Pertemuan Besar di Atlanta: Inggris Berhadapan dengan Messi dan Argentina
Pertandingan semi final Piala Dunia antara Inggris dan Argentina telah dinanti sebagai salah satu laga paling panas dalam sejarah sepak bola internasional. Setelah berhasil melewati rintangan berat melawan Norwegia milik Erling Haaland di Miami yang terik, skuad asuhan Thomas Tuchel menghabiskan hari Minggu untuk pemulihan di markas mereka di Kansas City. Kini, fokus sepenuhnya tertuju pada laga melawan juara bertahan Argentina pada Rabu mendatang di Atlanta.
Laga ini dijamin akan sarat emosi, mengingat rivalitas panjang kedua negara di pentas Piala Dunia. Bagi Inggris vs Argentina semi final Piala Dunia ini menjadi momentum langka—pertemuan pertama mereka di babak semifinal sejak turnamen digelar. Pemenangnya akan berhadapan dengan Prancis atau Spanyol di partai final.
Messi di Ambang Perpisahan: Momentum Emosional bagi Argentina
Ini menjadi kali pertama Lionel Messi, yang kini berusia 39 tahun dan dianggap sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, menghadapi Inggris di Piala Dunia. Bisa jadi ini adalah turnamen terakhirnya, menambah lapisan dramatis tersendiri. Pertemuan kompetitif terakhir kedua tim terjadi pada Piala Dunia 2002 di Jepang, saat David Beckham menjadi pahlawan lewat penalti kemenangan.
Beckham sendiri hadir di Miami Stadium pada Sabtu malam bersama istri dan keluarganya. Presiden dan salah satu pemilik klub MLS Inter Miami itu terlihat bernyanyi lagu Hey Jude usai pertandingan, sebagai penghormatan kepada Jude Bellingham yang mencetak dua gol kemenangan. Ia juga berfoto dengan beberapa pemain Inggris seperti Harry Kane dan Declan Rice saat latihan di markas Inter Miami di Fort Lauderdale.
“Momen yang luar biasa di Miami,” tulis Beckham di Instagram. “Saya sangat bangga dengan tim malam ini yang mencapai semifinal Piala Dunia. Merayakannya bersama keluarga terasa begitu istimewa… Terima kasih Inggris telah memberi negara kami momen-momen seperti ini.”
Kontroversi dan Ketegangan: Jalan Inggris ke Semifinal
Kemenangan 2-1 atas Norwegia tidak datang tanpa kontroversi. Jude Bellingham kembali menjadi pahlawan dengan gol penentu di babak perpanjangan waktu, setelah Andreas Schjelderup membawa Norwegia unggul lebih dulu. Namun gol penyama kedudukan Bellingham di akhir babak pertama menuai perdebatan.
Tayangan ulang memperlihatkan bola hasil tendangan gawang Norwegia mengenai kabel televisi yang tergantung di atas lapangan sebelum gol tercipta. Meskipun FIFA merilis pernyataan bahwa sensor dalam bola tidak mendeteksi sentuhan, pelatih Norwegia Ståle Solbakkan bersikeras hal itu menimbulkan “kesalahpahaman di antara pemain kami”.
Manajer Inggris, Thomas Tuchel, mengkritik performa anak asuhnya dan mengaku “beruntung” bisa menang meskipun ia menjadi manajer keempat tim senior Inggris yang mencapai semifinal Piala Dunia setelah Alf Ramsey, Bobby Robson, dan Gareth Southgate. Komentar itu memicu reaksi keras dari Bellingham.
Bintang Real Madrid itu melontarkan sindiran pedas: “Mungkin dia tidak tahu bagaimana rasanya bermain dalam kondisi seperti itu melawan Erling Haaland, Martin Ødegaard, Antonio Nusa, Alexander Sørloth.” Sindiran ini mengarah pada minimnya pengalaman Tuchel sebagai pemain level atas karena ia pensiun dini di usia 25 akibat cedera lutut.
Tuchel dan Bellingham: Harmoni yang Perlu Dipulihkan
Tuchel, yang memperpanjang kontraknya hingga 2028 sebelum turnamen, mungkin harus mencari cara untuk meredakan ketegangan dengan salah satu pemain kuncinya menjelang laga monumental melawan Argentina. Namun pria 52 tahun itu menikmati perjalanan ini, terutama setelah membawa Inggris lolos ke turnamen besar pertama mereka sejak kalah dari Spanyol di final Euro 2024 di bawah Southgate.
“Ini intens,” kata Tuchel. “Saya sangat menikmatinya. Saya merasa sangat hidup di momen-momen seperti ini. Namun memainkan pertandingan sistem gugur setiap tiga atau empat hari adalah level tuntutan dan roller coaster emosi yang baru. Saya akui itu. Kami akan memberi pemain waktu pemulihan penuh pada hari Minggu, dan persiapan kami dengan staf dimulai paling lambat sore hari.”
Argentina: Lagu Kontroversial dan Semangat Juang Tinggi
Argentina memastikan tempat di semifinal dengan mengalahkan Swiss yang bermain dengan 10 orang di Kansas City. Rekaman ruang ganti setelah pertandingan menunjukkan beberapa pemain Argentina menyanyikan lagu tidak senonoh yang merujuk pada Perang Falklands 1982, serta berjanji memenangkan Piala Dunia “untuk Las Malvinas, untuk Diego (Maradona), dan untuk Leo (Messi) yang terakhir”.
Ini akan menjadi pertemuan keenam antara Inggris dan Argentina di Piala Dunia, namun pertama kalinya terjadi di babak semifinal. Inggris menang saat fase grup 1962 dan perempat final 1966 setelah kapten Argentina Antonio Rattín dikeluarkan di Wembley. Kabar meninggalnya Rattín diumumkan pada Sabtu lalu di usia 89 tahun.
Namun pertemuan paling terkenal terjadi pada 1986 di Stadion Azteca, Mexico City—lokasi yang sama saat Inggris mengalahkan tuan rumah Meksiko di babak 16 besar pekan lalu. Ketika itu Diego Maradona mencetak gol Tangan Tuhan yang kontroversial, lalu menambahkan gol individu spektakuler untuk memenangkan pertandingan. Argentina kemudian menang adu penalti pada 1998 setelah Michael Owen mencetak gol dan Beckham dikeluarkan, sebelum Beckham menjadi pahlawan penalti empat tahun kemudian.
Ancaman Keamanan dan Semangat Suporter
Kedua kelompok suporter akan menuju Atlanta. Diperkirakan lebih dari 15.000 suporter Inggris hadir di Miami dan banyak yang berencana tinggal di Amerika Serikat. Terdapat laporan beberapa insiden kecil dengan pendukung Argentina di South Beach Miami setelah kemenangan atas Norwegia. Otoritas di Georgia bersiap menghadapi potensi kericuhan mengingat ribuan suporter Argentina telah melakukan perjalanan ke sana.
Inggris vs Argentina semi final Piala Dunia ini bukan sekadar laga sepak bola. Ini adalah pertemuan dua bangsa dengan sejarah rivalitas yang dalam, di atas lapangan yang akan menjadi saksi babak baru persaingan mereka. Dengan Messi di satu sisi dan generasi emas Inggris di sisi lain, Atlanta siap menyajikan tontonan yang tak terlupakan.
