Pro Ref, otoritas perwasitan elite Liga Primer Inggris, akhirnya mengakui bahwa kontroversi gol Haaland pada derby Manchester hari Minggu seharusnya tidak berbuah gol yang disahkan. Gol Erling Haaland ke gawang Manchester United di Old Trafford itu dinilai seharusnya dianulir karena VAR keliru membaca posisi Enzo Fernández dalam proses terjadinya gol.
Pengakuan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi pada Minggu malam, disertai kontak langsung ke pihak Manchester United. Lembaga itu juga menegaskan akan melakukan peninjauan ulang atas insiden tersebut. Sorotan ini muncul karena menyangkut derby Manchester edisi ke-199, salah satu laga paling bergengsi di Inggris, yang juga diwarnai sejumlah momen kontroversial lain di lapangan.
Kronologi Gol yang Memicu Kontroversi
Insiden bermula pada menit ke-60, ketika Haaland mencetak gol untuk Manchester City di kandang United. Keputusan di lapangan awalnya menyatakan Haaland berada dalam posisi offside, sebelum VAR melakukan intervensi dan menyatakan penyerang bernomor 9 City itu berada dalam posisi onside.
Gol itu berawal dari umpan silang Josko Gvardiol yang membentur sepatu Patrick Dorgu. Bola kemudian melewati Fernández serta bek United, Lisandro Martínez, sebelum diselesaikan Haaland. Persoalannya bukan terletak pada posisi Haaland, melainkan pada peran Fernández dalam rantai serangan tersebut.
VAR memutuskan bahwa Fernández tidak menghalangi permainan, meskipun Martínez tampak mengawalnya. Perbedaan tafsir soal seberapa besar pengaruh posisi Fernández terhadap reaksi Martínez inilah yang kemudian menjadi inti persoalan dan memicu protes keras dari kubu Manchester United.
Isi Pernyataan Resmi Pro Ref
Dalam pernyataannya, Pro Ref memberikan klarifikasi resmi mengenai keputusan yang mengesahkan gol Haaland. “Menyusul insiden pada menit ke-60 laga Liga Primer antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford, kami dapat memberikan klarifikasi terkait gol yang diberikan untuk Erling Haaland,” tulis lembaga itu.
Pro Ref menjelaskan bahwa keputusan awal di lapangan adalah offside terhadap Haaland, lalu dicek oleh VAR dan sang pemain dinyatakan berada dalam posisi onside. “Dalam serangan yang sama, ditetapkan bahwa Fernández tidak memainkan bola, dan karena itu setiap pelanggaran offside menjadi subjektif,” lanjut pernyataan tersebut.
Namun, Pro Ref menegaskan bahwa pada kesempatan ini VAR gagal mengenali dampak yang mungkin ditimbulkan dari posisi Fernández. Menurut lembaga itu, VAR seharusnya merekomendasikan peninjauan ulang di lapangan. Kontak dengan Manchester United dilakukan pada Minggu malam untuk mengakui apa yang mereka sebut sebagai kesalahan penilaian, dan peninjauan atas insiden itu akan dilakukan.
Reaksi Michael Carrick: “Saya Tidak Paham”
Manajer Manchester United, Michael Carrick, menyampaikan kekecewaannya atas gol kemenangan Haaland, meski ia mengaku belum sepenuhnya melihat tayangan ulang saat itu. “Penjelasan yang saya terima adalah dia tidak menghalangi permainan, jadi saya tidak paham,” ujarnya.
Carrick juga menyoroti rumitnya sistem pengambilan keputusan modern. Ia mengaku tidak bisa memahami bagaimana upaya membantu para wasit justru menempatkan begitu banyak lapisan di belakang mereka, dengan banyak orang, layar, dan berbagai ruangan kerja, demi menghasilkan keputusan yang tepat.
Menurutnya, tafsir aturan yang dipakai sangat mengkhawatirkan jika memang seperti itu cara permainan dibaca oleh para pengadil. Ia menyoroti situasi ketika seorang pemain dianggap tidak menghalangi permainan meski telah melompat ke arah bola dari jarak sekitar enam yard dari gawang dan nyaris menyentuhnya, sehingga Martínez pun harus bereaksi.
Saat ditanya apakah permintaan maaf dari Pro Ref akan diterima dengan baik, Carrick menjawab dengan nada sinis. “Ya, itu bagus, itu. Ya, saya tidak sabar menunggunya,” katanya. Ia menambahkan bahwa aturan soal menghalangi permainan sebenarnya sudah jelas dan tidak perlu ditafsirkan berbelit-belit.
Pembelaan Enzo Maresca
Di sisi lain, manajer Manchester City, Enzo Maresca, bersikeras bahwa Fernández memang tidak menghalangi permainan. Ia bahkan menyebut wasit keempat turut menyatakan bahwa Haaland berada dalam posisi onside. Pernyataan itu menegaskan bahwa kubu City menilai gol tersebut sah sepenuhnya.
Perbedaan sikap kedua manajer menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal satu keputusan teknis, melainkan menyangkut cara membaca aturan offside dan intervensi yang diterapkan secara berbeda antar pertandingan. Bagi City, keputusan itu sudah final di lapangan; bagi United, tafsir yang dipakai justru meninggalkan celah yang sulit dipahami.
Kartu Merah Phil Foden dan Keputusan Kontroversial Lain
Kontroversi di derby kali ini tidak berhenti pada gol Haaland. Keputusan kontroversial lainnya adalah kartu merah Phil Foden pada menit ke-23. Penyerang City itu menendang perut Bruno Fernandes, tetapi aksinya terjadi setelah kapten United tersebut lebih dulu menendangnya.
Maresca mendukung keputusan wasit Michael Oliver yang mengusir Foden, namun ia menilai Fernandes juga seharusnya menerima hukuman serupa. Menurutnya, aksi Foden memang jelas merupakan kartu merah karena bentuk reaksinya, tetapi tindakan Bruno juga terlihat dalam tayangan ulang.
Artinya, laga ini meninggalkan dua keputusan besar yang sama-sama memicu perdebatan: satu gol yang akhirnya diakui salah disahkan, dan satu kartu merah yang menurut salah satu pihak seharusnya berpasangan dengan kartu merah lainnya.
Dampak pada Klasemen dan Tekanan di Kubu United
Hasil derby ini membuat Manchester City mengoleksi 12 poin dan menempati posisi kedua, hanya terpaut selisih gol dari Arsenal di puncak. Sebaliknya, Manchester United baru mengumpulkan empat poin dan tertahan di peringkat ke-13, sebuah posisi yang jauh dari harapan klub sebesar mereka.
Meski begitu, Carrick tetap yakin timnya akan bangkit. “Kami akan sampai ke sana, saya yakin itu,” ujarnya. Ia mengakui timnya belum mengumpulkan poin sebanyak yang diinginkan dan seharusnya didapat, serta menegaskan bahwa situasi ini tidak mengubah arah dan harapan mereka untuk sisa musim.
Ia juga menekankan bahwa United telah membuat kemajuan berarti dalam kurun waktu tertentu dan berkomitmen melanjutkan proses tersebut. Bagi pembaca yang mengikuti dinamika Liga Primer, posisi United saat ini menjadi gambaran betapa beratnya tekanan yang harus dikelola, terutama setelah kekalahan kontroversial di laga sekelas derby Manchester.
Protes Suporter dan Tensinya Old Trafford
Sebelum pertandingan, sejumlah suporter menggelar protes menentang langkah klub memberantas calo tiket yang oleh sebagian pihak dianggap terlalu keras. Manchester United pada Jumat menyatakan bahwa 685 akun telah dikenai larangan, sementara 464 suporter menerima sanksi yang dikurangi atau peringatan terakhir.
Carrick mengaku tidak selalu berada di posisi untuk memahami detail kebijakan tersebut, tetapi ia menyatakan penghargaannya kepada para suporter. Menurutnya, jika mereka merasa tidak puas dengan cara tertentu, klub tentu ingin berusaha melakukan segala hal untuk membuat mereka senang, baik melalui performa di lapangan maupun di luar lapangan.
Ia menegaskan bahwa suporter adalah bagian besar dan segalanya bagi klub ini. Ketegangan itu terlihat di dalam stadion, ketika kelompok The Red Army menggantung banner di atas terowongan pemain bertuliskan “The Way You Treat Us Is A Disgrace”. Seluruh banner yang biasa dipasang di Stretford End pun dilepas.
Kesimpulannya, Pro Ref telah mengakui adanya kesalahan penilaian pada gol Haaland dan berjanji meninjau ulang insiden tersebut, sementara Manchester United menuntut kejelasan atas tafsir aturan yang mereka nilai tidak konsisten. Ditambah kartu merah Foden, protes suporter, dan posisi keduanya di klasemen yang berseberangan, derby Manchester ke-199 meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada sekadar hasil akhir.
Yang paling dinanti berikutnya adalah hasil peninjauan Pro Ref dan bagaimana otoritas perwasitan menjelaskan standar tafsirnya kepada publik, agar keputusan serupa tidak lagi berujung pada perdebatan panjang di pertandingan besar berikutnya.
