Pratinjau Sunderland Premier League: Ujian Kedua Le Bris

Pratinjau Sunderland Premier League musim 2026-27 kali ini mengangkat satu pertanyaan besar: akankah tim asuhan Régis Le Bris mampu membuktikan bahwa finis ketujuh musim lalu bukan sekadar keberuntungan? Sunderland kini bersiap tampil di kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sejak petualangan singkat di Piala Winners pada 1973-74. Status anyar sebagai kontestan Liga Europa sekaligus menjadi ujian terhadap konsistensi dan kedalaman skuad The Black Cats.

Para penulis Guardian memprediksi Sunderland akan finis di peringkat ke-14 musim ini, sebuah koreksi wajar setelah performa di atas ekspektasi musim lalu. Namun banyak pula analis yang mengingatkan bahwa statistik XG Sunderland musim lalu sebenarnya mirip tim degradasi. Perlu dicatat, klub kehilangan enam pemainnya saat Piala Afrika pada musim dingin, dan tidak ada satu pun pemain kunci yang dijual pada bursa musim panas ini.

Pratinjau Sunderland Premier League: Kinerja Musim Lalu

Sunderland menutup musim 2025-26 di peringkat ketujuh, pencapaian yang nyaris tidak ada yang memperkirakan ketika mereka promosi dari Championship melalui jalur playoff. Le Bris, yang membawa timnya juara playoff Championship 2025, langsung membuktikan diri mampu bersaing di level tertinggi sejak awal musim. Dua kemenangan liga atas Newcastle United semakin mempermanis catatan musim perdana pelatih asal Prancis itu.

Sepanjang perjalanan, Le Bris bahkan disebut “memarkir tanknya di halaman depan Newcastle” berkat kemenangan ganda atas rival sekota tersebut. Padahal, pria 50 tahun yang gemar berselancar di pantai Brittany ini baru menangani tim utama sejak 2022. Sebelumnya, ia menghabiskan satu dekade sebagai pelatih muda yang sangat dihormati di Lorient.

Faktor Granit Xhaka dan Kualitas Skuad

Kunci ketenangan Sunderland musim ini adalah keputusan Granit Xhaka bertahan di Stadium of Light. Kapten tim asal Swiss itu sempat menjadi incaran serius Chelsea, namun akhirnya memilih kembali menjalani hidup di Sunderland. Kehadirannya di lini tengah menjadi fondasi bagi permainan tim yang mengandalkan penguasaan bola.

Selain Xhaka, skuad Sunderland dihiasi sejumlah pemain berkualitas tinggi:

  • Enzo Le Fée, gelandang serang favorit penggemar;
  • Chris Rigg, Robin Roefs, dan Noah Sadiki, trio muda berbakat;
  • Nordi Mukiele yang tangguh di lini belakang;
  • Brian Brobbey, centre-forward bertipe kuat yang enggan ditandai siapa pun.

“Kami tumbuh bersama,” ujar Le Bris. “Kami sudah menunjukkan bahwa tim ini kuat.” Semangat itulah yang diharapkan mampu membawa The Black Cats melewati padatnya jadwal musim ini.

Tantangan Bermain Kamis Malam

Le Bris mengakui bahwa bermain di Liga Europa dengan jadwal Kamis malam akan menjadi tantangan tersendiri bagi klub yang baru bermain di League One pada 2022. Namun ia menegaskan, pengalaman ini harus dinikmati, bukan ditakuti. Kedalaman skuad yang fleksibel dengan banyak pemain serbabisa menjadi modal penting menghadapi padatnya jadwal.

Sunderland musim lalu kehilangan enam pemain saat Piala Afrika, sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya rotasi. Kini dengan jadwal tambahan di Eropa, manajemen dituntut cermat mengatur kebugaran pemain. Kabar baiknya, semangat tim disebut sangat solid dan pramusim berjalan meyakinkan.

Di Balik Lapangan: Kepemilikan dan Arah Komersial Baru

Sunderland mayoritas dimiliki oleh pengusaha Swiss-Prancis berusia 29 tahun, Kyril Louis-Dreyfus, putra mendiang pemilik Marseille, Robert Louis-Dreyfus. Ia memegang 64 persen saham, sementara pengusaha sekaligus politikus asal Uruguay, Juan Sartori, memegang 36 persen sisanya. Hubungan erat antara Le Bris dan direktur sepak bola Florent Ghisolfi turut menjaga stabilitas di dalam lapangan.

Namun setahun terakhir membawa banyak perubahan di luar lapangan, dengan sejumlah eksekutif kunci diganti seiring strategi komersial yang mengarah ke pasar internasional. Tim melakukan tur ke Amerika Serikat pada musim panas ini, sementara upaya pemasaran juga difokuskan ke Afrika. Kesepakatan sponsor di bagian depan jersey dengan Visit Ghana, yang disebut menguntungkan namun kontroversial, hampir final.

Hubungan antara pemilik dan penggemar sempat diwarnai kecurigaan ketika Louis-Dreyfus mengambil alih pada 2021, namun kini ia telah mendapatkan kepercayaan suporter. Para pendukung terkesan dengan langkahnya menghubungi Xhaka dan meyakinkan kapten Swiss itu bergabung dari Bayer Leverkusen musim panas lalu. Di sisi lain, kebijakan corporate hospitality yang meningkat dan skema keanggotaan baru yang memicu perdebatan membuat sebagian pemegang musiman terpolarisasi.

Rekrutan Senior dan Satu Nama Muda

Thomas Meunier menjadi satu-satunya rekrutan Sunderland pada bursa musim panas ini, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Bek kanan asal Belgia berusia 34 tahun itu datang dengan status bebas transfer dari Lille, setelah tahun lalu upaya merebutnya gagal. Dengan 83 caps bersama Belgia dan pengalaman membela Paris Saint-Germain serta Borussia Dortmund, Meunier diharapkan menjadi pemimpin di Liga Europa.

Situasi ini kontras dengan musim lalu ketika Sunderland mendatangkan 14 wajah baru, dan setidaknya dua rekrutan lagi diharapkan tiba sebelum bursa ditutup. Meunier akan bersaing dengan Mukiele dan Trai Hume untuk posisi bek kanan. Sementara itu, nama Tom Proctor layak dipantau: remaja 17 tahun putra pelatih tim utama dan mantan penyerang Michael Proctor itu bergabung dengan akademi Sunderland pada usia enam tahun. Ia ikut dalam tur pramusim ke AS dan berpeluang menjalani debut kompetitifnya musim ini.

Statistik XG dan Dampak Piala Dunia

Jika pertandingan ditentukan oleh metrik expected points Opta, Sunderland seharusnya terdegradasi musim lalu. Kenyataannya, mereka justru bersiap tampil di Liga Europa setelah finis 11 posisi lebih tinggi dari yang ditunjukkan angka XG. Ini adalah selisih terbesar antara performa statistik dan hasil akhir dibanding tim mana pun di lima liga top Eropa.

Sunderland juga mencatatkan kehadiran 12 pemain di Piala Dunia, lebih banyak dari Real Madrid. Wilson Isidor mencetak gol pertama Haiti di Piala Dunia sejak 1974, sementara Brobbey tiga kali membobol gawang lawan untuk Belanda. Bergabungnya Meunier, yang membela Belgia di turnamen tersebut, semakin mempertegas ambisi klub di panggung global.

Sunderland musim ini berada di persimpangan: antara membuktikan bahwa statistik tidak selalu berbicara atau justru menegaskan bahwa XG adalah alarm yang tidak bisa diabaikan. Dengan Xhaka yang setia, skuad yang percaya diri, dan rekrutan berpengalaman seperti Meunier, mereka punya modal untuk bersaing di papan tengah sambil menikmati panggung Eropa. Prediksi peringkat ke-14 dari Guardian mungkin terdengar realistis, tetapi tim asuhan Le Bris terbiasa melampaui ekspektasi.

Pratinjau Newcastle 2026-27: Era Baru Jaissle Setelah Howe

Newcastle United memasuki musim 2026-27 dengan skuad yang nyaris tidak bisa dikenali lagi. Pratinjau Newcastle 2026-27 ini dimulai dari fakta besar: Eddie Howe telah mengundurkan diri, dan Matthias Jaissle kini memegang kendali sebagai pelatih kepala. Klub yang musim lalu finis ke-12 ini bahkan sudah dijuluki “Newcastle 2.0” oleh direktur eksekutifnya sendiri, David Hopkinson.

Perombakan ini terjadi bukan tanpa alasan. Newcastle menyelesaikan musim lalu di peringkat ke-12, jauh dari ekspektasi, lalu kehilangan tiga pemain terbaik mereka di bursa musim panas: Anthony Gordon dilepas ke Barcelona, Sandro Tonali ke Tottenham, dan Bruno Guimarães ke Arsenal. Bahkan, rata-rata prediksi para penulis Guardian menempatkan Newcastle di peringkat ke-17 musim ini, sebuah sinyal betapa rendahnya ekspektasi terhadap klub. Hopkinson menyebut momen ini sebagai “momen perubahan” yang menjadi penanda penting, sekaligus peringatan bahwa target harus segera disesuaikan — tidak ada lagi pembicaraan tentang Eropa, dan finis di 10 besar saja sudah dianggap prestasi yang luar biasa.

Pratinjau Newcastle 2026-27: Perombakan Besar-besaran di Musim Panas

Tantangan terbesar Jaissle berasal dari kenyataan bahwa ia belum pernah melatih di Inggris, apalagi di Premier League. Pelatih asal Jerman berusia 38 tahun itu sebelumnya menorehkan hasil bagus di Austria dan Arab Saudi, tetapi gaya sepak bolanya belum pernah diuji di liga paling kompetitif di dunia. Kondisi itu diperumit oleh keputusan klub melepas tiga pemain terbaiknya dalam satu jendela transfer, sebuah langkah yang diambil untuk menyehatkan keuangan tim.

Ross Wilson, direktur olahraga Newcastle, kini bekerja keras menurunkan rata-rata usia skuad secara signifikan. Empat dari lima pemain pertama yang direkrut pada musim panas ini masih berusia 20 tahun ke bawah, bukti nyata kebijakan baru yang diambil klub. Hopkinson pun terus mengulang istilah “Newcastle 2.0” untuk menggambarkan babak baru yang sedang dibangun nyaris dari nol.

Menariknya, tidak ada seorang pun di dalam klub yang berani menyebut target Eropa. Jaissle berulang kali menegaskan bahwa timnya sedang berada dalam periode transisi, dan keberhasilan musim ini kemungkinan besar ditentukan oleh kemampuannya melakukan apa yang gagal dilakukan Howe musim lalu: memaksimalkan potensi Yoane Wissa dan Nick Woltemade. Kabar baiknya, Wissa tampil impresif sepanjang pramusim, sementara tiga rekrutan anyar lain — Bazoumana Touré, Aladji Bamba, dan Sean Steur — juga tidak terlihat asing dengan ritme permainan tim.

Latar Belakang: Akhir Era Howe dan Awal Kepemimpinan Jaissle

Kepergian Eddie Howe menutup hampir lima tahun kepemimpinan yang sebagian besar berjalan sukses di Newcastle. Howe datang ke St James’ Park saat tim sedang terpuruk, lalu membangun skuad yang mampu bersaing di papan atas dan tampil di kompetisi Eropa. Namun, hasil mengecewakan musim lalu membuat perubahan di kursi pelatih menjadi tak terhindarkan.

Matthias Jaissle datang dengan reputasi sebagai pelatih yang haus gelar. Di RB Salzburg dan Al-Ahli, ia membuktikan diri sebagai pemenang, termasuk mempersembahkan dua gelar Liga Champions Asia dalam tiga tahun di Arab Saudi. Hopkinson bahkan menyebutnya “bintang rock”, sementara sang pelatih sendiri menggambarkan dirinya sebagai penganut berat permainan pressing.

Ketika ditanya soal gaya bermain yang ia sukai, Jaissle menjawab tegas: “Menyerang, agresif, vertikal, bertenaga tinggi, intens, dan tanpa henti.” Ia bukanlah orang baru dalam sepak bola modern — semasa bermain, ia pernah digembleng Thomas Tuchel di tim muda Stuttgart dan Ralf Rangnick di Hoffenheim. Karier bermainnya sebagai bek tengah terhenti di usia pertengahan 20-an akibat cedera lutut serius, yang kemudian mengarahkannya ke dunia kepelatihan sejak menjadi asisten di Leipzig. Para penggemar Newcastle pun sudah bersenandung “Oh Jaissle, I can boogie” untuk menyambut kedatangannya.

Kondisi Keuangan Newcastle: Menjual Bintang demi Menyehatkan Neraca

Di atas kertas, Newcastle adalah klub terkaya di dunia sepak bola karena mayoritas sahamnya dimiliki oleh Public Investment Fund (PIF) asal Arab Saudi. Namun, aturan pengeluaran di sepak bola dibuat berdasarkan keseimbangan antara biaya skuad dan pendapatan komersial, dan pendapatan Newcastle hanya sekitar separuh dari pendapatan sejumlah rival utamanya. Itulah sebabnya klub tidak bisa seenaknya membelanjakan kekayaan pemiliknya.

Setelah melanggar regulasi pengendalian biaya Eropa, Newcastle kini menjalani “perjanjian penyelesaian” selama tiga tahun dengan UEFA. Untuk menyeimbangkan buku keuangan, klub tidak hanya menjual Gordon, Tonali, dan Guimarães, tetapi juga menerapkan kebijakan merekrut pemain di bawah 25 tahun dengan banderol antara £20 juta hingga £40 juta. “Kami hidup di luar kemampuan, tetapi pada satu titik Anda harus membayar tagihan kartu kredit,” ujar Hopkinson menggambarkan kondisi klub.

Belum lagi, klub masih menunggu kepastian pembangunan pusat latihan baru di dekat bandara Woolsington, serta keputusan apakah akan membangun stadion baru atau merenovasi St James’ Park. Semua keputusan besar itu masih menggantung dan menambah ketidakpastian di sekitar klub. Sampai ada kejelasan dari pemilik, masa depan fasilitas Newcastle tetap menjadi tanda tanya besar.

Hubungan Pemilik dan Penggemar yang Semakin Rumit

Pandangan suporter terhadap PIF, yang memegang 85 persen saham Newcastle sementara keluarga Reuben memegang sisanya, sangat beragam. Di satu sisi ada kelompok tekanan NUFC Fans against Sportswashing yang secara konsisten menyoroti catatan hak asasi manusia Arab Saudi yang buruk. Di

Israel Resmi Cabut Dukungan untuk Gianni Infantino

Israel resmi cabut dukungan untuk Infantino dalam perebutan kursi presiden FIFA. Ketua Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA), Moshe Zuares, menyampaikan keputusan itu melalui surat resmi yang dikirim pada Selasa. Dengan demikian, Israel menjadi anggota FIFA terbaru yang secara resmi menarik dukungannya terhadap pencalonan kembali Gianni Infantino.

Keputusan ini diambil di tengah tekanan yang semakin besar terhadap kepemimpinan Infantino di FIFA, dan upaya untuk memaksanya mundur diperkirakan akan semakin intensif dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya, ia memecat Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, yang dikenal vokal mengkritik rencana penjualan saham Piala Dunia. Karena IFA telah menjadi anggota UEFA sejak 1994 dan Zuares duduk di komite eksekutif UEFA, langkah Israel ini dinilai sebagai indikasi kuat bahwa kekecewaan terhadap Infantino semakin meluas di kubu Eropa.

Israel Cabut Dukungan untuk Infantino Lewat Surat Resmi IFA

Dalam surat yang telah dilihat oleh Guardian, Zuares menyebut bahwa peristiwa-peristiwa terkini telah memicu “krisis kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya” antara visi UEFA dan FIFA dalam hal tata kelola sepak bola global. Ia juga menegaskan bahwa keretakan ini bersifat “mendalam, substansial, dan berprinsip”, yang mendorong semua pemangku kepentingan untuk meninjau ulang arah ke depan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi FIFA bukan sekadar perbedaan teknis, melainkan menyangkut fondasi etika dan arah organisasi.

Zuares mengonfirmasi bahwa keputusan tersebut diambil secara bulat setelah IFA menggelar pertemuan dewan. “Kami tidak punya pilihan selain mencabut surat dukungan kami sebelumnya, dengan harapan tulus bahwa dialog yang produktif di antara semua pihak pada akhirnya akan memulihkan visi dan arah yang tepat bagi sepak bola dunia,” demikian bunyi pernyataan Zuares. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut bukanlah langkah yang diambil dengan ringan, melainkan konsekuensi logis dari situasi yang berkembang di tubuh FIFA.

Keputusan Israel ini menjadi pukulan tersendiri bagi Infantino, yang selama ini berupaya keras membangun hubungan baik dengan Palestina. Ia telah menginvestasikan banyak modal politik untuk memperbaiki hubungan olahraga antara Israel dan Palestina. Namun, langkah IFA yang justru berseberangan dengan arah kebijakan Infantino menunjukkan bahwa upaya diplomatik tersebut belum cukup untuk meredam ketidakpuasan yang berkembang.

Kronologi: Pemecatan Kevin Lamour dan Rencana Penjualan Piala Dunia

Krisis ini bermula dari pemecatan Kevin Lamour dari posisinya sebagai Kepala Operasional FIFA. Lamour diketahui sangat kritis terhadap proposal Fifa Forward Enterprise (FFE) yang digagas Infantino, yaitu rencana untuk membawa investasi swasta ke dalam Piala Dunia. Pemecatan itu dikonfirmasi pada Senin malam, tidak lama setelah Lamour melontarkan pernyataan yang berbunyi seperti firasat.

“Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, maka biarlah,” ujar Lamour dalam pernyataannya pada 31 Juli. “Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini.” Pernyataan tersebut kini terbukti menjadi ramalan yang tepat, karena hanya berselang beberapa hari kemudian ia resmi didepak dari FIFA.

Sebelumnya, pada kongres FIFA bulan April di Vancouver, Infantino juga sempat mencoba menggelar sesi foto yang melibatkan delegasi Israel dan Palestina. Namun, upaya itu gagal karena Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, menolak berdiri berdampingan dengan Wakil Presiden IFA, Basim Sheikh Suliman. Meski mengalami kegagalan, Infantino tetap berencana mempertemukan Israel dan Palestina dalam pertandingan pertama turnamen baru U-15 di Amerika Serikat pada bulan depan, sebagaimana dilaporkan Guardian pada Juni.

Gelombang Penarikan Dukungan dari Anggota UEFA

Langkah Israel ini sejalan dengan keputusan sejumlah anggota UEFA lain yang lebih dulu menarik dukungannya terhadap Infantino. Intervensi Israel ini menggema dari penarikan dukungan yang dilakukan oleh empat asosiasi sepak bola Eropa sebelumnya. Beberapa negara yang telah mengambil sikap serupa antara lain:

  • Inggris
  • Wales
  • Skotlandia
  • Republik Irlandia

Laura McAllister, mantan pemain tim nasional wanita Wales yang kini menjabat anggota komite eksekutif UEFA, ikut mengkritik keputusan FIFA memecat Lamour. McAllister, yang merupakan salah satu dari lima wakil presiden UEFA dan pernah bekerja bersama Lamour sebelum ia pindah ke FIFA pada 2024, menyebut pemecatan itu “mengirim pesan yang sangat meresahkan”. Ia menilai tindakan tersebut menimbulkan keraguan besar atas upaya FIFA untuk memperbaiki diri setelah skandal FFE.

“Selama peristiwa memalukan dalam beberapa pekan terakhir, ia menunjukkan dirinya sebagai pembela yang berani bagi para pemangku kepentingan terpenting dalam sepak bola,” kata McAllister dalam pernyataannya. “Pemecatan Kevin secara serius melemahkan administrasi FIFA, sekaligus merusak kesempatan unik untuk mengubah budaya di FIFA dan menata ulang organisasi ini di atas nilai-nilai olahraga, bukan sekadar nilai komersial dan finansial.” Ia juga menegaskan bahwa FIFA bukanlah sang presiden, melainkan seluruh keluarga sepak bola, dan sepak bola dunia membutuhkan pemimpin yang kuat, berprinsip, dan independen yang berani bersuara, mengkritik saat diperlukan, serta teguh memegang nilai-nilai mereka.

CEO Premier League: FIFA Menekan Tombol Self-Destruct

Kritik tajam juga datang dari Richard Masters, Chief Executive Premier League. Dalam wawancaranya dengan BBC, Masters menilai bahwa Infantino telah menekan “tombol self-destruct” melalui rencana kontroversialnya untuk membawa investasi swasta ke Piala Dunia. Menurutnya, FIFA menciptakan masalah ini sendiri dan kini harus menanggung konsekuensinya.

“Ini adalah masalah yang diciptakan oleh FIFA sendiri,” ujar Masters. “Ini adalah luka yang ditimbulkan sendiri. Organisasi ini telah menekan tombol self-destruct, dan konsekuensinya kini mengalir ke dalam solusi-solusi yang perlu ditemukan.” Masters juga menegaskan bahwa FIFA seharusnya tidak pernah berpikir untuk menjual sebagian saham Piala Dunia, mengingat status FIFA sebagai organisasi nirlaba.

“Mereka seharusnya memegang kompetisi itu sebagai amanah untuk masa depan sepak bola,” tambah Masters. Pernyataan ini mempertegas bahwa kekhawatiran terhadap arah kebijakan Infantino tidak hanya datang dari dalam struktur FIFA, tetapi juga dari kompetisi domestik paling bergengsi di dunia. Sebagai liga yang disaksikan jutaan penggemar di berbagai negara, sikap Premier League tentu memiliki bobot tersendiri dalam percaturan sepak bola global.

Kesimpulan: Masa Depan Infantino di Ujung Tanduk

Penarikan dukungan dari Israel menambah panjang daftar anggota FIFA yang kecewa dengan kepemimpinan Gianni Infantino. Ditambah dengan pemecatan Kevin Lamour dan kritik dari berbagai pihak, tekanan terhadap presiden FIFA itu kini semakin sulit untuk diabaikan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Infantino dapat mempertahankan kursinya, melainkan seberapa besar kerusakan yang harus diperbaiki sebelum kongres berikutnya digelar.

Dengan semakin banyaknya anggota UEFA yang menarik dukungan, masa depan kepemimpinan Infantino di FIFA berada di titik yang sangat genting. Apakah ia mampu meredam krisis ini atau justru semakin terisolasi, akan menjadi kisah yang terus menarik untuk diikuti. Yang jelas, sepak bola dunia sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan arah tata kelola organisasi untuk bertahun-tahun ke depan.

Transfer Rodri ke Barcelona, City Terima Tawaran £65,4 Juta

Transfer Rodri ke Barcelona semakin nyata setelah Manchester City menerima tawaran sebesar £65,4 juta dari Barcelona. Pemenang Piala Dunia berusia 30 tahun itu tinggal selangkah lagi melanjutkan kariernya di Camp Nou. Kabar ini menjadi perkembangan besar dalam saga transfer yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Rodri memasuki tahun terakhir kontraknya di Etihad Stadium dan sejak awal telah menyampaikan keinginannya untuk pindah ke Barcelona. Manchester City sebenarnya enggan melepas pemain kunci mereka, tetapi posisi mereka sangat sulit. Pasalnya, jika tidak dijual sekarang, City berisiko kehilangan gelandang internasional Spanyol itu dengan status bebas transfer pada musim panas tahun depan.

Manchester City Akhirnya Menerima Tawaran Barcelona untuk Rodri

Keputusan menerima tawaran ini diambil setelah City sebelumnya menolak dua proposal dari Barcelona. Pekan lalu, City menolak tawaran sekitar €60 juta atau setara £51 juta, yang diajukan setelah tawaran awal senilai €45 juta (£38,5 juta). Namun, tawaran terbaru sebesar £65,4 juta akhirnya membuat City luluh.

  • Tawaran awal Barcelona: €45 juta (£38,5 juta) – ditolak Manchester City.
  • Tawaran kedua Barcelona: sekitar €60 juta (£51 juta) – kembali ditolak pekan lalu.
  • Tawaran terbaru Barcelona: £65,4 juta – kini diterima Manchester City.

Dengan diterimanya tawaran ini, proses kepindahan Rodri ke Barcelona tinggal menunggu tahapan berikutnya. Pemain yang menjadi tulang punggung lini tengah City itu telah lama mengutarakan keinginannya bermain untuk Barcelona. Para penggemar kini menantikan pengumuman resmi dari kedua klub.

Transfer Rodri ke Barcelona: Alasan City Tak Bisa Menahan Kepergiannya

Situasi kontrak menjadi faktor utama di balik keputusan City melepas Rodri. Gelandang berusia 30 tahun itu hanya memiliki sisa kontrak satu musim lagi, sehingga nilai jualnya akan terus merosot seiring berjalannya waktu. City pun berada di posisi yang tidak menguntungkan karena tidak ingin kehilangan Rodri secara gratis pada musim panas berikutnya.

Manajer City, Enzo Maresca, sempat memberikan pujian tinggi kepada Rodri. Setelah City takluk 0-3 dari Arsenal pada laga Community Shield akhir pekan kemarin, Maresca menyebut Rodri sebagai pemain top dan menegaskan bahwa semua tim membutuhkan pemain seperti Rodri. Namun, pujian tersebut tidak cukup untuk mengubah niat Rodri yang tetap ingin pindah ke Barcelona.

Rodri baru kembali bergabung dengan skuad City pada hari Jumat setelah menjalani operasi punggung pasca-Piala Dunia. Maresca mengaku sempat memberikan pelukan hangat saat pertama kali bertemu dengan Rodri. Momen ini menunjukkan betapa tingginya nilai Rodri di mata tim, tetapi pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan pemain.

Rekam Jejak Rodri yang Mengilap di Manchester City

Rodri telah menghabiskan tujuh musim bersama Manchester City dan memenangi banyak trofi bergengsi. Selama berseragam City, ia sukses mengangkat trofi Premier League sebanyak empat kali. Momen paling ikonik terjadi pada tahun 2023 ketika gol tunggalnya membawa City mengalahkan Inter Milan di final Liga Champions.

Setahun kemudian, Rodri dianugerahi penghargaan tertinggi individu sepak bola, Ballon d’Or. Namun, tak lama setelah menerima penghargaan tersebut, ia mengalami cedera ligamen anterior (ACL) yang membuatnya absen hampir sepanjang musim 2024-25. Cedera hamstring dan pangkal paha juga membatasi penampilannya hingga hanya tampil 33 kali pada musim terakhir Pep Guardiola menukangi City.

Rombak Total Lini Tengah Manchester City

Kepergian Rodri melengkapi daftar perubahan besar di lini tengah Manchester City pada bursa transfer musim panas ini. Sebelumnya, City telah menggelontorkan dana sebesar £116 juta untuk mendatangkan Elliot Anderson. Selain itu, mereka juga menyepakati penjualan Tijjani Reijnders ke Al Qadsiah.

Untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Rodri dan Bernardo Silva, City kini siap mengamankan tanda tangan Ayyoub Bouaddi dari Lille. Pemain muda asal Maroko itu tampil impresif di Piala Dunia, dan Lille awalnya menginginkan kesepakatan dengan klausul peminjaman 12 bulan kembali ke klub asal. Namun, dengan kehilangan dua gelandang sekaligus, Maresca ingin Bouaddi langsung tersedia untuk musim ini.

City juga dikaitkan dengan Enzo Fernández dari Chelsea dan masih mempertahankan minat terhadap gelandang asal Argentina tersebut. Jika semua rencana ini terealisasi, lini tengah City akan tampil dengan wajah yang jauh berbeda musim depan. Maresca tampaknya ingin memastikan kedalaman skuad tetap terjaga setelah dua pilar utamanya hengkang.

Kepindahan Rodri ke Barcelona menjadi salah satu saga transfer terbesar pada bursa musim panas ini. Di usia 30 tahun, Rodri masih punya kualitas kelas dunia, sementara Barcelona mendapatkan sosok pemimpin lini tengah yang sudah teruji di level tertinggi. Di sisi lain, Manchester City harus bergerak cepat untuk memastikan regenerasi lini tengah mereka berjalan mulus.

Dengan dana segar dari penjualan Rodri, City memiliki modal besar untuk memburu target-target anyar di sisa bursa transfer. Kini semua mata tertuju pada kelanjutan proses transfer ini serta langkah City dalam memperkuat skuad menghadapi musim baru. Yang pasti, Rodri meninggalkan warisan besar di Manchester.

Matthias Jaissle Newcastle: Optimis Meski Kalah Uji Coba

Pelatih Matthias Jaissle Newcastle tetap menunjukkan sikap optimistis meski anak asuhnya harus menelan kekalahan 2-1 dari Bayer Leverkusen dalam laga uji coba di St James’ Park. Lebih dari 39.000 penonton hadir menyaksikan pertandingan pada Sabtu itu, dan banyak dari mereka pulang dengan perasaan campur aduk. Kekalahan dari Leverkusen memang terasa kurang memuaskan, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah kesiapan tim menjelang laga Premier League melawan Liverpool pada Minggu berikutnya.

Kekalahan ini terjadi di tengah masa transisi berat yang sedang dilalui Newcastle. Tim asal timur laut Inggris itu baru saja kehilangan Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimarães pada bursa musim panas ini, sementara Eddie Howe hengkang secara mendadak pada akhir Juli. Matthias Jaissle, pelatih asal Jerman berusia 38 tahun yang sebelumnya menangani Al-Ahli di Jeddah, kini dipercaya untuk menyatukan kembali skuad yang sedang berada dalam masa peralihan.

Kekalahan yang Tetap Menyimpan Hal Positif

Leverkusen sebenarnya tampil tanpa mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tetapi mereka tetap mampu merebut kemenangan di hadapan pendukung tuan rumah. Newcastle tertinggal sejak menit pertama ketika Ibrahim Maza melepaskan tembakan kaki kiri dari dalam kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper baru Newcastle, Lukas Hornicek. Meski ini hanya laga persahabatan, Jaissle yang biasanya tampil percaya diri tetap terlihat sedikit kecewa dengan gol cepat tersebut.

Namun, Jaissle punya alasan untuk tersenyum setelah timnya bermain semakin baik sepanjang babak pertama. Tertinggal lebih dulu, Newcastle berhasil menyamakan kedudukan menjelang turun minum melalui sundulan Malick Thiaw yang memanfaatkan sepak pojok Anthony Elanga. Jaissle menyambut gol tersebut dengan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasinya terhadap peningkatan permainan anak buahnya.

Babak kedua berjalan lebih ketat, dan Leverkusen akhirnya memastikan kemenangan lewat gol Victor Boniface. Penyerang asal Nigeria itu dengan cekatan memutar badan untuk melewati Sean Steur sebelum menuntaskan peluang dengan tembakan mendatar di penghujung laga. Leverkusen pun tampil lebih berbahaya setelah memasukkan Patrik Schick di babak kedua, sementara Newcastle masih kesulitan mengembangkan serangan yang efektif.

Matthias Jaissle Newcastle dan Misi Menggantikan Eddie Howe

Laga melawan Leverkusen ini menjadi pertandingan pertama Matthias Jaissle Newcastle di St James’ Park, dan hasilnya tentu bukan awal yang ideal. Pada akhir tahun lalu, kedua tim ini sempat bermain imbang di fase grup Liga Champions, tetapi keadaan sejak saat itu berubah drastis. Leverkusen berhasil merombak skuad transisi mereka dengan lebih baik, sementara Newcastle justru membongkar tim yang mereka miliki.

Jaissle sendiri mengakui betapa beratnya tugas yang ia emban. “Ini tantangan besar. Ini transisi besar,” ujarnya seusai pertandingan. Meski begitu, pelatih asal Jerman itu menunjukkan gestur gelisah di sepanjang laga, bahkan kerap keluar dari batas area teknis hingga menjadi perhatian ofisial pertandingan, yang menggambarkan betapa ia ingin segera melihat timnya menemukan ritme terbaik.

Mason Miley Jadi Temuan Menarik di Lini Belakang

Salah satu hal yang paling menonjol dari laga ini adalah penampilan Mason Miley yang baru berusia 17 tahun. Adik dari Lewis Miley itu tampil sebagai bek kanan dan berhasil merepotkan Miguel Gutiérrez dari Leverkusen sepanjang pertandingan. Produk akademi Newcastle tersebut bahkan menjadi kandidat kuat untuk mengisi pos bek kanan saat menghadapi Liverpool, apalagi Tino Livramento sedang dibekap cedera betis.

Jaissle memberikan pujian khusus kepada Mason yang terpincang-pincang keluar lapangan karena kram pada babak kedua. “Mason adalah pemain muda dengan sikap yang kami butuhkan; dia punya hati yang tepat dan kualitas yang tepat,” kata Jaissle. Pujian ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelatih asal Jerman tersebut tidak ragu memberi kepercayaan kepada pemain muda yang layak tampil.

Di sisi lain, Lewis Miley juga tampil untuk pertama kalinya sejak mengalami patah kaki pada musim semi lalu. Ia terlihat solid di lini tengah dan menunjukkan kepercayaan diri seperti biasanya. Sementara itu, Dan Burn tetap akan menjadi kapten Newcastle dengan Joelinton sebagai wakilnya, meski Joelinton dipastikan absen melawan Liverpool karena cedera. Burn sendiri tidak diturunkan dalam laga ini karena Jaissle membagi skuadnya menjadi dua tim untuk menghadapi dua laga uji coba di akhir pekan yang sama.

Pekerjaan Rumah Besar di Lini Tengah

Selain masalah bek kanan, Newcastle juga menghadapi kekosongan besar di lini tengah setelah kepergian Tonali dan Guimarães. Sean Steur yang baru berusia 18 tahun memang menunjukkan beberapa sentuhan apik, tetapi pemain jebolan akademi Ajax itu masih kerap memperlihatkan kurangnya pengalaman. Ia bahkan menjadi korban kegesitan Boniface saat gol kemenangan Leverkusen tercipta.

Newcastle jelas membutuhkan sosok yang lebih matang untuk mengisi kekosongan tersebut, tetapi upaya mereka menemui banyak hambatan. Beberapa nama telah dikaitkan dengan klub, namun belum ada satu pun yang benar-benar pasti bergabung.

  • Pierre-Emile Højbjerg dari Marseille dikabarkan menolak tawaran senilai 13 juta poundsterling untuk pindah ke tim asal timur laut Inggris itu.
  • João Palhinha masih belum bisa diyakinkan untuk meninggalkan Bayern Munich demi mengisi kekosongan kepemimpinan di lini tengah Newcastle.
  • Amar Dedic dari Benfica kabarnya semakin dekat dengan kepindahan ke Tyneside; bek berusia 23 tahun yang bisa bermain di kanan maupun kiri itu sebelumnya pernah bekerja sama dengan Jaissle di RB Salzburg.

Setelah urusan bek kanan selesai, perhatian Newcastle dipastikan akan beralih sepenuhnya ke lini tengah. Kepergian Tonali dan Guimarães meninggalkan lubang besar yang tidak bisa ditambal hanya dengan mengandalkan pemain muda. Kehadiran sosok berpengalaman menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.

Liverpool, Ujian Pertama yang Sesungguhnya

Kedatangan Liverpool ke St James’ Park pada pekan depan akan menjadi ujian pertama yang sesungguhnya bagi era Jaissle di Premier League. Dibandingkan Leverkusen yang juga baru dilatih Carles Martínez, Newcastle masih terlihat belum matang dan butuh waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya. Apalagi lawan yang dihadapi adalah tim sekelas Liverpool yang tentu tidak bisa dianggap remeh.

Namun, Jaissle menegaskan bahwa dirinya tidak khawatir menghadapi tantangan tersebut. “Kami akan melakukan yang terbaik,” ujarnya, sebelum kemudian berubah lebih optimistis. “Kami akan terus menggunakan hal-hal positif. Saya suka tantangan ini. Kami tidak khawatir. Saya tidak sabar.”

Ada beberapa catatan yang bisa menjadi modal berharga bagi Newcastle, seperti penampilan Thiaw, Elanga, dan Wissa yang tampak lebih bersemangat di bawah arahan Jaissle. Namun, pelatih asal Jerman itu masih perlu mencari cara untuk membangkitkan potensi Nick Woltemade yang belum sepenuhnya keluar. Jika ingin bersaing dengan Liverpool, Newcastle butuh peningkatan signifikan dalam waktu singkat.

Secara keseluruhan, kekalahan dari Leverkusen memang menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi Matthias Jaissle dan Newcastle. Namun, sikap positif sang pelatih serta munculnya pemain muda seperti Mason Miley memberikan secercah harapan di tengah masa transisi yang penuh ketidakpastian. Dukungan penuh dari pendukung di St James’ Park bisa menjadi energi tambahan yang dibutuhkan tim untuk bangkit.

Pertandingan melawan Liverpool akan menjadi barometer sejauh mana Newcastle mampu beradaptasi dengan era baru ini. Jika Jaissle berhasil meramu tim dengan baik, bukan tidak mungkin Newcastle tetap kompetitif musim ini. Namun, jika tidak, perjalanan musim ini bisa menjadi ujian yang jauh lebih berat bagi tim berjuluk The Magpies itu.

FSG Jual 30% Saham Liverpool kepada Konsorsium Jeff Bezos

Rincian Kesepakatan FSG Jual Saham Liverpool ke Konsorsium 1892

Fenway Sports Group (FSG), pemilik Liverpool, resmi mengonfirmasi penjualan 30 persen saham klub kepada konsorsium 1892 Holdings yang melibatkan Amit Bhatia, pendiri Amazon Jeff Bezos, dan salah satu pendiri Facebook Eduardo Saverin. Nilai kesepakatan ini dipahami mencapai 1,65 miliar pound sterling, yang menempatkan valuasi Liverpool di angka 5,5 miliar pound. Sebagai bagian dari transaksi, Bhatia akan menduduki kursi wakil ketua di jajaran direksi klub yang diperluas.

Kesepakatan ini menyedot perhatian karena menghadirkan deretan nama besar dari dunia bisnis dan teknologi global ke dalam salah satu klub paling bersejarah di Inggris. Bhatia, menantu raja baja asal India Lakshmi Mittal, adalah tokoh yang menggagas sekaligus memimpin negosiasi dengan FSG atas nama konsorsium 1892 Holdings, nama yang merujuk pada tahun berdirinya Liverpool pada 1892. Langkah ini dinilai menjadi sinyal bahwa Liverpool ingin melebarkan sayap komersial ke pasar Asia dan India tanpa kehilangan kendali operasional dari FSG.

Dalam konsorsium 1892 Holdings, Bhatia mendapatkan dukungan finansial dari sejumlah pihak besar. Beberapa di antaranya adalah Mittal Family Trust, dana keluarga Lakshmi Mittal, serta K5 Sports, dana investasi yang menjadikan Jeff Bezos sebagai lead investor. Ada pula EE Capital, family office milik Elaine dan Eduardo Saverin, yang ikut mendanai konsorsium ini.

  • Mittal Family Trust — dana keluarga yang berafiliasi dengan konglomerat baja Lakshmi Mittal;
  • K5 Sports — dana investasi dengan Jeff Bezos sebagai lead investor;
  • EE Capital — family office milik Elaine dan Eduardo Saverin.

Selain Bhatia yang akan menjadi wakil ketua, Elaine Saverin dan Bryan Baum, salah satu pendiri sekaligus managing partner K5 Global, juga akan bergabung ke jajaran direksi Liverpool. Jeff Bezos sendiri disebut hanya berperan sebagai investor pasif dan tidak mendapatkan kursi di dewan direksi. Seluruh proses investasi ini masih menunggu persetujuan regulasi yang diperkirakan memakan waktu hingga 90 hari.

FSG memastikan transaksi ini tidak akan mengubah anggaran transfer Liverpool pada bursa musim panas ini. Kepemimpinan dan operasional harian klub juga tetap berada di tangan FSG tanpa perubahan apa pun. Artinya, arah kebijakan klub dalam waktu dekat masih sepenuhnya dikendalikan FSG sebagai pemegang saham mayoritas.

Latar Belakang: Perjalanan FSG di Liverpool Sejak 2010

FSG menegaskan bahwa penjualan saham ini bukan bagian dari strategi untuk keluar dari Liverpool. Klub ini pertama kali diakuisisi FSG pada 2010 dengan nilai sekitar 300 juta pound, tepat setelah era kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett yang dinilai nyaris merusak klub. Sejak akuisisi tersebut, FSG memegang kendali penuh atas operasional Liverpool hingga saat ini.

Dalam kesepakatan kali ini, tidak ada kewajiban bagi FSG untuk menjual porsi saham tambahan kepada 1892 Holdings pada masa mendatang. Konsorsium Bhatia juga tidak diwajibkan untuk menambah kepemilikan mereka di luar kesepakatan awal. Meski begitu, konsorsium ini memiliki opsi untuk membeli lebih banyak saham Liverpool apabila FSG suatu saat memutuskan melepas klub sepenuhnya.

Dampak Investasi bagi Strategi dan Keuangan Liverpool

Kabar baiknya, investasi ini tidak akan menyentuh anggaran transfer Liverpool pada musim panas ini. Regulasi finansial Premier League dan UEFA yang mengaitkan belanja klub dengan pendapatan tahunan membuat suntikan dana ini juga tidak bisa langsung dimanfaatkan pelatih kepala Liverpool, Andoni Iraola. Namun dalam jangka panjang, peluang komersial dari keterlibatan Jeff Bezos dan Eduardo Saverin dinilai mampu mendorong pendapatan tahunan Liverpool tumbuh signifikan.

Liverpool sendiri baru saja mencatatkan rekor pendapatan tahunan sebesar 703 juta pound pada tahun fiskal yang berakhir Mei 2025. Dengan jaringan bisnis global yang dimiliki para investor baru, peluang memperbesar pendapatan lewat sponsor, kemitraan teknologi, hingga ekspansi pasar internasional menjadi semakin terbuka. Kombinasi ini dinilai akan memperkuat fondasi finansial klub untuk bersaing di level tertinggi.

Presiden FSG Mike Gordon menyatakan bahwa Liverpool selalu dibangun dengan pemikiran jangka panjang, bukan hanya mengejar hasil satu musim. “Pendekatan itu terus menarik minat investor dan pemimpin bisnis terhormat di seluruh dunia,” ujar Gordon. Menurutnya, Bhatia dan konsorsium memiliki filosofi yang sama dalam menghargai keistimewaan Liverpool, sehingga kerja sama ini diyakini akan saling melengkapi.

Alasan FSG Memilih Konsorsium Bhatia

FSG mengaku tertarik pada konsorsium Bhatia bukan karena kebutuhan finansial, melainkan karena susunan anggotanya yang dinilai strategis. Tim kepemimpinan FSG yang berisi principal owner John W Henry, ketua Tom Werner, dan presiden Mike Gordon menghabiskan hampir satu tahun untuk mengenal Bhatia sebelum menyetujui kerja sama ini. Mereka meyakini kesepakatan tersebut akan membuka peluang baru bagi Liverpool dalam bisnis global, teknologi, dan investasi, termasuk di pasar utama seperti India dan Asia.

Bhatia sendiri bukan pendatang baru dalam sepak bola Inggris. Ia terlibat di Queens Park Rangers (QPR) selama hampir 19 tahun dengan berbagai peran, mulai dari ketua klub hingga ketua community trust, sebelum akhirnya mengalihkan seluruh sahamnya pada Juli lalu. Pengalaman panjang itulah yang membuat Bhatia diprediksi tampil lebih sering di Anfield dibandingkan anggota konsorsium lain maupun pihak FSG.

Peran Jeff Bezos dan Prospek Liverpool ke Depan

Nama Jeff Bezos menjadi magnet terbesar dalam kesepakatan ini. Pria yang menempati posisi orang terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan 272 miliar dolar AS (sekitar 201 miliar pound) itu disebut hanya akan menjadi investor pasif. Sementara itu, Eduardo Saverin diperkirakan memiliki kekayaan 33 miliar dolar, dan keluarga Mittal berada di angka sekitar 17 miliar dolar.

Kehadiran para miliarder tersebut tidak mengubah posisi FSG sebagai pemegang saham mayoritas sekaligus pengendali operasional Liverpool. Bhatia, mewakili 1892 Holdings, menyampaikan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari Liverpool. “Kami sangat bangga berinvestasi di Liverpool Football Club bersama FSG. Kami memiliki rasa hormat dan kekaguman yang tinggi terhadap FSG sebagai pemilik atas segala yang telah mereka capai di Anfield,” ujarnya.

Ke depan, publik akan menanti bagaimana kolaborasi ini diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan prestasi di lapangan setelah persetujuan regulasi tuntas. Kombinasi reputasi global FSG dan jaringan bisnis para investor baru memberi Liverpool modal besar untuk melanjutkan ekspansi komersialnya. Sementara itu, opsi penambahan saham yang dimiliki konsorsium menjadi catatan menarik yang akan menentukan arah kepemilikan Liverpool dalam beberapa tahun ke depan.

Kesepakatan penjualan 30 persen saham Liverpool kepada konsorsium 1892 Holdings menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan klub di era modern. Nilai transaksi mencapai 1,65 miliar pound, dan masuknya investor seperti Jeff Bezos serta Eduardo Saverin memberikan warna baru bagi masa depan komersial Liverpool. Yang jelas, FSG tetap memegang kendali penuh, dan Liverpool kini punya modal besar untuk terus tumbuh tanpa

Manchester United Tak Belanja £100 Juta, Rashford Kembali

Michael Carrick menegaskan bahwa Manchester United tidak akan mengeluarkan dana hingga £100 juta untuk mendatangkan satu pemain pada bursa transfer musim panas ini. Kepastian tersebut disampaikan pelatih berusia 45 tahun itu di tengah keterbatasan keuangan yang tengah dihadapi klub. Carrick juga menegaskan bahwa Marcus Rashford tetap menjadi bagian dari skuad, meskipun baik pemain maupun klub sama-sama lebih menginginkan sang penyerang hengkang.

Pernyataan ini tentu menjadi perhatian besar bagi para pendukung Manchester United yang menantikan pergerakan klub di bursa transfer. Pasalnya, kondisi finansial yang sulit membuat The Red Devils tidak bisa bersaing dengan rival-rival terdekatnya dalam perburuan pemain bintang. Di sisi lain, kembalinya Rashford ke skuad utama pada akhir pekan kemarin menjadi perkembangan menarik setelah hubungannya dengan klub sempat memburuk hingga membuatnya harus menjalani masa peminjaman.

Manchester United Pastikan Tak akan Keluar Dana £100 Juta

Pada jendela transfer yang sedang berjalan, Manchester United sejauh ini telah mengucurkan dana sebesar £85 juta untuk mendatangkan Youri Tielemans dan Andrey Santos. Angka tersebut memang cukup besar, tetapi perlu dicatat bahwa klub belum pernah sekalipun mengeluarkan dana sebesar £100 juta untuk satu pemain dalam satu transaksi. Kebijakan ini jelas berbeda dengan lima klub lain dari jajaran enam besar tradisional Liga Inggris—Manchester City, Tottenham, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea—yang sudah terbiasa membelanjakan uang lebih dari £100 juta untuk memboyong pemain bintang.

Carrick kemudian ditanya bagaimana Manchester United bisa bersaing di tengah keterbatasan finansial tersebut. “Uang tetaplah uang, saya paham itu. Ini tetap tentang sepak bola dan di situlah persaingan berada,” ujar pelatih asal Inggris itu. “Apa yang kami rasakan secara alami sebagai sebuah tim adalah berusaha memenangkan pertandingan. Jadi ada banyak hal yang terlibat di dalamnya, tetapi tentu saja situasinya memang seperti apa adanya, entah itu soal finansial atau apa pun.”

Keterbatasan Finansial di Tengah Ambisi Besar Manchester United

Musim lalu, Carrick berhasil membawa Manchester United finis di peringkat ketiga klasemen Liga Inggris. Prestasi tersebut seharusnya membuka pintu pendapatan besar dari kompetisi Liga Champions, yang kemudian memicu pertanyaan mengapa dana tersebut tidak digunakan untuk membeli pemain elite dengan harga selangit. Namun, Carrick mengaku tidak memiliki jawaban pasti untuk persoalan tersebut.

“Sejujurnya, saya tidak punya jawaban untuk itu. Kami bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil terbaik dari situasi ini,” jelas Carrick. “Untuk saat ini, kami harus memanfaatkannya sebaik mungkin, mendorong segala hal di setiap batasan yang kami miliki supaya bisa menang lagi.” Pengakuan ini setidaknya menggambarkan betapa rumitnya situasi keuangan yang tengah dihadapi Manchester United musim panas ini.

Peluang Manchester United Juara Tanpa Pemain £100 Juta

Carrick juga mendapatkan pertanyaan apakah Manchester United mampu memenangkan gelar juara tanpa memiliki pemain dengan nilai transfer £100 juta atau lebih di dalam skuadnya. Menanggapi hal ini, pelatih yang pernah sukses sebagai gelandang Manchester United itu memberikan jawaban yang cukup realistis. Menurutnya, banyak faktor yang menentukan keberhasilan sebuah tim dalam meraih gelar, bukan hanya sekadar besaran nilai transfer pemain.

“Sedikit tergantung pada posisi apa yang dibutuhkan, apa yang Anda miliki, dan dinamika yang diperlukan pada titik-titik tertentu. Terkadang Anda memang membutuhkan itu jika pemainnya tepat. Sekali lagi, ini tidak murni soal uang,” ungkap Carrick. “Seiring waktu, jelas kami perlu terus berupaya untuk meningkatkan kualitas skuad. Jadi, ya, seratus persen kami harus melakukannya. Kami sudah melakukan transaksi yang sangat bagus, tetapi kami ingin lebih, kami butuh lebih, dan kami terus mencari cara untuk mewujudkannya.” Jawaban ini menunjukkan bahwa Carrick tetap berambisi memperkuat timnya meskipun tanpa belanja besar-besaran.

Marcus Rashford Kembali ke Skuad Manchester United

Marcus Rashford dilaporkan telah bergabung kembali dengan skuad Manchester United di kamp pelatihan County Kildare, Irlandia, pada hari Minggu setelah menjalani libur

Reformasi FIFA: Oposisi Infantino Siapkan Kerangka Baru

Reformasi FIFA kembali menjadi sorotan setelah para penentang Gianni Infantino dikabarkan tengah bahu-membahu menyusun kerangka baru untuk mengelola sepak bola dunia. Kerangka ini dimaksudkan untuk menggantikan apa yang mereka anggap sebagai sistem patronase yang mengakar di FIFA sejak Infantino menggantikan Sepp Blatter sebagai presiden satu dekade lalu. Dengan kata lain, ini adalah upaya serius untuk mengubah arah organisasi dari dalam sebelum terlambat.

Ketegangan ini memuncak setelah rencana Infantino menjual 21 persen saham Piala Dunia terungkap ke publik dua pekan lalu. Sebelumnya, UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sudah berulang kali menyerukan tinjauan independen atas tata kelola FIFA, tetapi seruan itu selalu diabaikan. Kini, ketiga konfederasi tersebut dikabarkan mengambil langkah sendiri dengan menyusun dokumen kebijakan bersama.

Reformasi FIFA: Tiga Konfederasi Rancang Dokumen Kebijakan

Sumber yang mengetahui jalannya diskusi mengungkapkan kepada The Guardian bahwa UEFA, Concacaf, dan AFC sedang menggarap dokumen kebijakan. Dokumen ini kelak akan menunjukkan bagaimana badan pengatur sepak bola dunia itu seharusnya berevolusi di masa depan. Inilah yang kemudian disebut sebagai kerangka baru untuk menggantikan model kepemimpinan FIFA saat ini.

Mereka yang terlibat dalam penyusunan dokumen diberi mandat luas untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan fundamental. Beberapa di antaranya adalah apa seharusnya peran FIFA yang paling tepat, bagaimana struktur organisasinya sebaiknya dibangun, dan model tata kelola apa yang layak diadopsi. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jarang sekali dibahas secara terbuka dalam sejarah FIFA modern.

Distribusi keuangan antar asosiasi anggota juga menjadi perhatian utama dalam rancangan ini. Ketiga konfederasi ingin memastikan bahwa dana dari cadangan FIFA yang diperkirakan mencapai US$5 miliar (sekitar £3,7 miliar) dapat dialokasikan dengan cara yang paling bermanfaat. Efisiensi dan transparansi menjadi kata kunci yang diusung dalam kerangka baru tersebut.

Latar Belakang Krisis: Warisan Patronase dan Rencana Jual Piala Dunia

Akar persoalan ini sebenarnya sudah tertanam sejak satu dekade lalu, ketika Infantino pertama kali mengambil alih kursi kepresidenan FIFA dari Sepp Blatter. Banyak pihak waktu itu berharap era baru akan membawa angin segar bagi tata kelola sepak bola dunia. Namun, sepuluh tahun berjalan, yang terjadi justru sebaliknya—sistem patronase yang selama ini dikritik dinilai tetap bertahan.

Kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi ketika rencana penjualan 21 persen saham Piala Dunia mencuat ke publik dua pekan lalu. Bagi para penentang, langkah ini adalah bukti nyata bahwa FIFA berjalan tanpa mekanisme pengawasan yang memadai. Alih-alih melibatkan konfederasi dalam pengambilan keputusan strategis, keputusan besar justru diambil secara sepihak.

UEFA, Concacaf, dan AFC sebenarnya sudah mencoba jalur diplomatik dengan meminta tinjauan independen terhadap tata kelola FIFA. Namun, permintaan tersebut tidak pernah mendapat tanggapan serius dari Infantino. Kondisi inilah yang akhirnya mendorong ketiga konfederasi untuk mengambil inisiatif sendiri.

Dampak: Boikot Turnamen dan Ancaman Organisasi Tandingan

Jika Infantino tetap menolak berdialog, kerangka baru tersebut kemungkinan besar akan diadopsi oleh calon penantang pada pemilihan presiden FIFA tahun depan. Bahkan, dokumen itu bisa saja menjadi cetak biru bagi organisasi tandingan yang memisahkan diri dari FIFA. Skenario terburuk ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah mulai dibicarakan secara serius di kalangan konfederasi.

Di level kompetisi, dampaknya sudah mulai terasa. Piala Dunia Wanita U-20 bulan depan berpotensi bergulir tanpa kehadiran tim-tim Eropa karena UEFA bersikeras anggotanya akan memboikot turnamen tersebut. Boikot ini akan dibatalkan hanya jika FIFA membentuk tinjauan independen atas kekacauan penjualan saham Piala Dunia dan memberikan jaminan yang mengikat secara hukum.

Setelah merilis pernyataan bersama pada Senin lalu, ketiga konfederasi juga mengisyaratkan telah memulai diskusi awal tentang penyelenggaraan kompetisi baru. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyerukan “kepemimpinan yang melayani sepak bola, bukan berusaha memerintahnya.” Jika kebuntuan dengan pimpinan FIFA terus berlanjut, bukan tidak mungkin kompetisi tandingan akan menjadi kenyataan.

Victor Montagliani: Calon Terkuat Penantang Infantino

Presiden Concacaf, Victor Montagliani, sejauh ini dipandang sebagai kandidat paling potensial untuk menantang Infantino di pemilihan presiden FIFA. Namun, Montagliani mengingatkan bahwa fokus utamanya saat ini adalah mempertahankan kursi presiden Konfederasi Amerika Utara dan Tengah pada pemilihan tahun depan. Pernyataan itu ia sampaikan kepada The Guardian pada Juni lalu.

Meski begitu, sinyal bahwa Montagliani siap mengambil peran lebih besar cukup terlihat. Pernyataan bersama yang dirilis Senin lalu dinilai banyak pihak menggemakan pidatonya di Kongres FIFA di Vancouver tahun ini. Saat itu ia berkata: “Terus terang, kepemimpinan bukan tentang kekuasaan.”

Salzburg Jadi Titik Kumpul: Eropa Bergerak Satu Suara

Momentum perlawanan ini akan semakin nyata dalam pertemuan tatap muka di Salzburg, Austria. Sejumlah tokoh senior sepak bola Eropa dijadwalkan berkumpul di kota tersebut selama dua hari ke depan, bertepatan dengan final Piala Super UEFA yang digelar pada Rabu. Ini menjadi pertemuan fisik pertama mereka sejak skandal Fifa Forward Enterprise mengemuka.

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan Nasser al-Khelaifi selaku ketua European Football Clubs. Pembicaraan ini bertujuan memperkuat solidaritas sepak bola Eropa dalam menuntut perubahan di pucuk pimpinan FIFA. Eropa ingin berbicara dengan satu suara dalam krisis ini.

UEFA sendiri tetap berpegang teguh pada komitmennya untuk memboikot kompetisi FIFA. Sikap ini dipertahankan karena UEFA belum menerima jaminan yang diinginkan terkait tidak akan terulangnya persoalan yang memicu krisis saat ini. Tanpa jaminan hukum yang jelas, boikot akan terus berlanjut.

Tekanan terhadap Gianni Infantino kini datang dari hampir semua penjuru sepak bola dunia. UEFA, Concacaf, dan AFC tidak hanya bersatu dalam menuntut tinjauan independen, tetapi juga menyiapkan alternatif nyata berupa kerangka kepengurusan baru. Jika Infantino terus menutup mata, bukan mustahil perubahan besar justru datang dari luar struktur FIFA yang ada.

Masa depan tata kelola sepak bola dunia sedang diuji di tengah krisis ini. Reformasi FIFA yang selama ini hanya menjadi wacana kini memiliki peta jalan yang lebih konkret, baik lewat pemilihan presiden maupun skenario organisasi tandingan. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Infantino bersedia membuka pintu dialog sebelum semua pintu lain ikut tertutup?

Javier Tebas: Era Infantino Berakhir di FIFA

Presiden La Liga, Javier Tebas, menegaskan bahwa era Infantino berakhir. Menurutnya, posisi Gianni Infantino sebagai presiden FIFA tidak bisa lagi dipertahankan karena dinilai merusak esensi sepak bola. Tebas juga menyerukan reformasi menyeluruh di level tertinggi sepak bola dunia.

Pernyataan itu disampaikan Tebas dalam wawancara dengan harian Prancis, Le Monde. Sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap kepemimpinan FIFA saat ini, Tebas memang sudah lama menyuarakan keberatannya. Namun seruan kali ini datang di tengah tekanan besar yang dihadapi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.

Pernyataan Tebas: “Proyek Infantino Hancurkan Liga Nasional”

Dalam wawancara itu, Tebas mengulang kembali tuntutannya agar Infantino mundur. Ia menegaskan bahwa penilaiannya bukan didasarkan pada peristiwa terbaru, melainkan pada gaya manajemen yang sudah lama ia perhatikan. Menurut Tebas, banyak pihak baru menyadari hal ini sekarang padahal ia sudah melihatnya sejak lama.

“Bagi saya, zaman Gianni Infantino sudah lama berlalu,” ujar Tebas. Ia menambahkan bahwa Infantino bukanlah sosok yang mendorong pertumbuhan sepak bola. Sebaliknya, proyek-proyek yang dijalankan justru menghancurkan esensi olahraga ini, terutama liga-liga nasional.

Pernyataan paling tajam muncul ketika Tebas berbicara tentang arah masa depan FIFA. “Sepak bola tidak terbatas pada elite. Bagi saya, era Infantino sudah berakhir,” katanya. Ia juga berharap suksesi nanti tidak sekadar mengganti orang, melainkan membawa perombakan yang sungguh-sungguh.

Kronologi Tekanan terhadap Infantino

Infantino kini berjuang mempertahankan jabatannya di tengah upaya terkoordinasi para pejabat sepak bola Eropa untuk menjatuhkannya. UEFA telah menyatakan bahwa kepemimpinan Infantino di sepak bola dunia tidak bisa dipertahankan. Federasi Sepak Bola Norwegia juga menyerukan agar presiden berusia 56 tahun asal Swiss itu mundur.

Sejumlah asosiasi sepak bola Eropa bahkan menarik kembali surat dukungan untuk Infantino agar kembali memimpin FIFA. Tekanan ini muncul setelah adanya rencana rahasia untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut kemudian dibatalkan, tetapi menjadi bahan kritik yang memperkuat kampanye untuk menggulingkan Infantino.

Kritik Tebas terhadap Infantino sebenarnya bukan hal baru. Ia bahkan sudah menyerukan agar Infantino mundur setelah Piala Dunia, jauh sebelum rencana penjualan saham Piala Dunia itu mencuat. Namun koordinasi yang semakin rapi di kalangan pejabat Eropa menunjukkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Infantino kini makin meluas.

Kontroversi Pembayaran Pesangon Karyawan UEFA

Pada Sabtu, UEFA mengonfirmasi telah melakukan pembayaran pesangon kepada seorang karyawan perempuan. Karyawan itu diduga menjalin hubungan dengan Infantino ketika ia masih menjabat sekretaris jenderal UEFA lebih dari satu dekade lalu. Daily Telegraph melaporkan pada Jumat malam bahwa perempuan tersebut menerima uang dengan jumlah enam digit setelah dugaan hubungan itu.

FIFA langsung membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya “sama sekali tidak benar”. Bantahan ini menjadi respons cepat di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino. Meski begitu, kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang membayangi FIFA menjelang pemilihan presiden.

Respons FIFA dan Dukungan di Luar Eropa

Pada Sabtu malam, FIFA menerbitkan pernyataan yang menuduh para kritikus Infantino berusaha menyingkirkannya sebelum pemilihan presiden bulan Maret. FIFA menilai upaya tersebut dilakukan melalui tuduhan, insinuasi, dan informasi keliru

Manajer Premier League Makin Asing dan Rawan Dipecat

Sebanyak sembilan dari 20 klub akan memulai musim 2026-27 dengan manajer baru, menjadikan ini salah satu musim dengan pergantian manajer Premier League paling masif dalam sejarah kompetisi. Opta mencatat bahwa hanya musim 1888-89 dan 1946-47 yang memiliki jumlah debutan pelatih sebanyak ini di awal musim, dua musim yang lahir dari situasi tidak normal. Meski begitu, tingkat turnover musim panas ini justru terasa wajar, padahal keamanan kerja manajer Premier League belum pernah berada di titik terendah seperti sekarang.

Fenomena ini mencerminkan betapa kerasnya kompetisi sepak bola Inggris saat ini. Tekanan hasil instan, tuntutan finansial, dan campur tangan pemilik klub membuat kursi kepelatihan semakin panas. Dengan tambahan Roberto De Zerbi yang dikonfirmasi pada Maret dan Michael Carrick pada Mei, musim ini akan dihuni 11 tim yang dilatih pelatih dengan masa kerja kurang dari satu tahun.

Rekor Turnover Manajer Premier League di Awal Musim

Opta mengungkapkan bahwa belum pernah ada musim dengan begitu banyak manajer yang memulai debutnya di klub papan atas Inggris. Musim 1888-89 adalah musim perdana liga sepak bola Inggris, sementara 1946-47 merupakan musim pertama setelah Perang Dunia II berakhir. Kedua musim itu berlangsung dalam kondisi yang tidak normal, berbeda jauh dengan situasi musim panas 2026 ini yang terasa biasa saja.

Median masa jabatan manajer Premier League di awal musim juga belum pernah serendah sekarang. Sebanyak 11 dari 20 klub akan dilatih oleh sosok yang duduk di kursi kepelatihan mereka kurang dari satu tahun. Angka ini menjadi bukti bahwa klub-klub Inggris semakin tidak sabar memberi waktu bagi pelatihnya untuk membangun tim.

Gelar Juara Manajer Premier League Kian Menipis

Musim yang paling mirip dengan kondisi saat ini adalah 2016-17. Ketika itu, 10 klub memiliki manajer dengan masa kerja di bawah satu tahun, namun deretan pelatih anyar diisi nama-nama besar seperti Antonio Conte, Pep Guardiola, Jürgen Klopp, dan José Mourinho. Semua nama tersebut sudah atau kemudian terbukti memenangkan Premier League, suatu kemewahan yang tidak dimiliki era sekarang.

Keadaannya kini jauh berbeda. Mikel Arteta menjadi satu-satunya manajer yang pernah meraih gelar juara liga Inggris yang akan memulai musim 2026-27 dengan kesempatan untuk mengulang pencapaian itu. Dua tahun lalu juga hanya ada satu manajer dengan status serupa, yaitu Guardiola dengan lemari trofinya yang penuh.

Karena Arteta baru mengoleksi satu gelar, musim ini mencatatkan jumlah trofi liga Inggris terkecil di awal musim dalam sejarah era Premier League. Rekor sebelumnya adalah tiga gelar pada 1995-96, berkat dua trofi Alex Ferguson dan satu milik Howard Wilkinson, serta 2019-20 lewat dua gelar Guardiola dan satu Manuel Pellegrini. Fakta ini menunjukkan bahwa pengalaman juara di bangku kepelatihan kini semakin langka.

Manajer Inggris Semakin Tersisih dari Premier League

Turunnya usia dan pengalaman manajer tidak otomatis membuka pintu bagi pelatih lokal. Median usia manajer Premier League saat ini adalah 46,9 tahun, angka yang sama dengan awal musim 2024-25 dan terakhir kali lebih muda dari itu terjadi 20 tahun lalu. Namun jumlah manajer asal Inggris tetap minim dan tidak pernah bertambah signifikan.

Kepergian Eddie Howe dari Newcastle membuat musim 2026-27 hanya dihuni tiga manajer Inggris: Michael Carrick, Frank Lampard, dan Gary O’Neil. Menariknya, trio ini berbeda dari musim lalu yang diisi Howe, Scott Parker, dan Graham Potter. Dua dari tiga manajer Inggris musim ini menangani klub yang baru promosi, sementara dua dari trio musim lalu berakhir dengan klub yang terdegradasi.

Peluang bagi manajer Inggris untuk menangani klub dengan posisi relatif aman di Premier League kini sangat langka, apalagi klub dengan ambisi gelar juara. Kondisi ini semakin mempertegas bahwa pelatih lokal terpinggirkan di kompetisi level tertinggi Inggris.

Dominasi Spanyol dan Globalisasi Premier League

Papan atas Premier League musim ini akan terasa sangat Spanyol. Wilayah Basque, khususnya Gipuzkoa, ternyata memasok lebih banyak pelatih ke liga Inggris daripada Inggris sendiri, dengan Arsenal, Aston Villa, Chelsea, dan Liverpool semuanya ditangani manajer dari area kecil di Spanyol utara tersebut. Arteta, Xabi Alonso, dan Andoni Iraola bahkan menangani tiga dari empat klub teratas di pasar taruhan gelar juara, sementara Unai Emery di Aston Villa menempati posisi ketujuh.

Meski Manchester City tetap menjadi favorit setelah berganti manajer pasca era Guardiola, dominasi pelatih Spanyol di papan atas tidak bisa diabaikan. Fenomena ini memperkuat narasi bahwa Premier League benar-benar kompetisi global di semua lini, tidak hanya di lapangan tetapi juga di bangku pelatih, ruang pemilik klub, dan jajaran direktur olahraga.

Berkurangnya peluang manajer lokal sebenarnya mengikuti tren yang sudah berlangsung lama di atas lapangan. Pada 1992-93, hanya 8,6 persen menit bermain diberikan kepada pemain dari luar Inggris atau Irlandia, tetapi angka itu melonjak menjadi rekor tertinggi 69,6 persen musim lalu. Kompetisi ini telah menjadi panggung internasional dalam segala aspeknya.

Head Coach vs Manajer: Batas yang Semakin Kabur

Pengaruh direktur olahraga dalam keputusan rekrutmen turut mengaburkan garis antara peran head coach dan manajer. Liam Rosenior menyebut dirinya “sangat rendah hati dan bangga” ketika ditunjuk sebagai head coach Chelsea pada Januari, sementara Xabi Alonso mengaku “sangat bangga menjadi manajer klub besar ini” untuk peran yang sama kurang dari enam bulan kemudian. Berdasarkan pengumuman resmi klub, Premier League saat ini mempekerjakan 14 head coach dan enam manajer.

Apa pun sebutan perannya, kenyataannya masa kerja mereka sama-sama singkat. Chelsea memberikan kontrak empat tahun kepada Alonso, padahal sejak kepergian Conte pada 2018 tidak ada manajer yang bertahan lebih dari dua tahun di Stamford Bridge. Bahkan lebih jauh lagi, tidak ada yang bertahan tiga tahun sejak masa pertama Mourinho berakhir lebih dari satu dekade lalu.

Rosenior sendiri belajar dengan cara yang keras. Ia menandatangani kontrak enam setengah tahun, tetapi Chelsea sebelumnya mempertahankan Rafael Benítez dan Guus Hiddink sebagai manajer interim lebih lama daripada masa kerja pria asal Inggris itu. Head coach atau manajer, apa pun sebutannya, profesi ini belum pernah terasa lebih asing dan lebih singkat masa kerjanya seperti sekarang di Premier League.

Kesimpulan

Premier League musim 2026-27 akan menjadi musim dengan pergantian manajer terbanyak, koleksi gelar juara paling minim, dan kehadiran pelatih Inggris paling langka dalam era kompetisi ini. Tren globalisasi dan tekanan hasil instan membuat kursi kepelatihan semakin tidak aman bagi siapa pun. Kompetisi ini mungkin akan semakin berwarna, tetapi bagi para manajer, tidak ada tempat yang aman.