengalaman, dan itu bukan kiasan. Ketika menjalani debut di kompetisi Eropa melawan klub Polandia Gornik Leczna, Hurtré berada di tim yang sama dengan Formiga, pemain berusia 42 tahun saat itu. Rasa terima kasihnya pada PSG tampak jelas: pekan lalu ia terlihat di Joie Stadium menonton Manchester City melawan PSG di Women’s Champions League, duduk tepat di atas area bangku cadangan mantan klubnya.

Demi menambah jam bermain, PSG meminjamkannya ke Dijon pada 2022 dan ke Bordeaux pada 2023-24. Cedera di masing-masing periode sempat memotong waktu bermainnya, tetapi kesan yang ia tinggalkan tetap kuat. Sylvain Carric, general manager tim putri Dijon pada 2022 hingga 2026 yang kini menangani tim putri Strasbourg, mengaku punya dua alasan utama ingin merekrutnya.

“Yang pertama tentu kualitas kaki kirinya, luar biasa; ia bisa menempatkan bola persis di tempat yang ia mau. Yang kedua adalah keserbagunaannya. Ia mampu bermain sebagai bek kiri, winger, atau gelandang nomor 8,” kata Carric. Ia menilai Hurtré cerdas karena memilih datang ke Dijon untuk berkembang, bukan bertahan di bangku cadangan PSG. Sosoknya disebut sebagai pemain bagus sekaligus rekan setim yang menyenangkan dan selalu tersenyum, dengan dukungan lingkar terdekat yang solid, terutama ayahnya.

Carric menyebut potensi Hurtré sudah terlihat jelas berkat kaki kirinya, hanya saja ia perlu menyesuaikan kondisi fisik untuk level elite. Kini, setelah semua elemen itu menyatu, ia mengaku tidak terkejut dengan pencapaian sang pemain. Keputusan Hurtré bergabung dengan Birmingham di kasta kedua pada musim panas 2025 memang berisiko, tetapi terbukti berbuah manis.

Dampak bagi Hurtré: kans Piala Dunia dan persaingan di timnas

Pelatih kepala Birmingham, Amy Merricks, menyebut perkembangan Hurtré sebagai sesuatu yang membuat klub sangat bangga. Ia enggan membeberkan detail kondisi sang pemain saat pertama datang, tetapi menegaskan bahwa banyak orang tidak akan percaya pada besarnya perubahan yang terjadi. Dukungan yang diberikan mencakup banyak hal, mulai dari proses adaptasi ke negara baru di usia muda hingga belajar bahasa Inggris yang disebut Merricks sebagai langkah besar.

Merricks menilai kerja keras Hurtré di luar lapangan adalah kunci di balik penampilannya di pertandingan. Ia menyebut pemainnya tekun dan benar-benar mempelajari permainan, sehingga pemanggilan ke timnas Prancis dinilai sepenuhnya pantas. Bagi Hurtré, kontribusi gol dan assist dalam kemenangan 9-0 Prancis atas Latvia semakin memperbesar peluangnya masuk skuad untuk Piala Dunia musim panas mendatang.

Penulis sepak bola putri untuk majalah Prancis footofeminin, Sylvain Jamet, melihat sendiri kualitas Hurtré saat Piala Dunia Putri U-20 di Kosta Rika. Menurutnya, kemampuan teknis dan eksekusi bola mati dengan kaki kiri sudah menonjol selama enam tahun Hurtré membela tim muda Prancis. Ia juga menilai Hurtré kini jauh lebih cepat, kemungkinan besar hasil latihan intensif sejak tiba di Inggris.

Jamet membandingkannya dengan pemain sayap kiri Prancis milik Chelsea, Sandy Baltimore, yang kini bersaing untuk posisi yang sama di timnas. Baltimore dinilai lebih eksplosif dan gemar menusuk lawan satu lawan satu, sementara Hurtré unggul secara teknis dalam hal umpan silang dan passing. “Hurtré bisa mengirim umpan silang dari mana saja, pada dasarnya ia bisa melakukan apa yang dilakukan David Beckham, mengirim bola dari kedalaman atau dari posisi mana pun,” ujarnya. Ia menyebut debut Hurtré bersama Prancis sangat baik dan yakin sang pemain punya peluang besar mengisi salah satu dari 26 tempat di skuad Piala Dunia.

Apa artinya bagi Birmingham dan peta kekuatan WSL

Bagi Birmingham, keberhasilan mengubah pemain pinjaman yang sempat tersendat menjadi mesin gol di liga teratas adalah bukti bahwa jalur pengembangan yang sabar masih relevan. Klub promosi biasanya bergantung pada pemain berpengalaman untuk bertahan, tetapi Birmingham justru mengandalkan pemain muda yang sedang naik daun. Selama Hurtré produktif, tekanan pada lini serang tim berkurang dan gaya bermain mereka punya titik fokus yang jelas.

Dari sisi Hurtré, keputusan turun kasta ke divisi kedua pada 2025 menjadi pelajaran tersendiri tentang pentingnya menit bermain. Di PSG ia belajar dari pemain sekelas Formiga, tetapi belajar tanpa kesempatan tampil secara rutin. Di Dijon dan Bordeaux ia sempat terhambat cedera, sebelum akhirnya menemukan ritme di Inggris. Pola karier seperti ini kian umum di sepak bola putri Eropa, ketika klub-klub besar memilih meminjamkan pemain mudanya agar berkembang lebih cepat.

Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah bagaimana Hurtré menjaga konsistensi di paruh kedua musim. Liga yang lebih ketat akan menguji bukan hanya kaki kirinya, tetapi juga kemampuan bertahan dan stamina yang dulu menjadi kelemahannya. Jika ia mampu mempertahankan angka gol dan assist, posisinya di skuad Prancis untuk turnamen besar akan semakin sulit digeser.

Kesimpulan

Perjalanan Océane Hurtré dari debut sebagai remaja 16 tahun di PSG hingga menjadi salah satu pencetak gol terbanyak WSL menunjukkan bahwa bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan keberanian mengambil risiko, kesabaran melewati masa pinjaman dan cedera, serta kerja keras di luar lapangan yang jarang terlihat publik. Birmingham menjadi tempat ia menyatukan semua bekal itu, dan hasilnya terasa bagi klub maupun timnas Prancis.

Kini yang tersisa adalah pembuktian jangka panjang: menjaga performa, mengamankan tempat di skuad Piala Dunia, dan terus mengasah sisi fisik yang dulu jadi catatan para pelatihnya. Jika semua itu berjalan, julukan sebagai pemain yang bisa melakukan apa yang Beckham lakukan bukan lagi sekadar pujian, melainkan standar yang ia penuhi sendiri.