Dukungan Konfederasi FIFA untuk Infantino Mulai Retak

Tekanan terhadap presiden FIFA, Gianni Infantino, semakin besar setelah sejumlah negara menarik dukungan mereka pasca gagalnya rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang kacau. Pertanyaan besarnya kini adalah bagaimana arah dukungan konfederasi FIFA kepada Infantino menjelang pemilihan presiden yang akan datang. Apakah akan muncul penantang serius, atau justru Infantino tetap aman karena dukungan dari benua Asia dan Afrika masih kuat?

Dalam struktur FIFA, enam konfederasi — UEFA (Eropa), AFC (Asia), CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah), CAF (Afrika), CONMEBOL (Amerika Selatan), dan OFC (Oseania) — memegang peran penentu dalam setiap pemilihan. Masing-masing punya kepentingan, sejarah hubungan, dan tingkat ketergantungan finansial yang berbeda terhadap FIFA. Kombinasi dari faktor-faktor inilah yang akan menentukan apakah Infantino mampu bertahan atau justru tersingkir dari kursi kekuasaannya.

(FILES) FIFA president Gianni Infantino reacts during the 2026 World Cup Group D football match between USA and Paraguay at the Los Angeles Stadium in Inglewood on June 12, 2026. Wales on August 3, 2026 became the first nation to publicly withdraw support for FIFA president Gianni Infantino’s re-election bid over his failed plan to sell off stakes in the World Cup. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Peta Dukungan Konfederasi FIFA untuk Infantino

UEFA: Paling Vokal Menuntut Perubahan

UEFA menjadi motor utama gerakan untuk menyingkirkan Infantino dari kursi presiden FIFA. Ancaman untuk memboikot seluruh kompetisi FIFA pekan lalu, jika skema Fifa Forward Enterprise tidak dihapus, disebut-sebut menjadi penyebab besar kegagalan rencana tersebut. Dalam pernyataan keras pada Sabtu, UEFA menegaskan bahwa kepemimpinan FIFA saat ini “tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya”.

Sejumlah asosiasi anggota UEFA, termasuk federasi sepak bola Inggris dan Wales, telah menarik surat dukungan mereka untuk pencalonan ulang Infantino. Upaya terus dilakukan agar asosiasi lain melakukan hal yang sama demi melemahkan posisi Infantino secara permanen. Langkah ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Infantino di kubu Eropa bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang terorganisir dan terus digencarkan.

AFC: Terpecah dan Menunggu Arah Angin

Laporan yang menyebut AFC mendukung langkah UEFA masih terlalu prematur, karena konfederasi Asia ini justru terpecah. AFC memang telah menyuarakan penolakan terhadap rencana kesepakatan Piala Dunia tersebut dan menyerukan reformasi FIFA, sebuah sikap yang tergolong berani dibanding pernyataan-pernyataan mereka sebelumnya. Namun, para pemimpin AFC lebih marah pada cara proposal itu disusun ketimbang pada detail kesepakatan itu sendiri.

Jika Infantino benar-benar terlihat sedang dalam kesulitan, kepemimpinan AFC bisa saja berpindah haluan. Akan tetapi, sebagian besar federasi Asia justru tidak ingin Infantino digantikan, dan negara-negara berpengaruh seperti Qatar, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi masih berada di belakangnya. Presiden AFC, Sheikh Salman, memiliki ambisi sendiri dan selama ini sukses menjaga kesatuan Asia, tetapi situasi ini menjadi ujian berat — terutama setelah Pangeran Ali bin Hussein dari Yordania melontarkan tuduhan “pemerasan” yang bisa menjadi momen penting dalam dinamika politik FIFA.

CONCACAF: Menuntut Pertanggungjawaban Penuh

CONCACAF termasuk konfederasi yang paling tegas menentang Infantino dan proposal Fifa Forward Enterprise. Mereka langsung menolak rencana itu, lalu mengeluarkan pernyataan tajam setelah proposal ditarik yang mengarahkan kritik langsung kepada kepemimpinan Infantino. Dalam rilis yang mewakili 41 asosiasi anggota CONCACAF, rencana tersebut disebut sebagai “gejala kepemimpinan yang berhenti mengutamakan sepak bola” dan “tindakan sepihak serta keterlaluan dalam tata kelola yang buruk”.

Pernyataan itu juga menyerukan “penghitungan menyeluruh terhadap masa kepresidenan ini”, sebuah nada yang hampir setara dengan mosi tidak percaya di luar mekanisme pemilihan. Menariknya, presiden CONCACAF Victor Montagliani juga menjabat wakil presiden FIFA dan menjadi kandidat utama jika ada keinginan bersama untuk menjatuhkan Infantino. Meski Montagliani sebelumnya cenderung bungkam saat ditanya soal itu, pernyataan tegas atas nama konfederasi menunjukkan setidaknya ia tidak menutup kemungkinan untuk melawan Infantino.

CAF: Dukungan Bulat untuk Infantino

Berbeda dengan Eropa dan Amerika Utara, Afrika justru menunjukkan solidaritas penuh kepada Infantino. Patrice Motsepe, presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), menyatakan bahwa 54 asosiasi anggota CAF secara bulat mendukung pencalonan ulang Infantino dalam pemilihan di Maroko tahun depan. Dukungan dari blok Afrika ini menjadi modal politik yang sangat berharga bagi Infantino untuk mempertahankan kursinya.

CONMEBOL: Diam dan Pragmatis

CONMEBOL justru memilih bungkam di tengah hiruk-pikuk penolakan terhadap Infantino. Presidennya, Alejandro Domínguez, sibuk mengirim ucapan ulang tahun kepada individu, klub, dan institusi dari Uruguay, tempat ia berkunjung menjelang perayaan seratus tahun Piala Dunia pertama pada 2030. Baru setelah beberapa hari, CONMEBOL mengeluarkan pernyataan yang cenderung netral, menekankan sepak bola di atas segalanya dan meminta informasi serta klarifikasi lebih lanjut — dan sejak itu tidak ada pernyataan resmi lagi.

Menurut Marina Mendez, direktur AD Sporting Industry Professionals yang juga konsultan sepak bola di kawasan tersebut, posisi CONMEBOL paling tepat disebut sebagai “dukungan yang hati-hati, bukan konfrontasi terbuka”. Sikap ini menunjukkan CONMEBOL ingin menjaga hubungan kelembagaan dengan FIFA dan tetap memiliki ruang negosiasi, sekaligus mengamankan akses dan pengaruh sepak bola Amerika Selatan di dalam FIFA. Brasil dan Argentina menjadi negara utama di konfederasi ini, dan Domínguez disebut pandai menjaga hubungan dengan keduanya, sementara sebagian besar negara lain biasanya mengikuti arah yang sama.

OFC: Masih Menimbang Sikap

Oseania belum menentukan sikap final hingga saat ini. Selandia Baru sebagai anggota terbesar konfederasi dengan cepat menentang proposal Piala Dunia itu, meskipun OFC sendiri tidak berkomitmen pada sikap tersebut. Masih ada dukungan terhadap Infantino di antara federasi-federasi lain di kawasan Pasifik, terutama mereka yang selama ini merasakan manfaat langsung dari kebijakan FIFA.

Jejak Hubungan Infantino dengan Setiap Konfederasi

UEFA: Dari Orang Dalam Menjadi Lawan Politik

Infantino adalah produk asli UEFA, menjabat sebagai sekretaris jenderal dari 2009 hingga 2016, dan UEFA menjadi pendukung kuatnya saat pertama kali maju sebagai calon presiden FIFA. Namun, hubungan antara badan sepak bola dunia dan konfederasi dari benua paling kuat ini memburuk secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. UEFA berulang kali menangkis inisiatif Infantino seperti wacana Piala Dunia dua tahun sekali dan rencana investasi SoftBank pada 2018.

Puncak ketegangan terjadi pada Mei 2025 ketika delegasi sejumlah federasi Eropa berjalan keluar dari kongres FIFA sebagai protes atas keterlambatan kedatangan Infantino. Mereka menuduh Infantino mengejar “kepentingan politik pribadi” dalam berbagai kebijakannya. Kontroversi yang tak kunjung reda sepanjang tahun lalu semakin memastikan bahwa perbedaan antara kedua kubu sudah sulit untuk didamaikan.

Asia, Afrika, dan Oseania: Kedekatan yang Terbangun Lama

Hubungan Infantino dengan Asia terjalin erat sejak ia mengalahkan Sheikh Salman dalam pemilihan 2016. Salman dan AFC disebut melihat Infantino sebagai pemimpin yang mudah dihubungi, terbuka, dan memberi perhatian setara kepada semua kawasan — sesuatu yang langka di mata Asia. Perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim diterima baik di Asia, bahkan wacana 64 tim pun disambut positif, sehingga tak heran Infantino terus mengingatkan Asia akan manfaat-manfaat di bawah kepemimpinannya.

Di Afrika, jejak Infantino panjang dan tidak lepas dari kontroversi. Ia mendukung Ahmad Ahmad dari Madagaskar untuk menjatuhkan Issa Hayatou sebagai presiden CAF pada Maret 2017, sebuah intervensi yang membuat Hayatou marah besar di hadapan Infantino dan Sekretaris Jenderal FIFA saat itu, Fatma Samoura. Masa kepemimpinan Ahmad justru berakhir dengan pemecatan karena pelanggaran etika, dan FIFA sempat mengambil alih administrasi harian CAF dari Agustus hingga Desember 2019 — langkah yang di banyak kalangan Afrika disebut sebagai tindakan neo-kolonial dan pelanggaran atas otonomi CAF.

Di Oseania, Infantino bekerja keras membangun hubungan personal sekaligus finansial, dan para pejabat OFC kerap menyebutnya sebagai teman. Perluasan Piala Dunia ke 48 tim akhirnya memberi Oseania satu jatah otomatis yang selama ini dijanjikan tetapi tidak pernah diwujudkan FIFA, dan ide jatah lebih banyak dalam kompetisi 64 tim juga dinilai menarik. Di bawah kepemimpinan Infantino, Selandia Baru menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita bersama Australia, dan FIFA turut mendukung pendirian Liga Profesional Oseania yang dimulai pada Januari lalu.

CONCACAF dan CONMEBOL: Dinamika yang Berbeda

Hubungan Infantino dengan CONCACAF tidak terlalu panjang, dimulai dari penetapan Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Sebelum pernyataan keras CONCACAF akhir pekan lalu, tidak banyak ikatan historis langsung antara Infantino dan konfederasi ini. Sementara itu, hubungan CONMEBOL dengan Infantino justru terbangun dari momen-momen penting, seperti kunjungannya ke markas Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) setelah kematian Julio Grondona, ketika FIFA turun tangan mengawasi pembersihan internal AFA menyusul temuan jumlah suara yang tidak wajar dalam pemilihan.

Pada 2018, di