Pelatih Matthias Jaissle Newcastle tetap menunjukkan sikap optimistis meski anak asuhnya harus menelan kekalahan 2-1 dari Bayer Leverkusen dalam laga uji coba di St James’ Park. Lebih dari 39.000 penonton hadir menyaksikan pertandingan pada Sabtu itu, dan banyak dari mereka pulang dengan perasaan campur aduk. Kekalahan dari Leverkusen memang terasa kurang memuaskan, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah kesiapan tim menjelang laga Premier League melawan Liverpool pada Minggu berikutnya.
Kekalahan ini terjadi di tengah masa transisi berat yang sedang dilalui Newcastle. Tim asal timur laut Inggris itu baru saja kehilangan Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimarães pada bursa musim panas ini, sementara Eddie Howe hengkang secara mendadak pada akhir Juli. Matthias Jaissle, pelatih asal Jerman berusia 38 tahun yang sebelumnya menangani Al-Ahli di Jeddah, kini dipercaya untuk menyatukan kembali skuad yang sedang berada dalam masa peralihan.
Kekalahan yang Tetap Menyimpan Hal Positif
Leverkusen sebenarnya tampil tanpa mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tetapi mereka tetap mampu merebut kemenangan di hadapan pendukung tuan rumah. Newcastle tertinggal sejak menit pertama ketika Ibrahim Maza melepaskan tembakan kaki kiri dari dalam kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper baru Newcastle, Lukas Hornicek. Meski ini hanya laga persahabatan, Jaissle yang biasanya tampil percaya diri tetap terlihat sedikit kecewa dengan gol cepat tersebut.
Namun, Jaissle punya alasan untuk tersenyum setelah timnya bermain semakin baik sepanjang babak pertama. Tertinggal lebih dulu, Newcastle berhasil menyamakan kedudukan menjelang turun minum melalui sundulan Malick Thiaw yang memanfaatkan sepak pojok Anthony Elanga. Jaissle menyambut gol tersebut dengan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasinya terhadap peningkatan permainan anak buahnya.
Babak kedua berjalan lebih ketat, dan Leverkusen akhirnya memastikan kemenangan lewat gol Victor Boniface. Penyerang asal Nigeria itu dengan cekatan memutar badan untuk melewati Sean Steur sebelum menuntaskan peluang dengan tembakan mendatar di penghujung laga. Leverkusen pun tampil lebih berbahaya setelah memasukkan Patrik Schick di babak kedua, sementara Newcastle masih kesulitan mengembangkan serangan yang efektif.
Matthias Jaissle Newcastle dan Misi Menggantikan Eddie Howe
Laga melawan Leverkusen ini menjadi pertandingan pertama Matthias Jaissle Newcastle di St James’ Park, dan hasilnya tentu bukan awal yang ideal. Pada akhir tahun lalu, kedua tim ini sempat bermain imbang di fase grup Liga Champions, tetapi keadaan sejak saat itu berubah drastis. Leverkusen berhasil merombak skuad transisi mereka dengan lebih baik, sementara Newcastle justru membongkar tim yang mereka miliki.
Jaissle sendiri mengakui betapa beratnya tugas yang ia emban. “Ini tantangan besar. Ini transisi besar,” ujarnya seusai pertandingan. Meski begitu, pelatih asal Jerman itu menunjukkan gestur gelisah di sepanjang laga, bahkan kerap keluar dari batas area teknis hingga menjadi perhatian ofisial pertandingan, yang menggambarkan betapa ia ingin segera melihat timnya menemukan ritme terbaik.
Mason Miley Jadi Temuan Menarik di Lini Belakang
Salah satu hal yang paling menonjol dari laga ini adalah penampilan Mason Miley yang baru berusia 17 tahun. Adik dari Lewis Miley itu tampil sebagai bek kanan dan berhasil merepotkan Miguel Gutiérrez dari Leverkusen sepanjang pertandingan. Produk akademi Newcastle tersebut bahkan menjadi kandidat kuat untuk mengisi pos bek kanan saat menghadapi Liverpool, apalagi Tino Livramento sedang dibekap cedera betis.
Jaissle memberikan pujian khusus kepada Mason yang terpincang-pincang keluar lapangan karena kram pada babak kedua. “Mason adalah pemain muda dengan sikap yang kami butuhkan; dia punya hati yang tepat dan kualitas yang tepat,” kata Jaissle. Pujian ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelatih asal Jerman tersebut tidak ragu memberi kepercayaan kepada pemain muda yang layak tampil.
Di sisi lain, Lewis Miley juga tampil untuk pertama kalinya sejak mengalami patah kaki pada musim semi lalu. Ia terlihat solid di lini tengah dan menunjukkan kepercayaan diri seperti biasanya. Sementara itu, Dan Burn tetap akan menjadi kapten Newcastle dengan Joelinton sebagai wakilnya, meski Joelinton dipastikan absen melawan Liverpool karena cedera. Burn sendiri tidak diturunkan dalam laga ini karena Jaissle membagi skuadnya menjadi dua tim untuk menghadapi dua laga uji coba di akhir pekan yang sama.
Pekerjaan Rumah Besar di Lini Tengah
Selain masalah bek kanan, Newcastle juga menghadapi kekosongan besar di lini tengah setelah kepergian Tonali dan Guimarães. Sean Steur yang baru berusia 18 tahun memang menunjukkan beberapa sentuhan apik, tetapi pemain jebolan akademi Ajax itu masih kerap memperlihatkan kurangnya pengalaman. Ia bahkan menjadi korban kegesitan Boniface saat gol kemenangan Leverkusen tercipta.
Newcastle jelas membutuhkan sosok yang lebih matang untuk mengisi kekosongan tersebut, tetapi upaya mereka menemui banyak hambatan. Beberapa nama telah dikaitkan dengan klub, namun belum ada satu pun yang benar-benar pasti bergabung.
- Pierre-Emile Højbjerg dari Marseille dikabarkan menolak tawaran senilai 13 juta poundsterling untuk pindah ke tim asal timur laut Inggris itu.
- João Palhinha masih belum bisa diyakinkan untuk meninggalkan Bayern Munich demi mengisi kekosongan kepemimpinan di lini tengah Newcastle.
- Amar Dedic dari Benfica kabarnya semakin dekat dengan kepindahan ke Tyneside; bek berusia 23 tahun yang bisa bermain di kanan maupun kiri itu sebelumnya pernah bekerja sama dengan Jaissle di RB Salzburg.
Setelah urusan bek kanan selesai, perhatian Newcastle dipastikan akan beralih sepenuhnya ke lini tengah. Kepergian Tonali dan Guimarães meninggalkan lubang besar yang tidak bisa ditambal hanya dengan mengandalkan pemain muda. Kehadiran sosok berpengalaman menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi.
Liverpool, Ujian Pertama yang Sesungguhnya
Kedatangan Liverpool ke St James’ Park pada pekan depan akan menjadi ujian pertama yang sesungguhnya bagi era Jaissle di Premier League. Dibandingkan Leverkusen yang juga baru dilatih Carles Martínez, Newcastle masih terlihat belum matang dan butuh waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya. Apalagi lawan yang dihadapi adalah tim sekelas Liverpool yang tentu tidak bisa dianggap remeh.
Namun, Jaissle menegaskan bahwa dirinya tidak khawatir menghadapi tantangan tersebut. “Kami akan melakukan yang terbaik,” ujarnya, sebelum kemudian berubah lebih optimistis. “Kami akan terus menggunakan hal-hal positif. Saya suka tantangan ini. Kami tidak khawatir. Saya tidak sabar.”
Ada beberapa catatan yang bisa menjadi modal berharga bagi Newcastle, seperti penampilan Thiaw, Elanga, dan Wissa yang tampak lebih bersemangat di bawah arahan Jaissle. Namun, pelatih asal Jerman itu masih perlu mencari cara untuk membangkitkan potensi Nick Woltemade yang belum sepenuhnya keluar. Jika ingin bersaing dengan Liverpool, Newcastle butuh peningkatan signifikan dalam waktu singkat.
Secara keseluruhan, kekalahan dari Leverkusen memang menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi Matthias Jaissle dan Newcastle. Namun, sikap positif sang pelatih serta munculnya pemain muda seperti Mason Miley memberikan secercah harapan di tengah masa transisi yang penuh ketidakpastian. Dukungan penuh dari pendukung di St James’ Park bisa menjadi energi tambahan yang dibutuhkan tim untuk bangkit.
Pertandingan melawan Liverpool akan menjadi barometer sejauh mana Newcastle mampu beradaptasi dengan era baru ini. Jika Jaissle berhasil meramu tim dengan baik, bukan tidak mungkin Newcastle tetap kompetitif musim ini. Namun, jika tidak, perjalanan musim ini bisa menjadi ujian yang jauh lebih berat bagi tim berjuluk The Magpies itu.
