Dukungan Konfederasi FIFA untuk Infantino Mulai Retak

Tekanan terhadap presiden FIFA, Gianni Infantino, semakin besar setelah sejumlah negara menarik dukungan mereka pasca gagalnya rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang kacau. Pertanyaan besarnya kini adalah bagaimana arah dukungan konfederasi FIFA kepada Infantino menjelang pemilihan presiden yang akan datang. Apakah akan muncul penantang serius, atau justru Infantino tetap aman karena dukungan dari benua Asia dan Afrika masih kuat?

Dalam struktur FIFA, enam konfederasi — UEFA (Eropa), AFC (Asia), CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah), CAF (Afrika), CONMEBOL (Amerika Selatan), dan OFC (Oseania) — memegang peran penentu dalam setiap pemilihan. Masing-masing punya kepentingan, sejarah hubungan, dan tingkat ketergantungan finansial yang berbeda terhadap FIFA. Kombinasi dari faktor-faktor inilah yang akan menentukan apakah Infantino mampu bertahan atau justru tersingkir dari kursi kekuasaannya.

(FILES) FIFA president Gianni Infantino reacts during the 2026 World Cup Group D football match between USA and Paraguay at the Los Angeles Stadium in Inglewood on June 12, 2026. Wales on August 3, 2026 became the first nation to publicly withdraw support for FIFA president Gianni Infantino’s re-election bid over his failed plan to sell off stakes in the World Cup. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Peta Dukungan Konfederasi FIFA untuk Infantino

UEFA: Paling Vokal Menuntut Perubahan

UEFA menjadi motor utama gerakan untuk menyingkirkan Infantino dari kursi presiden FIFA. Ancaman untuk memboikot seluruh kompetisi FIFA pekan lalu, jika skema Fifa Forward Enterprise tidak dihapus, disebut-sebut menjadi penyebab besar kegagalan rencana tersebut. Dalam pernyataan keras pada Sabtu, UEFA menegaskan bahwa kepemimpinan FIFA saat ini “tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya”.

Sejumlah asosiasi anggota UEFA, termasuk federasi sepak bola Inggris dan Wales, telah menarik surat dukungan mereka untuk pencalonan ulang Infantino. Upaya terus dilakukan agar asosiasi lain melakukan hal yang sama demi melemahkan posisi Infantino secara permanen. Langkah ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Infantino di kubu Eropa bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang terorganisir dan terus digencarkan.

AFC: Terpecah dan Menunggu Arah Angin

Laporan yang menyebut AFC mendukung langkah UEFA masih terlalu prematur, karena konfederasi Asia ini justru terpecah. AFC memang telah menyuarakan penolakan terhadap rencana kesepakatan Piala Dunia tersebut dan menyerukan reformasi FIFA, sebuah sikap yang tergolong berani dibanding pernyataan-pernyataan mereka sebelumnya. Namun, para pemimpin AFC lebih marah pada cara proposal itu disusun ketimbang pada detail kesepakatan itu sendiri.

Jika Infantino benar-benar terlihat sedang dalam kesulitan, kepemimpinan AFC bisa saja berpindah haluan. Akan tetapi, sebagian besar federasi Asia justru tidak ingin Infantino digantikan, dan negara-negara berpengaruh seperti Qatar, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi masih berada di belakangnya. Presiden AFC, Sheikh Salman, memiliki ambisi sendiri dan selama ini sukses menjaga kesatuan Asia, tetapi situasi ini menjadi ujian berat — terutama setelah Pangeran Ali bin Hussein dari Yordania melontarkan tuduhan “pemerasan” yang bisa menjadi momen penting dalam dinamika politik FIFA.

CONCACAF: Menuntut Pertanggungjawaban Penuh

CONCACAF termasuk konfederasi yang paling tegas menentang Infantino dan proposal Fifa Forward Enterprise. Mereka langsung menolak rencana itu, lalu mengeluarkan pernyataan tajam setelah proposal ditarik yang mengarahkan kritik langsung kepada kepemimpinan Infantino. Dalam rilis yang mewakili 41 asosiasi anggota CONCACAF, rencana tersebut disebut sebagai “gejala kepemimpinan yang berhenti mengutamakan sepak bola” dan “tindakan sepihak serta keterlaluan dalam tata kelola yang buruk”.

Pernyataan itu juga menyerukan “penghitungan menyeluruh terhadap masa kepresidenan ini”, sebuah nada yang hampir setara dengan mosi tidak percaya di luar mekanisme pemilihan. Menariknya, presiden CONCACAF Victor Montagliani juga menjabat wakil presiden FIFA dan menjadi kandidat utama jika ada keinginan bersama untuk menjatuhkan Infantino. Meski Montagliani sebelumnya cenderung bungkam saat ditanya soal itu, pernyataan tegas atas nama konfederasi menunjukkan setidaknya ia tidak menutup kemungkinan untuk melawan Infantino.

CAF: Dukungan Bulat untuk Infantino

Berbeda dengan Eropa dan Amerika Utara, Afrika justru menunjukkan solidaritas penuh kepada Infantino. Patrice Motsepe, presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), menyatakan bahwa 54 asosiasi anggota CAF secara bulat mendukung pencalonan ulang Infantino dalam pemilihan di Maroko tahun depan. Dukungan dari blok Afrika ini menjadi modal politik yang sangat berharga bagi Infantino untuk mempertahankan kursinya.

CONMEBOL: Diam dan Pragmatis

CONMEBOL justru memilih bungkam di tengah hiruk-pikuk penolakan terhadap Infantino. Presidennya, Alejandro Domínguez, sibuk mengirim ucapan ulang tahun kepada individu, klub, dan institusi dari Uruguay, tempat ia berkunjung menjelang perayaan seratus tahun Piala Dunia pertama pada 2030. Baru setelah beberapa hari, CONMEBOL mengeluarkan pernyataan yang cenderung netral, menekankan sepak bola di atas segalanya dan meminta informasi serta klarifikasi lebih lanjut — dan sejak itu tidak ada pernyataan resmi lagi.

Menurut Marina Mendez, direktur AD Sporting Industry Professionals yang juga konsultan sepak bola di kawasan tersebut, posisi CONMEBOL paling tepat disebut sebagai “dukungan yang hati-hati, bukan konfrontasi terbuka”. Sikap ini menunjukkan CONMEBOL ingin menjaga hubungan kelembagaan dengan FIFA dan tetap memiliki ruang negosiasi, sekaligus mengamankan akses dan pengaruh sepak bola Amerika Selatan di dalam FIFA. Brasil dan Argentina menjadi negara utama di konfederasi ini, dan Domínguez disebut pandai menjaga hubungan dengan keduanya, sementara sebagian besar negara lain biasanya mengikuti arah yang sama.

OFC: Masih Menimbang Sikap

Oseania belum menentukan sikap final hingga saat ini. Selandia Baru sebagai anggota terbesar konfederasi dengan cepat menentang proposal Piala Dunia itu, meskipun OFC sendiri tidak berkomitmen pada sikap tersebut. Masih ada dukungan terhadap Infantino di antara federasi-federasi lain di kawasan Pasifik, terutama mereka yang selama ini merasakan manfaat langsung dari kebijakan FIFA.

Jejak Hubungan Infantino dengan Setiap Konfederasi

UEFA: Dari Orang Dalam Menjadi Lawan Politik

Infantino adalah produk asli UEFA, menjabat sebagai sekretaris jenderal dari 2009 hingga 2016, dan UEFA menjadi pendukung kuatnya saat pertama kali maju sebagai calon presiden FIFA. Namun, hubungan antara badan sepak bola dunia dan konfederasi dari benua paling kuat ini memburuk secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. UEFA berulang kali menangkis inisiatif Infantino seperti wacana Piala Dunia dua tahun sekali dan rencana investasi SoftBank pada 2018.

Puncak ketegangan terjadi pada Mei 2025 ketika delegasi sejumlah federasi Eropa berjalan keluar dari kongres FIFA sebagai protes atas keterlambatan kedatangan Infantino. Mereka menuduh Infantino mengejar “kepentingan politik pribadi” dalam berbagai kebijakannya. Kontroversi yang tak kunjung reda sepanjang tahun lalu semakin memastikan bahwa perbedaan antara kedua kubu sudah sulit untuk didamaikan.

Asia, Afrika, dan Oseania: Kedekatan yang Terbangun Lama

Hubungan Infantino dengan Asia terjalin erat sejak ia mengalahkan Sheikh Salman dalam pemilihan 2016. Salman dan AFC disebut melihat Infantino sebagai pemimpin yang mudah dihubungi, terbuka, dan memberi perhatian setara kepada semua kawasan — sesuatu yang langka di mata Asia. Perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim diterima baik di Asia, bahkan wacana 64 tim pun disambut positif, sehingga tak heran Infantino terus mengingatkan Asia akan manfaat-manfaat di bawah kepemimpinannya.

Di Afrika, jejak Infantino panjang dan tidak lepas dari kontroversi. Ia mendukung Ahmad Ahmad dari Madagaskar untuk menjatuhkan Issa Hayatou sebagai presiden CAF pada Maret 2017, sebuah intervensi yang membuat Hayatou marah besar di hadapan Infantino dan Sekretaris Jenderal FIFA saat itu, Fatma Samoura. Masa kepemimpinan Ahmad justru berakhir dengan pemecatan karena pelanggaran etika, dan FIFA sempat mengambil alih administrasi harian CAF dari Agustus hingga Desember 2019 — langkah yang di banyak kalangan Afrika disebut sebagai tindakan neo-kolonial dan pelanggaran atas otonomi CAF.

Di Oseania, Infantino bekerja keras membangun hubungan personal sekaligus finansial, dan para pejabat OFC kerap menyebutnya sebagai teman. Perluasan Piala Dunia ke 48 tim akhirnya memberi Oseania satu jatah otomatis yang selama ini dijanjikan tetapi tidak pernah diwujudkan FIFA, dan ide jatah lebih banyak dalam kompetisi 64 tim juga dinilai menarik. Di bawah kepemimpinan Infantino, Selandia Baru menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita bersama Australia, dan FIFA turut mendukung pendirian Liga Profesional Oseania yang dimulai pada Januari lalu.

CONCACAF dan CONMEBOL: Dinamika yang Berbeda

Hubungan Infantino dengan CONCACAF tidak terlalu panjang, dimulai dari penetapan Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Sebelum pernyataan keras CONCACAF akhir pekan lalu, tidak banyak ikatan historis langsung antara Infantino dan konfederasi ini. Sementara itu, hubungan CONMEBOL dengan Infantino justru terbangun dari momen-momen penting, seperti kunjungannya ke markas Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) setelah kematian Julio Grondona, ketika FIFA turun tangan mengawasi pembersihan internal AFA menyusul temuan jumlah suara yang tidak wajar dalam pemilihan.

Pada 2018, di

Liverpool Kalahkan Wrexham Berkat Gol Deflected Rio Ngumoha di Laga Uji Coba

Gol Rio Ngumoha Bawa Liverpool Menang Tipis atas Wrexham

Liverpool berhasil meraih kemenangan kedua dalam tur pramusim mereka setelah menundukkan Wrexham dengan skor 1-0 di Yankee Stadium, New York. Satu-satunya gol dalam pertandingan ini dicetak oleh pemain muda Rio Ngumoha pada menit ke-75 lewat tembakan yang mengenai bek Wrexham, Lewis Brunt, sehingga bola berubah arah dan masuk ke gawang. Laga Liverpool vs Wrexham ini disaksikan oleh 42.204 penonton, termasuk dua pemilik klub Wrexham yang terkenal, Ryan Reynolds dan Rob McElhenney.

Persiapan Liverpool Terganggu Masalah Penerbangan

Perjalanan Liverpool menuju New York tidak berjalan mulus. Tim asuhan Andoni Iraola harus menghadapi pembatalan penerbangan dari Chicago pada Selasa malam karena cuaca buruk di wilayah New York. Akibatnya, para pemain dan staf baru tiba di hotel kawasan Midtown sekitar tengah hari pada hari pertandingan. Setelah laga, mereka langsung kembali ke Chicago. Gangguan logistik ini tentu mempengaruhi kesegaran pemain, namun Iraola tetap bisa meraih hasil positif.

Absennya Beberapa Pemain Kunci

Sejumlah pemain bintang tidak tampil dalam pertandingan ini. Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Ryan Gravenberch masih dalam masa pemulihan setelah Piala Dunia dan belum siap bermain. Joe Gomez cedera, sementara Federico Chiesa absen karena sakit. Dengan kondisi tersebut, Iraola terpaksa menurunkan tim yang sangat eksperimental dengan enam pemain di starting XI yang belum memiliki pengalaman di Premier League.

Skuad Muda Jadi Sorotan, Joshua Abe Tampil Perdana

Meski tim banyak diisi pemain muda, hal itu justru memberi kesempatan kepada bakat-bakat berbakat untuk unjuk gigi. Joshua Abe, pemain sayap kanan cepat dan produktif, menjadi sorotan utama. Abe dianggap sebagai salah satu prospek terbaik di Inggris dan baru saja menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan Liverpool setelah menolak tawaran dari Manchester City, Manchester United, dan Chelsea. Dalam laga ini, Abe hampir mencetak gol pada menit awal setelah diumpan oleh Harvey Elliott, namun sentuhan pertamanya terlalu keras sehingga kiper Wrexham, Danny Ward, bisa mengamankan bola.

Jalannya Pertandingan: Peluang Terbuang dan Dominasi Fisik Wrexham

Liverpool memulai laga dengan lini depan yang terdiri dari Calum Scanlon, Lewis Koumas, dan Abe. Koumas sempat melepaskan tembakan jarak jauh dan meminta penalti, tetapi wasit mengabaikannya. Dominik Szoboszlai beberapa kali menunjukkan pergerakan impresif dari lini tengah, namun secara keseluruhan pertandingan berjalan cukup tenang. Wrexham, yang sudah lebih siap secara fisik karena kompetisi resmi mereka akan dimulai lebih awal, mulai mendominasi di babak pertama. Sam Smith dan Callum Doyle gagal memanfaatkan peluang yang ada.

Babak Kedua dan Gol Penentu

Pada babak kedua, Iraola melakukan beberapa pergantian. Abe, Scanlon, Milos Kerkez, dan Trey Nyoni digantikan oleh Ngumoha, Kieran Morrison, Kostas Tsimikas, dan Curtis Jones. Elliott mendapatkan peluang emas setelah menerima umpan dari Koumas, namun tembakan pertamanya dari jarak 20 yard masih bisa ditepis Ward. Szoboszlai juga nyaris mencetak gol dari jarak jauh, tetapi Ward kembali tampil gemilang. Gol akhirnya datang dari sepakan Ngumoha yang berbelok arah setelah mengenai Brunt.

Wrexham hampir menyamakan kedudukan lewat tendangan keras Nathan Broadhead dari 25 yard yang ditepis Giorgi Mamardashvili. Brunt dan Kieffer Moore juga memiliki peluang di menit-menit akhir, namun keduanya gagal memanfaatkan bola dari jarak dekat. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Kesimpulan: Kemenangan Berharga untuk Uji Coba

Meski bukan pertandingan yang spektakuler, kemenangan ini tetap penting bagi Liverpool untuk membangun kepercayaan diri para pemain muda. Bagi Anda yang gemar menganalisis mix parlay, performa pemain seperti Ngumoha dan Abe bisa menjadi bahan pertimbangan menarik di masa depan. Liverpool kini melanjutkan tur pramusim dengan hasil positif, sementara Wrexham fokus mempersiapkan diri untuk laga Carabao Cup melawan Middlesbrough.

Nyanyian Anti Imigran di Sepak Bola Inggris Melonjak, Data Terbaru Ungkap

Sepak bola Inggris kembali diterpa kabar mengkhawatirkan. Data terbaru dari Kick It Out, organisasi yang fokus memerangi diskriminasi, menunjukkan lonjakan signifikan dalam laporan nyanyian anti imigran di stadion-stadion Inggris. Tren ini menjadi cermin buruk bagi atmosfer pertandingan yang seharusnya menjadi ajang hiburan dan persatuan.

Lonjakan Pelaporan Nyanyian Anti Imigran

Sepanjang musim 2025-26, Kick It Out menerima 39 laporan terkait nyanyian yang menargetkan imigran. Angka ini lebih tinggi dari total dua musim sebelumnya jika digabungkan. Frase seperti “stop the boats” dan “send them back” dilaporkan terdengar di semua level kompetisi, mulai dari liga amatir hingga profesional. Fenomena ini oleh Kick It Out disebut sebagai tren mass chanting bernada diskriminatif yang semakin mengakar.

Peningkatan nyanyian anti imigran ini selaras dengan kenaikan laporan diskriminasi secara keseluruhan, baik di dalam stadion maupun di ruang digital. Total laporan diskriminasi mencapai 1.744 kasus pada musim lalu—sebuah rekor baru dan naik 25% dibanding musim sebelumnya.

Diskriminasi Meningkat di Semua Kategori

Setiap jenis diskriminasi mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Berikut rincian laporan yang diterima Kick It Out:

  • Rasisme: 792 laporan (45% dari total), naik 19%.
  • Seksisme: 216 laporan, naik 12%.
  • Homofobia: 203 laporan, naik 46%.
  • Anti-Semitisme: 93 laporan, naik 43%.
  • Ableisme (diskriminasi terhadap difabel): 89 laporan, naik 20%.
  • Islamofobia: 60 laporan, naik 88%.

Kenaikan drastis ini menunjukkan bahwa permasalahan diskriminasi di sepak bola Inggris masih jauh dari kata selesai. Isu nyanyian anti imigran menjadi salah satu wajah baru dari problem lama yang kian kompleks.

Sepak Bola Akar Rumput dan Pelecehan Wasit Juga Terdampak

Diskriminasi tidak hanya terjadi di level elite. Laporan dari sepak bola akar rumput (grassroots) naik untuk kelima kalinya secara berturut-turut, mencapai 248 laporan—naik 33% dibanding musim sebelumnya. Selain itu, pelecehan terhadap wasit tercatat sebanyak 98 laporan, angka yang sama dengan gabungan tiga musim sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya diskriminatif telah merambah hingga ke lapangan-lapangan kecil, dan membutuhkan intervensi serius dari semua pihak.

Respon Pemain dan Otoritas

Samuel Okafor, CEO Kick It Out, mengatakan bahwa peningkatan laporan juga mencerminkan keberanian para korban dan saksi untuk bersuara. “Angka-angka ini membuktikan diskriminasi masih tertanam dalam pertandingan, seiring meningkatnya ujaran kebencian di masyarakat. Namun, ini juga menunjukkan orang-orang semakin berani melawan pelecehan,” ujarnya.

Ia memuji langkah para pemain profesional yang menjadi contoh. Misalnya, bek timnas wanita Inggris, Jess Carter, yang melaporkan pesan bernada kebencian hingga pelaku divonis hukuman percobaan pada Maret lalu. Di kubu pria, Antoine Semenyo juga mengungkap pelecehan rasis yang diterimanya sepanjang musim, dan satu kasus sudah dijadwalkan untuk disidangkan pada September mendatang.

Temuan Kick It Out ini sejalan dengan laporan UK Football Policing Unit pekan lalu. Polisi mencatat bahwa sebagian kenaikan bisa disebabkan oleh perbaikan mekanisme pelaporan, misalnya kategori diskriminasi misoginis yang baru diperkenalkan awal musim lalu. Baik polisi maupun Kick It Out mendesak platform online untuk lebih proaktif mencegah ujaran kebencian.

Harapan ke Depan: Kesadaran yang Kian Membaik

Meskipun angka diskriminasi memprihatinkan, tren positif juga terlihat: semakin banyak orang yang berani melapor. Okafor menegaskan, “Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas sepak bola, klub, liga, regulator, dan pemerintah untuk memastikan keberanian melapor diiringi dengan tindakan yang jelas dan konsisten. Sepak bola harus menjadi tempat yang menyambut semua orang.”

Lonjakan nyanyian anti imigran dan bentuk diskriminasi lainnya menjadi alarm keras bagi industri sepak bola Inggris. Namun, dengan meningkatnya kesadaran dan keberanian untuk melawan, masih ada harapan untuk menciptakan stadion yang aman dan inklusif bagi semua kalangan.

Dominasi Finansial Premier League: Belanja Pemain Tembus £1,4 Miliar, Jauh di Atas Liga Lain

Belanja Pemain Premier League Musim Panas 2025: Tidak Ada yang Menandingi

Kekuatan finansial Premier League benar-benar tak tertandingi. Klub-klub di kasta tertinggi Inggris itu secara kolektif telah menginvestasikan lebih dari £1,4 miliar untuk pemain baru pada musim panas ini (berdasarkan biaya yang diungkapkan saja). Angka ini sekitar £303 juta lebih besar dari total belanja 76 klub dari Bundesliga, La Liga, Ligue 1, dan Serie A jika digabungkan. Fenomena ini kembali menegaskan betapa dominannya belanja pemain Premier League dibanding liga-liga top Eropa lainnya.

Angka tersebut adalah pengeluaran bruto, belum memperhitungkan penjualan pemain untuk menyeimbangkan neraca. Jika faktor penjualan dimasukkan, kesenjangan semakin melebar. Klub-klub Ligue 1 dan Bundesliga justru mencatat surplus masing-masing £203,4 juta dan £72,2 juta dari aktivitas transfer mereka. Sementara La Liga (£163,1 juta) dan Serie A (£124,1 juta) memang lebih banyak membelanjakan daripada pendapatan, tetapi mereka masih tercecer jauh dari net spend Premier League yang mencapai £523,6 juta.

Kesenjangan yang Terus Melebar

Pola ini bukanlah hal baru; sudah menjadi tren selama bertahun-tahun. Namun yang mengkhawatirkan bagi klub-klub di seluruh Eropa adalah celah antara Premier League dan liga lain kemungkinan akan semakin lebar sebelum jendela transfer musim panas ditutup. Meskipun pengeluaran sangat besar, klub-klub papan atas Inggris telah menghabiskan sekitar £230 juta lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada 1 Juli lalu, baru 25 kesepakatan yang rampung—jauh lebih sedikit dari 47 kesepakatan pada tahun sebelumnya. Faktor Piala Dunia yang diperluas kemungkinan menunda sejumlah transfer, sehingga berpotensi menciptakan lonjakan belanja transfer yang akan segera tercatat.

Klub Promosi dan Target Belanja

Tiga klub promosi—Ipswich, Hull, dan Coventry—hanya mengeluarkan dana £8 juta lebih banyak jika dibandingkan dengan Sundalone pada titik yang sama di tahun 2025. Musim lalu, Régis Le Bris mendatangkan total 18 pemain baru untuk Sunderland, sementara sesama tim promosi Burnley (15) dan Leeds (11) juga mencapai dua digit belanja pemain. Dengan standar ini, Ipswich (7 pemain baru), Hull (4), dan Coventry (3) jelas harus menambah skuad.

Klub dengan Belanja Besar: Aston Villa, Brighton, Tottenham

Menilai klub secara individual memperjelas mengapa sebagian besar dari mereka kemungkinan akan terus berbelanja. Aston Villa, Brighton, dan Tottenham sudah menghabiskan lebih banyak dalam hitungan bruto dibandingkan total mereka di jendela musim panas 2025. Unai Emery memiliki dana bersih £109,6 juta yang menganggur setelah kepergian Morgan Rogers dan Youri Tielemans. Brighton membutuhkan skuad lebih besar karena akan berlaga di Conference League, sementara Tottenham berharap memperbaiki peringkat ke-17 mereka secara berturut-turut. Net spend Tottenham sebesar £149,7 juta menjadi yang tertinggi di lima liga top Eropa, dan perdagangan mereka mungkin belum selesai.

Chelsea dan Klub Lain yang Terus Membelanjakan

Chelsea juga memiliki net spend lebih tinggi daripada tahun lalu, bahkan sebelum kesepakatan yang dilaporkan untuk Maxence Lacroix dari Crystal Palace terealisasi. Jika transfer itu tidak jadi, apakah Anda berani bertaruh BlueCo tidak akan mengeluarkan lebih banyak uang—terutama dengan manajer baru yang perlu didukung? Danny Welbeck menjadi nama terbaru yang dikaitkan dengan Stamford Bridge. Hal yang sama berlaku untuk Everton, Fulham, Manchester City, dan Newcastle; semuanya mungkin masih memiliki rencana belanja pemain tambahan.

Klub yang Belum Banyak Berbelanja: Arsenal, Liverpool, Manchester United

Di sisi lain skala Premier League, Arsenal, Liverpool, dan Manchester United secara kolektif menghabiskan dua pertiga miliar lebih sedikit untuk pemain baru dibandingkan musim panas lalu. Rumor terbaru menyebutkan juara bertahan mungkin bergerak untuk Vinícius Júnior. Jika bukan pemain Brasil itu, mungkin Bradley Barcola—meskipun Liverpool juga dikabarkan mengejar winger PSG tersebut. Tidak ada dari mereka yang murah. United diyakini menargetkan Ollie Watkins; harga pemain Aston Villa itu tidak akan semahal Vinícius atau Barcola, tetapi Villa juga tidak akan menjual ke rival dengan harga miring.

Klub yang Belum Mengeluarkan Biaya Transfer

Ada pula klub-klub Premier League yang belum mengeluarkan biaya transfer sama sekali. Crystal Palace, Nottingham Forest, dan Sunderland kemungkinan tidak akan mengakhiri musim panas tanpa mengeluarkan uang. Palace dan Sunderland akan lolos ke kompetisi Eropa musim ini, sehingga sangat tidak bijak jika mereka tidak berinvestasi. Forest, seperti Chelsea, memiliki hasrat tinggi terhadap perputaran pemain akhir-akhir ini. Dengan kepergian Elliot Anderson dengan biaya besar, penggantinya pasti akan segera datang.

Prospek Akhir Jendela Transfer: Rekor Baru?

Sungguh luar biasa memikirkan bahwa Premier League mungkin belum mencapai setengah dari total belanja musim panas mereka, padahal £1,4 miliar telah dikeluarkan. Musim panas lalu, klub-klub papan atas Inggris secara kolektif menghabiskan £3,1 miliar untuk rekrutmen, dengan lebih dari £600 juta terjadi pada pekan terakhir jendela transfer. Angka itu bisa saja terpecahkan ketika jendela transfer ditutup pada 3 September mendatang. Dengan belanja pemain Premier League yang terus mengalir deras, dominasi finansial liga ini dipastikan akan semakin kokoh—dan semakin menakutkan bagi kompetitor di seluruh Eropa.

Federico Chiesa Ingin Babak Baru di Liverpool Bersama Iraola

Chiesa Buka Lembaran Baru di Liverpool

Federico Chiesa mengaku ingin memulai “babak baru” di Liverpool di bawah asuhan manajer baru Andoni Iraola. Pemain sayap Italia itu mengalami masa frustrasi selama ditangani Arne Slot musim lalu, dan kini berharap peluangnya bermain lebih banyak terbuka lebar.

Meski mencatatkan 36 penampilan musim lalu, Chiesa hanya menjadi starter dalam lima pertandingan. Salah satu starter di Premier League terjadi saat Liverpool mengalami krisis cedera di lini depan, dan start terakhirnya adalah di kemenangan FA Cup atas Brighton pada 14 Februari.

Ketidakpuasan di Bawah Arne Slot

Pemain berusia 28 tahun itu menegaskan bahwa ia selalu berusaha memberikan yang terbaik, termasuk saat masih di bawah arahan Slot. Namun, ia merasa siap untuk peran yang lebih besar, tetapi keputusan tetap ada di tangan pelatih. “Saya merasa siap, tetapi itu tergantung pelatih apakah ia menginginkan saya bermain atau tidak,” ujar Chiesa.

Ia menambahkan bahwa pelatih memiliki rencana permainan sendiri dan ia tidak mempermasalahkannya. Kini dengan hadirnya Iraola, Federico Chiesa melihat ini sebagai awal baru yang perlu ia manfaatkan sebaik mungkin.

Belum Bicarakan Masa Depan dengan Iraola

Meski optimistis, Chiesa mengaku belum berbicara secara spesifik tentang perannya bersama Iraola. “Satu-satunya percakapan yang saya lakukan dengannya adalah soal pressing dan taktik. Ia menempatkan saya sebagai striker saat melawan Sunderland, dan ia menginginkan saya di posisi itu,” jelas mantan pemain Juventus tersebut.

Ketika ditanya soal kemungkinan kembali ke Serie A—dengan Como dan Juventus dikaitkan—Federico Chiesa menegaskan prioritasnya adalah membuktikan diri di Liverpool. “Saat ini saya bahagia di sini. Saya cinta klub, fans, dan segalanya. Saya lakukan yang terbaik untuk mendapatkan kesempatan,” katanya.

Liverpool Beruntung Lolos ke Liga Champions

Musim lalu Liverpool nyaris gagal lolos ke Liga Champions, dan Chiesa mengaku klub harus berterima kasih pada keberuntungan. “Liverpool layak mendapat lebih. Dua tahun lalu kami juara Premier League, musim lalu kami hampir kehilangan posisi Liga Champions. Kami bertarung untuk peringkat kelima, yang saat itu cukup, tapi biasanya hanya empat yang lolos. Kami beruntung,” tegasnya.

Ia menambahkan tim harus tampil lebih baik musim ini, baik di Liga Champions maupun Premier League, setelah tersingkir oleh PSG di Liga Champions musim lalu. “Kami ingin melangkah lebih jauh,” pungkas Chiesa.

Target Kembali ke Timnas Italia

Selain fokus di klub, Federico Chiesa juga berharap bisa merebut kembali tempatnya di skuad Italia. Ia absen dalam beberapa pemanggilan karena kebugaran fisik dan cedera. “Saya berbicara dengan pelatih Gennaro Gattuso, saat itu saya belum siap secara fisik. Ketika kembali pada Maret, saya cedera. Tapi saya menantikan bermain untuk tim nasional. Saya pernah menang bersama mereka (Euro 2020), dan selalu menyenangkan bermain dan menang untuk tim sendiri,” tutup Chiesa.

Era Iraola Liverpool: Kemenangan Perdana Dibayangi Cedera Gomez

Era Andoni Iraola di Liverpool resmi dimulai dengan kemenangan meyakinkan atas Sunderland dalam laga uji coba di Nashville. Namun, euforia kemenangan itu sedikit terusik oleh cedera yang menimpa bek utama mereka, Joe Gomez. Masalah di lini belakang yang sudah menjadi perhatian sejak awal pramusim kini semakin memprihatinkan.

Kemenangan 3-1 atas Sunderland di Geodis Park memang terasa manis. Gol dari Dominik Szoboszlai, Federico Chiesa, dan Lewis Koumas di babak kedua memastikan Liverpool pulang dengan hasil positif. Namun, cedera Gomez yang hanya bertahan 10 menit di lapangan membuat pelatih kepala baru harus berputar otak mencari solusi pertahanan.

Gomez Cedera, Duo Muda Gantikan

Iraola tidak menutupi kekhawatirannya. “Berita terburuk adalah cedera Joe,” akunya. “Kami sempat senang karena tidak ada pemain yang cedera selama latihan, tapi nasib buruk langsung datang.” Gomez harus ditarik keluar setelah mengalami cedera awal, dan posisinya digantikan oleh dua bek tengah berusia 18 tahun, Mor Talla Ndiaye dan Ifeanyi Ndukwe. Duo remaja ini direkrut pada Januari lalu dan baru kali ini bermain bersama di pertandingan resmi pramusim.

Ketika Gomez meninggalkan lapangan, ban kapten sempat dipegang Kostas Tsimikas sebelum akhirnya beralih ke Szoboszlai saat babak pertama usai. Situasi ini menggambarkan betapa rapuhnya lini belakang Liverpool saat ini. Dengan Virgil van Dijk dan Alisson belum bergabung penuh, serta Ibrahima Konate yang sudah hengkang ke Real Madrid, beban tanggung jawab di pundak Van Dijk musim depan akan sangat besar.

Laga Perdana dengan Suasana Sepi

Pertandingan ini juga menjadi ajang penghormatan untuk legenda Kevin Keegan yang baru saja meninggal. Kedua suporter memberikan tepuk tangan meriah sebelum hening sejenak mengenang jasa sang legenda Liverpool, Hamburg, dan Newcastle. Sayangnya, atmosfer stadion tidak terlalu ramai. Dari kapasitas 30.000 penonton, hanya 24.897 tiket yang terjual. Harga tiket yang melambung—dari $129 hingga $392 (sekitar Rp2 juta hingga Rp6 juta)—mungkin menjadi penyebab minimnya kehadiran penonton di laga pramusim ini.

Sunderland sendiri tampil tanpa beberapa pemain kunci seperti Granit Xhaka, Brian Brobbey, dan Thomas Meunier. Sementara Liverpool kehilangan banyak pemain inti yang masih berlibur setelah Piala Dunia, seperti Alexis Mac Allister, Victor Munoz, Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Ryan Gravenberch. Virgil van Dijk, Cody Gakpo, dan Alisson juga baru akan bergabung latihan minggu depan di markas Liverpool.

Rekrutan Baru Belum Main

Satu nama yang absen di laga ini adalah Jeremy Jacquet, bek anyar yang diboyong dari Rennes dengan biaya awal £55 juta. Iraola memilih berhati-hati dengan pemain yang sudah lama tidak bermain. “Kami memutuskan untuk tidak memaksanya. Dia akan bermain mungkin di pertandingan terakhir tur AS melawan Leeds di Chicago,” ujar Iraola. Jacquet dianggap sebagai investasi jangka panjang meski belum diuji di Premier League.

Kebijakan Liverpool merekrut bek muda seperti Talla Ndiaye (£1 juta dari Amitie Senegal) dan Ndukwe (£2,5 juta dari Austria Wina) menunjukkan fokus pada masa depan. Namun, kebutuhan jangka pendek di lini belakang jelas mendesak. Dengan Gomez yang rentan cedera, Jacquet yang belum siap, dan Giovanni Leoni yang masih dalam pemulihan cedera ACL, Van Dijk harus memikul tanggung jawab ekstra musim depan.

Gol Bersejarah Era Iraola

Dalam trivia masa depan, gol pertama era Iraola di Liverpool dicetak oleh Kieran Morrison. Winger berusia 19 tahun yang bermain di posisi sayap kanan—posisi yang ditinggalkan Mohamed Salah—menyelesaikan umpan Harvey Elliott dengan tendangan akurat ke sudut gawang. Elliott sendiri tampil bersemangat membuktikan diri setelah musim yang kurang memuaskan di Aston Villa.

Sunderland sempat membalas lewat gol indah Enzo Le Fée dari jarak 25 yard, dan bahkan berbalik unggul setelah jeda melalui aksi Jaydon Jones dan Timur Tutierov. Namun, Szoboszlai menyamakan kedudukan dengan tendangan keras dari luar kotak penalti. Chiesa kemudian mencetak gol spektakuler memanfaatkan umpan terobosan Calvin Ramsay, sebelum Koumas menutup kemenangan Liverpool.

Kesimpulan

Meski hasil akhir memuaskan, laga uji coba ini menjadi pengingat bagi Iraola bahwa ia harus segera memperkuat lini belakang. Cedera Gomez yang tampaknya cukup serius menambah daftar masalah yang harus dipecahkan sebelum Premier League dimulai. Tur AS masih menyisakan satu pertandingan melawan Leeds, dan semua mata akan tertuju pada bagaimana Iraola merotasi pemain serta memberi kesempatan kepada talenta muda seperti Morrison dan Koumas untuk bersinar.

Jürgen Klopp Resmi Jadi Pelatih Timnas Jerman, Ancam Mundur Jika Keluarga Diganggu Media

Klopp Ingin Ubah Wajah Timnas Jerman, Tapi Beri Peringatan Keras ke Media

Jürgen Klopp resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru timnas Jerman menggantikan Julian Nagelsmann. Dalam konferensi pers perdananya, Klopp menyatakan ingin membawa perubahan besar bagi sepak bola Jerman, namun ia juga memberikan ultimatum tegas: jika keluarganya terus diteror media, ia siap mundur tanpa kompensasi.

Pelatih berusia 59 tahun itu ditugaskan untuk membangkitkan kembali kejayaan Jerman yang sejak Piala Dunia 2014 hanya dua kali lolos ke babak 16 besar. Kegagalan di Piala Dunia 2022 (kalah dari Paraguay di 32 besar) menjadi titik balik yang membuat federasi sepak bola Jerman (DFB) memanggil Klopp.

Klopp sebelumnya menjabat sebagai kepala sepak bola global Red Bull sejak Januari 2025, setelah meninggalkan Liverpool pada 2024 karena kelelahan. Kembalinya Klopp ke kursi pelatih sudah dinantikan publik sejak Nagelsmann hengkang pada 3 Juli lalu.

Misi Besar: Ubah Hubungan Timnas dengan Publik Jerman

Klopp berjanji akan memperbaiki hubungan yang retak antara timnas Jerman dan masyarakat. Mengambil contoh pengalamannya di Liverpool, ia percaya sepak bola bisa menyatukan komunitas luas. “Saya ingin menciptakan situasi di mana fans pulang ke rumah dan berkata, ‘Wow, itu tadi keren.’ Saya ingin orang berkata, ‘Setelah menonton 90 menit, rasanya layak menyalakan TV untuk melihat Jerman bermain.’ Saya sudah merasakan bagaimana sepak bola bisa mengubah sebuah kota. Dan saya pikir ini bukan hanya tentang kota, tetapi juga tentang negara. Idealnya, sepak bola bisa mengubah sebuah negara,” ujarnya.

Ancaman Mundur: “Jika Keluarga Saya Tidak Dibiarkan Tenang, Saya Pergi”

Kontrak Klopp akan berlangsung hingga setelah Piala Dunia 2030. Namun, ia tidak segan meninggalkan jabatan jika media melanggar privasi keluarganya. “Saya menerima pekerjaan ini meskipun saya melihat bagaimana kalian memperlakukan Nagelsmann. Saya menerima pekerjaan ini meskipun saya melihat bagaimana kalian memperlakukan Thomas Tuchel di Inggris. Hari ketika kalian tidak menginginkan saya lagi, saya pergi tanpa pesangon. Jika besok kalian bilang ‘Dia payah,’ katakan langsung ke wajah saya dan saya akan keluar. Jika kalian bersikap buruk dan tidak membiarkan keluarga saya tenang, saya pergi, saya akan berbalik dan pergi,” tegasnya.

Klopp juga mengakui bahwa menjadi pelatih timnas Jerman adalah puncak kariernya. “Kritik saya jika ada yang tidak berhasil. Jürgen Klopp tidak akan punya karier lain setelah timnas. Ini adalah puncak karier saya sebagai pelatih. Saya akan berikan segalanya.”

Permintaan Maaf atas Candaan soal Nagelsmann

Klopp sempat dikritik karena candaannya saat menjadi komentator televisi di Piala Dunia. Ia mengatakan bahwa Nagelsmann “masih” memilih tim – yang diartikan sebagai isyarat bahwa Nagelsmann akan segera diganti. Klopp pun meminta maaf berkali-kali. “Itu adalah lelucon yang salah. Dalam retrospeksi, itu salah satu komentar ‘lucu’ terburuk yang pernah saya buat. Saya sangat menyesal, saya sudah minta maaf berjuta kali. Itu hanya ucapan tergesa-gesa tanpa maksud tersembunyi,” katanya. Ia juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-39 untuk Nagelsmann dan yakin mantan pelatih itu akan mendapat banyak peluang melatih tim besar di masa depan.

Gaya Main: Sepak Bola ala Jerman yang Intens, Bukan Tiru Negara Lain

Klopp berjanji timnas Jerman akan bermain dengan sayap-sayap lebar dan sepak bola ekspansif. Namun, ia mengakui harus menemukan cara sendiri bersaing dengan kedalaman skuad negara lain. “Kesuksesan adalah performa relatif terhadap ekspektasi. Ketika kami bertanya ‘Apakah kami sebaik Prancis?’ dan jawabannya tidak, itu tidak benar. Jika kami bertanya ‘Apakah kami punya pemain seperti Dembélé, Mbappé, Doué, dan Barcola?’, tidak, kami tidak punya, tetapi kami tetap bisa mengalahkan mereka,” ujarnya.

“Kami tidak ingin bermain seperti Argentina, Spanyol, Inggris, atau Prancis. Kami ingin melakukannya dengan cara Jerman, sangat intens. Apakah kami tim nomor 1 saat ini? Tidak, kami menerima itu. Ada 11 tim di atas kami dalam peringkat. Kami bisa mengalahkan mereka, tetapi untuk itu kami harus bermain sangat baik dan intens.”

Adaptasi ke Sepak Bola Internasional

Setelah puluhan tahun berkarier di klub, Klopp harus beradaptasi dengan ritme sepak bola internasional. “Kontak dengan tim tidak selalu soal bekerja dengan mereka setiap hari. Kadang hanya 30 menit atau satu jam di lapangan. Tapi semua pemain punya ponsel. Saya akan bicara dengan mereka, mendengarkan, menonton pertandingan, dan memberi umpan balik. Itu juga bagian dari mengembangkan pemain dan membuat mereka lebih baik,” jelasnya.

Ujian Perdana: Hadapi Belanda di Amsterdam

Masa kepelatihan Klopp akan langsung diuji berat saat melawan Belanda di Amsterdam pada 24 September, salah satu dari empat pertandingan Nations League dalam 11 hari. “Para pemain harus menunjukkan kepada saya, bukan hanya mengatakannya, bahwa bermain untuk Jerman adalah hal yang sangat istimewa,” pungkas Klopp.

Dengan segala ambisi dan peringatannya, publik Jerman kini menantikan era baru di bawah arahan Klopp sebagai pelatih timnas Jerman, yang siap mengubah negara lewat sepak bola – asalkan media tidak main-main dengan keluarganya.

10 Transfer Pemain Wanita yang Terlewat Selama Piala Dunia Pria

Sorotan Transfer Pemain Wanita yang Tak Boleh Dilewatkan

Meskipun perhatian dunia sepak bola tertuju pada Piala Dunia pria di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, bursa transfer pemain wanita justru bergerak sangat aktif. Beberapa nama besar seperti Beth Mead, Mary Earps, Sam Kerr, dan Alexia Putellas memang menjadi headline. Namun, masih banyak transfer pemain wanita penting lainnya yang luput dari sorotan. Berikut sepuluh perpindahan yang layak Anda catat.

Soccer Football – FIFA World Cup 2026 – Quarter Final – Norway v England – Miami Stadium, Miami Gardens, Florida, U.S. – July 11, 2026 FIFA President Gianni Infantino in the stands before the match REUTERS/Dylan Martinez REFILE – CORRECTING ID

Alexandra Popp ke Borussia Dortmund

Pemenang tiga kali Liga Champions, Alex Popp, memutuskan meninggalkan Wolfsburg setelah 14 tahun. Pemain 35 tahun ini menandatangani kontrak tiga tahun dengan Borussia Dortmund yang bermain di kasta ketiga Jerman. Sepanjang kariernya, Popp mencetak 112 gol dalam 219 pertandingan untuk Wolfsburg dan 67 gol untuk Jerman sebelum pensiun internasional pada 2024. Sebagai penggemar berat Dortmund, ia tak bisa menolak kesempatan untuk memajukan tim wanita yang baru dibentuk pada 2020.

Kirsty Hanson ke Tottenham

Setelah musim keempatnya yang gemilang di Aston Villa, Kirsty Hanson menjadi target utama Tottenham. Musim lalu ia menjadi pencetak gol terbanyak ketiga WSL dengan 12 gol dari 22 pertandingan — setara 43 persen total gol Villa. Spurs kini memberi manajer Martin Ho dukungan penuh untuk mendekati atau bahkan menembus empat besar.

Ally Sentnor ke Angel City

Pilihan pertama dalam draf NWSL 2024, Ally Sentnor, menjadi subjek transfer spektakuler senilai $850.000 (sekitar £635.000) dari Kansas City Current ke Angel City pada 19 Juni. Pemain timnas AS berusia 22 tahun ini langsung menjalani debut pada 3 Juli dan membantu kemenangan 2-0 atas Orlando Pride. Dengan tujuh gol dan tiga assist dalam 23 pertandingan internasional, masa depannya masih panjang.

Felicia Schröder ke Real Madrid

Banyak klub memburu Felicia Schröder, tetapi akhirnya pemain depan berusia 19 tahun itu memilih Real Madrid dari Häcken. Media Swedia melaporkan nilai transfernya mencapai lebih dari 15 juta kronor (sekitar £1,15 juta). Schröder mengoleksi 91 gol dalam 128 pertandingan untuk Häcken dan menjadi top skor di kompetisi perdana Europa Cup wanita UEFA dengan delapan gol, termasuk empat gol di final dua leg melawan Hammarby.

Manaka Matsukubo ke Chelsea

Pemain serba bisa berusia 21 tahun, Manaka Matsukubo, bergabung dengan Chelsea dari North Carolina Courage dengan biaya yang tidak diungkapkan. Ia bisa berperan sebagai penyerang atau gelandang serang. Musim 2025 ia mencetak 11 gol, menjadi pemain NWSL termuda yang mencetak hat-trick, dan dinobatkan sebagai gelandang terbaik NWSL. Chelsea bergerak cepat setelah ia mengemas lima gol dalam sembilan pertandingan awal musim 2026.

Johanna Rytting Kaneryd ke OL Lyonnes

Setelah meraih tiga gelar liga, dua Piala FA, dan dua Piala Liga bersama Chelsea (termasuk treble domestik), Johanna Rytting Kaneryd hengkang ke OL Lyonnes. Pemain Swedia berusia 29 tahun ini termasuk dalam rombongan pemain depan yang meninggalkan Chelsea musim panas ini, bersama Sam Kerr, Guro Reiten, dan Catarina Macario. The Blues merombak lini depan untuk merebut kembali mahkota WSL setelah disingkirkan Manchester City.

Noémie Mouchon ke Everton

Kepergian Kelly Gago ke West Ham sedikit terobati dengan kedatangan striker Prancis Noémie Mouchon dari Leicester. Pemain 23 tahun ini mengalami cedera ACL satu bulan setelah tiba di WSL, sehingga musim pertamanya hancur. Musim lalu ia tampil 16 kali (hanya dua starter) dan mencetak dua gol. Everton berharap ia kembali ke performa terbaiknya saat membela Reims dengan sembilan gol dalam 22 pertandingan musim 2023-24.

Denise O’Sullivan ke Gotham (pinjaman)

Gelandang timnas Republik Irlandia, Denise O’Sullivan, kembali ke NWSL dengan status pinjaman ke Gotham setelah enam bulan bersama Liverpool. Pemain 32 tahun ini menghabiskan 10 musim di Amerika bersama Houston Dash dan North Carolina Courage, serta beberapa kali dipinjamkan ke Australia dan Inggris. Ia memenangkan NWSL Shield 2017, 2018, dan 2019, serta NWSL Championship bersama Courage, dan dua kali dinobatkan sebagai MVP tim. Total 22 gol dalam 132 pertandingan untuk Irlandia.

Bethany England ke Crystal Palace

Penggemar Tottenham bersedih atas kepergian Bethany England. Mantan striker Chelsea itu menjadi pencetak gol terbanyak Spurs di WSL dengan 32 gol dalam tiga setengah musim, dan membawa mereka ke final FA Cup 2024. Kini pemain 32 tahun itu menandatangani kontrak dua tahun dengan Crystal Palace yang promosi ke divisi utama setelah finish kedua di WSL2. Dengan empat gelar WSL, dua FA Cup, dan dua League Cup, England membawa pengalaman berharga.

Kadidiatou Diani ke London City Lionesses

Kedatangan Alexia Putellas dan Mary Earps memang mendominasi berita London City Lionesses, namun kehadiran penyerang Prancis Kadidiatou Diani dari Lyonnes senilai lebih dari £500.000 hampir tak tersorot. Pemain 31 tahun ini mencetak 41 gol dalam 93 pertandingan untuk Lyonnes selama tiga musim, setelah sebelumnya mengemas 92 gol dalam 168 laga untuk PSG. Michelle Kang, pemilik kedua klub, berharap Diani menjadi ujung tombak yang membawa London City naik kelas — musim lalu mereka finis keenam di WSL.

Itulah sepuluh transfer pemain wanita yang mungkin terlewat selama Piala Dunia pria. Dari veteran seperti Popp hingga talenta muda seperti Matsukubo, pergerakan ini menunjukkan bahwa sepak bola wanita terus berkembang pesat. Pantau terus bursa transfer untuk kejutan-kejutan berikutnya.

10 Transfer Pemain Piala Dunia 2022 yang Mungkin Terlewatkan

Daftar Transfer Pemain Saat Piala Dunia 2022

Piala Dunia bukan hanya panggung bagi pemain untuk bersinar, tetapi juga momen strategis bagi klub untuk merekrut bakat baru. Banyak pergerakan pemain terjadi selama turnamen berlangsung, namun tak semuanya mendapat sorotan luas. Berikut adalah sepuluh transfer pemain saat Piala Dunia yang mungkin terlewatkan, mulai dari nama-nama familiar hingga kejutan dari Eropa.

Leandro Trossard ke Besiktas

Diumumkan tepat sebelum semifinal Inggris melawan Argentina, transfer Trossard senilai ₤15,3 juta ke Istanbul nyaris tak terdengar. Setelah tiga setengah musim bersama Arsenal, kepindahan mantan pemain berusia 31 tahun ini terasa alami. Ia akan dikenang sebagai pemain yang mencetak gol di momen-momen krusial, termasuk peran vital dalam gelar liga pertama Arsenal setelah 22 tahun. Trossard meninggalkan 174 penampilan dan 36 gol, sebagian besar datang dari bangku cadangan saat tim membutuhkan. Kepergiannya akan dirindukan dan ia layak dihormati sebagai pahlawan kultus era Mikel Arteta.

Nathaniel Brown ke Bayern Munich

Hanya sedikit pemain Jerman yang menuai pujian selama Piala Dunia, tetapi Brown tampil energetik di posisi bek kiri dan berhasil memikat Bayern Munich. Lahir di Amberg, Bavaria, ia dibesarkan di akademi Nürnberg. Setelah dua tahun di Eintracht Frankfurt dan delapan caps bersama timnas Jerman, Brown mengambil jalur cepat ke klub dominan negaranya. Dengan kepergian Raphaël Guerreiro dan cedera Alphonso Davies, Vincent Kompany akan sangat diuntungkan oleh kemampuan natural Brown sebagai bek kiri murni, setelah musim lalu menggunakan berbagai pemain untuk menambal pertahanan Bayern.

Denzel Dumfries ke Real Madrid

Bek kanan Belanda ini kerap menjadi kekuatan di turnamen besar. Ia mencetak dua gol di Euro 2020, membawanya pindah dari PSV ke Inter. Di Piala Dunia 2022, ia membantu Belanda melewati Amerika Serikat di babak 16 besar dengan satu gol dan dua assist. Di Amerika Utara (merujuk pada Piala Dunia 2026, konteks artikel asli), pemain 30 tahun ini menyumbang dua assist saat Belanda mencapai 32 besar. Setelah tersingkir oleh Maroko, Dumfries menandatangani kontrak empat tahun di Real Madrid setelah klausul rilisnya di Inter diaktifkan – ia bergabung bersama Bernardo Silva dan Ibrahima Konaté sebagai pemain gratis. Pindah ke Hollywood sungguh tepat untuk pemain yang dinamai sesuai aktor Denzel Washington.

Emersonn ke Ipswich

Diumumkan tepat sebelum perempat final Piala Dunia, striker Brasil berusia 22 tahun ini baru tiba di Toulouse musim panas lalu. Namun, satu musim di Ligue 1 cukup untuk meyakinkan klub promosi Premier League untuk merogoh kocek £24 juta. Dengan tinggi 6 kaki 3 inci, Emersonn memadukan postur target-man klasik dengan mobilitas untuk melebar ke area sayap. Catatan mentahnya 6 gol dalam 27 penampilan liga menunjukkan transfer ini lebih didasarkan pada potensi daripada produktivitas. Manajer Gary O’Neil melihatnya sebagai tipe penyerang No 9 modern: agresif, pekerja keras, dan mampu mengganggu bek lawan bahkan saat tidak mencetak gol.

Harry Winks ke Cagliari

Ada alam semesta paralel di mana Harry Winks menjadi poros penting lini tengah Inggris, meraih lebih dari 10 caps yang ia miliki saat ini. Mauricio Pochettino pernah menyebut gelandang rapi ini bisa menjadi jawaban Inggris untuk Andrés Iniesta. Kenyataannya tidak demikian: cedera menghambat karier Winks di Spurs dan perjuangan berlanjut di Leicester, meski sempat bangkit di bawah Enzo Maresca. Kini berusia 30, Winks bergabung dengan pemain muda Everton, Demi Akarakiri, di Cagliari – klub yang sebelumnya hanya memiliki satu pemain Inggris, penyerang Gerry Hitchens yang pergi pada 1969. Ini bukan pertama kalinya Winks merumput di Serie A, setelah dipinjamkan ke Sampdoria pada 2022-23 yang berakhir dengan degradasi. Kali ini, ia mungkin mencari stabilitas dan ritme lebih lambat di Sardinia.

Mathys Detourbet ke Manchester City

Transfer Detourbet senilai £21,6 juta ke Etihad mungkin terlupakan setelah peresmian Enzo Maresca dua hari kemudian dan kedatangan Elliot Anderson senilai £116 juta pekan berikutnya, belum lagi akhir fase grup Piala Dunia. Pemain 19 tahun ini adalah rekrutan pertama City musim panas itu. Bergabung dari Troyes yang merupakan bagian dari City Football Group, ia telah bermain untuk klub Prancis itu sejak usia delapan tahun. Sebagai pemain sayap remaja yang digambarkan “sumber kebanggaan besar” oleh mantan klubnya, ia menunjukkan potensi dengan 3 gol dan 6 assist dalam 33 penampilan di Ligue 2 musim lalu, membantu Troyes promosi sebagai juara. Dipinjamkan ke Monaco untuk musim mendatang, ia akan berusaha menunjukkan kualitas di Ligue 1 dan menarik perhatian Maresca.

Illan Meslier ke Arsenal

Mungkin perjuangan berat untuk menggusur David Raya sebagai kiper utama, tetapi kedatangan Meslier secara gratis ke Arsenal bisa menyingkirkan Kepa Arrizabalaga. Kepercayaan terhadap cadangan Raya luntur setelah penampilan buruk di final Carabao Cup musim lalu. Kehadiran mantan kiper Leeds ini tampaknya membuka pintu bagi kepergian Arrizabalaga. Meslier lima tahun lebih muda dan memiliki 107 penampilan Premier League, tetapi musim lalu ia tertinggal di belakang Karl Darlow dan Lucas Perri di Elland Road. Sering dikritik karena kesalahan spektakuler di Leeds, kini ia harus memenangkan hati para skeptis dan, jika Arrizabalaga pergi, menjadikan peran kiper nomor dua miliknya sendiri.

Gonçalo Ramos ke Milan

Milan memecahkan rekor transfer klub saat membayar £60,2 juta untuk merekrut Ramos pada akhir Juni. Dengan 45 gol dalam 131 penampilan untuk Paris Saint-Germain, membantu mereka meraih tiga gelar liga dan dua trofi Liga Champions, pemain 25 tahun ini berguna bagi Luis Enrique tetapi tak akan pernah menjadi bintang utama di lini depan yang dihuni Khvicha Kvaratskhelia, Ousmane Dembélé, dan Désiré Doué. Ia hanya tampil sebagai pemain pengganti di final Liga Champions yang dimenangkan PSG, meski mencetak gol pembuka dalam adu penalti melawan Arsenal. Sebagai rekrutan pertama Ruben Amorim di Milan, ia akan menjadi pusat perhatian, sedangkan di PSG ia hanya sekadar pendukung.

Robert Lewandowski ke Chicago Fire

Polandia tidak lolos ke Piala Dunia, tetapi hal itu tidak menghentikan pemain terhebat mereka untuk melintas ke AS musim panas ini. Lewandowski berkata ia tak bisa membayangkan berada di klub Eropa selain Barcelona setelah mengakhiri empat musim di Catalonia dengan tiga gelar La Liga dan 120 gol. Pada usia 37, ia masih dalam kondisi fisik prima, sehingga ada kemungkinan dampak ala Zlatan Ibrahimovic di Major League Soccer, tanpa kegaduhan. Mantan pelatih AS Gregg Berhalter menjadi bos barunya di Chicago.

Jakub Kaminski ke Köln … dan Benfica

Tidak puas dengan satu pergerakan tanpa sorotan, Kaminski melakukan dua transfer musim panas ini. Setelah menembus Lech Poznan, pemain sayap Polandia pindah ke Wolfsburg pada 2022 tetapi kehilangan tempat, lalu menjalani musim pinjaman di Köln. Ia tampil impresif untuk tim promosi Bundesliga, bermain di setiap pertandingan liga dan mengisi berbagai peran ofensif. Köln membayar €5,5 juta (£4,7 juta) untuk merekrutnya permanen pada Mei, tetapi Benfica milik Marco Silva menebus klausul rilis Kaminski sebesar €20 juta (£17,1 juta) hanya dua bulan kemudian. Köln mendapat untung besar – dan menginvestasikan sebagian pada pemain muda Manchester City, Reigan Heskey – tetapi mereka kehilangan rekrutan kunci musim panas.

Itulah sepuluh transfer pemain saat Piala Dunia yang luput dari perhatian. Beberapa mungkin menjadi kejutan, sementara yang lain adalah langkah berani yang patut diikuti perkembangannya. Piala Dunia tidak hanya melahirkan bintang baru di lapangan, tetapi juga pergerakan cerdas di bursa transfer.

Morgan Rogers Resmi Gabung Chelsea: ‘Klub Terbesar di London’

Transfer Morgan Rogers Chelsea: Rekor Baru di Stamford Bridge

Morgan Rogers Chelsea resmi menjadi kenyataan. Klub asal London Barat itu mengumumkan perekrutan pemain sayap Aston Villa dengan mahar fantastis £117 juta. Angka tersebut menjadikan Rogers sebagai pembelian termahal dalam sejarah Chelsea, melampaui rekor sebelumnya. Pemain berusia 23 tahun itu menandatangani kontrak berdurasi tujuh tahun, mengikat masa depannya di Stamford Bridge hingga 2031.

Proses Negosiasi: Chelsea Kalahkan Arsenal

Kesepakatan dicapai pada Sabtu lalu setelah Chelsea bergerak cepat mendahului Arsenal, yang sebelumnya dianggap sebagai calon utama peraih tanda tangan pemain timnas Inggris itu. The Gunners dikabarkan telah menjalin komunikasi intensif, namun Chelsea berhasil meyakinkan Rogers untuk memilih London barat. Faktor penentu utama adalah kesempatan bekerja sama dengan manajer anyar Chelsea, Xabi Alonso.

Rogers sendiri baru saja membantu Inggris meraih peringkat ketiga Piala Dunia. Ia tampil sebagai starter dalam semifinal kontra Argentina (kalah 1-2) dan perebutan medali perunggu melawan Prancis (menang 6-4). Dalam wawancara resmi dengan situs klub, ia mengungkapkan antusiasmenya: “Saya sangat bersemangat. Bagi saya, Chelsea adalah klub terbesar di London dan klub yang selalu saya kagumi sejak kecil. Saya benar-benar antusias dengan proyek manajer baru, pemain-pemain yang ada, serta arah klub ke depan. Itulah sebabnya saya ada di sini dan tak sabar untuk memulai.”

Profil Morgan Rogers: Gaya Bermain dan Peran di Chelsea

Rogers adalah pemain serba bisa di lini depan, sesuai dengan kebutuhan Chelsea akan pemain yang mampu mengisi berbagai peran ofensif. Ia menjalani peningkatan pesat di Aston Villa sejak pindah dari Middlesbrough pada Januari 2024. Musim lalu, ia menjadi motor permainan Villa yang berhasil finis di empat besar Liga Primer dan melaju hingga babak grup Liga Europa.

Selama 125 penampilan bersama Unai Emery, Rogers mencetak 31 gol dan 15 assist. Catatan ini menunjukkan kontribusinya yang konsisten di level tertinggi. Dengan kemampuan bermain sebagai sayap kiri, kanan, maupun gelandang serang, ia memberikan fleksibilitas taktis bagi Xabi Alonso.

Rekor Transfer dan Dampak Finansial

Transfer ini menjadi salah satu pembelian paling signifikan di era kepemilikan BlueCo selama empat tahun terakhir. Co-owner Behdad Eghbali mengindikasikan pada akhir musim lalu bahwa Chelsea telah belajar dari kegagalan finis di peringkat 10 dan tersingkir telak dari PSG di babak 16 besar Liga Champions. Klub kini berkomitmen mendatangkan pemain yang siap bersaing memperebutkan gelar juara.

Kehadiran Xabi Alonso, mantan gelandang Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Muenchen yang dua kali juara Liga Champions sebagai pemain, menjadi daya tarik utama. Alonso direkrut sebagian untuk meyakinkan pemain berkualitas seperti Rogers agar mau bergabung. Kesepakatan ini disebut-sebut sebagai gebrakan terbesar Chelsea sejak merekrut Cole Palmer dari Manchester City pada 2023.

Jendela Transfer Chelsea Musim Panas 2025

Rogers menjadi pemain keempat yang direkrut Chelsea pada bursa musim panas ini, setelah bek Marco Palestra, striker Emmanuel Emegha, dan winger Geovany Quenda. Sebelumnya, pada Juni, Chelsea gagal memboyong Granit Xhaka dari Sunderland karena tidak bersedia memenuhi banderol yang diajukan klub tersebut untuk pemain yang akan berusia 34 tahun pada September nanti.

  • Bek: Marco Palestra (dari klub Italia)
  • Striker: Emmanuel Emegha (dari klub Prancis)
  • Winger: Geovany Quenda (dari klub Portugal)
  • Winger/Sayap: Morgan Rogers (dari Aston Villa)

Kesimpulan: Awal Era Baru di Chelsea

Transfer Morgan Rogers Chelsea bukan hanya soal uang dan rekor, melainkan pernyataan ambisi klub untuk kembali ke papan atas. Dengan kombinasi pemain muda berbakat, manajer papan atas, dan dukungan finansial yang kuat, The Blues siap bersaing di semua ajang musim depan. Rogers diharapkan menjadi kunci serangan Chelsea dan membawa tim kembali ke jalur juara. Para penggemar tentu menantikan debutnya di Stamford Bridge.