Dua pertandingan sudah berjalan di Nations League, dan empat pelatih bintang yang baru menangani tim nasional kini menuai hasil yang jauh berbeda satu sama lain. Jürgen Klopp, Zinedine Zidane, Xavi Hernández, dan Roberto Mancini sama-sama memulai babak baru karier di level internasional, tetapi baru satu nama yang berjalan mulus tanpa cela. Sisanya harus menerima kenyataan pahit, termasuk kekalahan bersejarah yang langsung memantik tekanan besar di Jerman.
Pekan lalu, kolom harian Football Daily sempat mengangkat suasana kebangkitan sepak bola Eropa. Kehadiran Klopp, Zidane, dan Xavi di bangku tim nasional memicu rasa penasaran banyak pihak, begitu pula kembalinya Mancini ke kursi pelatih Italia tiga tahun setelah ia meninggalkan Azzurri demi kontrak menggiurkan di Arab Saudi. Kini, setelah dua laga dilakoni, saatnya menilai hasil awal dari kuartet aristokrat trofi tersebut, dan salah satu di antaranya mendapat sambutan yang cukup menyakitkan di jalur internasional.
Klopp dan Awal Berat Jerman di Nations League
Klopp membuka masa jabatannya sebagai pelatih kepala Jerman dengan memperingatkan media nasional agar tidak mengganggu privasi keluarganya. Ia kemudian justru harus berhadapan dengan pemberitaan soal keputusannya memanggil 44 pemain dalam satu skuad, langkah yang ia sebut sebagai cara mempercepat “proses membuka pintu bagi banyak wajah baru” dalam rencana merombak total skuad Jerman. Eksperimen besar itu nyatanya belum membuahkan hasil yang diinginkan.
Setelah laga pertamanya melawan Belanda asuhan Xavi berakhir imbang, Klopp mengakui masih ada banyak ruang untuk perbaikan. Namun di pertandingan berikutnya, Jerman tidak menunjukkan perbaikan apa pun dan menelan kekalahan pertama sepanjang sejarah dari Yunani. “Susunan pemain, formasi, banyaknya perubahan, itu semua 100% tanggung jawab saya,” ujarnya. “Sepak bola memang seperti ini. Saya rasa kami tidak pantas mendapat hasil itu, tapi inilah yang terjadi.”
Dampaknya, Jerman kini berada di peringkat ketiga grup Nations League mereka. Laga melawan Serbia pun berubah menjadi pertandingan yang hampir wajib dimenangkan jika ingin menghindari kemungkinan degradasi. Tekanan pada Klopp tidak hanya soal taktik, tetapi juga soal ekspektasi publik yang dibangun sejak ia pertama kali diperkenalkan sebagai juru selamat baru sepak bola Jerman.
Xavi Raih Kemenangan Pertama Bersama Belanda
Xavi membukukan kemenangan pertamanya sebagai pelatih Belanda di Beograd saat timnya menghadapi Serbia. Kemenangan 2-1 itu lahir berkat dua gol Mexx Meerdink, penyerang AZ Alkmaar yang dipanggil terlambat ke dalam skuad. Berkat penampilan tersebut, pemain muda itu menjadi penyelamat Belanda di saat timnya butuh sosok yang bisa memecah kebuntuan.
Berikutnya, Belanda akan menghadapi Yunani pada Kamis, tim yang saat ini memimpin grup. Menanggapi kritik bahwa ada banyak momen ketika Belanda seharusnya menyerang ruang kosong tetapi tidak melakukannya, Xavi mengakui hal itu dengan terus terang: “Ada banyak momen ketika kami perlu menyerang ruang, tetapi kami tidak melakukannya.” Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ia belum sepenuhnya puas dengan performa tim meski tiga poin sudah diamankan.
Posisi Belanda sendiri cukup sensitif karena Yunani datang dengan status pemuncak grup. Jika Belanda gagal memanfaatkan peluang di laga tersebut, kemenangan di Beograd bisa kehilangan maknanya. Di situlah kualitas Xavi sebagai pelatih akan benar-benar diuji, bukan hanya sekadar kemampuannya meredam kritik setelah pertandingan.
Mancini Kembali, Italia Mulai Bangkit
Mancini akhirnya mengoleksi kemenangan pertamanya di periode kedua bersama Italia, dan itu datang ketika Turki tampil jauh di bawah standar permainan mereka. Italia sendiri sebelumnya menelan kekalahan dari Belgia, sehingga hasil melawan Turki menjadi oksigen penting bagi tim yang sedang mencari bentuk terbaiknya. Kemenangan itu setidaknya meredakan keraguan soal apakah Mancini masih mampu mengangkat kembali Azzurri.
Setelah ditunjuk kembali, Mancini menyampaikan permintaan maaf karena telah meninggalkan Italia pada periode pertamanya demi mengambil kontrak besar di Arab Saudi. Ia pun harus menghadapi pertanyaan tentang salah satu “pemberi gaji” dari negara lain tersebut. Menanggapi klaim bahwa dirinya pernah memiliki “kontrak ganda” selama berkarier di Manchester City, Mancini menyebut skandal yang kini membelit mantan klubnya itu sebagai “bukan masalah yang menyangkut saya”.
Pada malam ketika Michael Kayode menjadi pemain Brentford pertama dalam sejarah yang memperkuat Italia sekaligus mencetak gol, Mancini menilai pemain berusia 22 tahun itu “akan berkembang lebih baik lagi setelah satu tahun berikutnya di Premier League”. Namun, mengingat popularitasnya yang rendah di kalangan banyak penggemar Italia, belum pasti apakah Mancini masih akan berada di kursi pelatih untuk menyaksikan Kayode benar-benar bersinar.
Jadwal berikutnya membawa Italia ke Paris untuk menghadapi Prancis pada Jumat. Laga itu menjadi ujian sesungguhnya bagi Mancini, sekaligus pertemuan dengan salah satu anggota kuartet lainnya, Zinedine Zidane. Hasil di Paris bisa menentukan arah kedua tim di grup, terutama bagi Italia yang masih berusaha membangun kembali kepercayaan diri.
Zidane, Satu-satunya yang Sempurna
Dari empat nama besar tersebut, hanya Zidane yang memulai masa jabatannya dengan hasil sempurna. Prancis menang 1-0 atas Turki dan Belgia, dan kemenangan kedua ditentukan oleh aksi solo sensasional Michael Olise di menit-menit akhir pertandingan. Dua kemenangan tipis itu sudah cukup membuat Zidane mengumpulkan poin penuh tanpa sekali pun kebobolan.
Zidane juga sempat ditanya soal selebrasi di pinggir lapangan yang ramai dijadikan bahan meme: ia berlari, menari sedikit, lalu menendang bola cadangan dari atas kerucut. “Saya melihat bolanya,” katanya sambil tertawa. “Saya terpaksa menendangnya, sedikit konyol tapi tidak masalah.” Momen itu memperlihatkan sisi santai Zidane, kontras dengan tekanan yang justru menimpa Klopp dan Mancini.
Peta Kekuatan Nations League Mulai Terlihat
Dua laga memang belum cukup untuk menarik kesimpulan final, tetapi pola awal dari keempat pelatih ini sudah terlihat jelas. Klopp bergulat dengan ekspektasi besar dan skuad yang masih mencari bentuk, Xavi perlahan menemukan ritme bersama Belanda, Mancini berusaha memulihkan reputasinya di Italia, sementara Zidane langsung nyaman dengan perannya di Prancis. Perbedaan itu menunjukkan bahwa nama besar di level klub tidak otomatis menjamin adaptasi cepat di sepak bola internasional.
Untuk memberi gambaran, catatan awal keempatnya bisa diringkas seperti berikut:
- Jerman (Klopp): imbang melawan Belanda, lalu kalah dari Yunani; kini berada di peringkat ketiga grup dan menghadapi laga krusial melawan Serbia.
- Belanda (Xavi): menang 2-1 atas Serbia di Beograd lewat dua gol Mexx Meerdink, berikutnya menjamu Yunani.
- Italia (Mancini): kalah dari Belgia, lalu menang atas Turki; berikutnya bertandang ke Paris melawan Prancis.
- Prancis (Zidane): dua kemenangan 1-0 atas Turki dan Belgia, salah satunya lewat gol solo Michael Olise.
Tekanan pada masing-masing pelatih juga berbeda karena konteks sejarah timnya. Jerman sedang dalam fase transisi skuad, Italia masih menyimpan luka gagal di kompetisi besar, Belanda terus dicap sebagai kuda hitam yang rapuh, sedangkan Prancis dituntut selalu menang karena kedalaman skuadnya. Nations League yang punya konsekuensi promosi dan degradasi membuat setiap hasil punya bobot nyata, bukan sekadar laga uji coba.
Apa yang Menanti Berikutnya
Jadwal terdekat akan menyajikan beberapa laga penentu. Belanda menjamu Yunani pada Kamis, Jerman melakoni partai nyaris wajib menang melawan Serbia, dan Italia bertandang ke Paris untuk berhadapan dengan Prancis pada Jumat. Ketiga laga itu akan memberi gambaran lebih jelas apakah para pelatih baru ini benar-benar membawa perubahan, atau justru menghadapi masalah yang lebih besar dari perkiraan awal.
Tren pelatih klub besar yang beralih ke tim nasional memang menarik untuk disimak. Sepak bola internasional menawarkan waktu latihan yang jauh lebih singkat, jumlah pertandingan yang sedikit, dan ruang manuver yang terbatas dibandingkan kompetisi klub. Karena itu, kemampuan beradaptasi cepat menjadi faktor penentu, dan itulah yang tampaknya sedang membedakan Zidane dari tiga rekannya saat ini.
Yang jelas, eksperimen besar para pelatih top ini baru memasuki babak awal. Belum ada kesimpulan yang bisa diambil secara permanen dari dua pertandingan, tetapi arah angin sudah mulai terasa. Seperti kata pepatah lama di sepak bola, ketika keadaan sedang sulit, kadang cara paling sederhana justru yang paling ampuh: tendang saja bolanya.
