Bayang-bayang sanksi Manchester City kini membuat sebagian pendukungnya sendiri percaya bahwa degradasi dan kehilangan trofi bukan lagi skenario yang mustahil. Klub yang selama bertahun-tahun mendominasi sepak bola Inggris itu belum menerima putusan akhir atas lebih dari 100 dakwaan pelanggaran aturan keuangan, tetapi kegelisahan di kalangan suporter sudah terasa nyata. Mereka mengaku pasrah jika akhirnya klub tercinta harus turun kasta, meski berharap hukuman yang dijatuhkan tidak sampai menghapus semua yang sudah diraih.
Perkara ini penting bukan sekadar bagi City, tetapi juga bagi kredibilitas Premier League sebagai liga terkaya di dunia. Jika klub berduit raksasa bisa lolos tanpa hukuman berarti, pertanyaan soal keadilan dan kesetaraan aturan akan mencuat keras. Sebaliknya, hukuman yang terlalu berat bisa mengubah peta persaingan, nasib para pemain bintang, hingga cara klub-klub elite mengelola pembukuan mereka di masa depan. Atas dasar itulah isu ini menjadi salah satu pembicaraan paling panas di sepak bola Inggris.
Ancaman Sanksi Manchester City: dari Dakwaan hingga Kemungkinan Pengurangan Poin
Dakwaan yang dihadapi City bukan satu atau dua, melainkan lebih dari 100 butir. Sejumlah tuduhan mencakup kegagalan menyediakan laporan keuangan yang akurat dan mutakhir, penyembunyian rincian gaji serta bonus, penggelembungan nilai pendapatan sponsor, sampai ketidakpatuhan memberikan dokumen yang diminta selama proses investigasi berlangsung. Rangkaian tuduhan itu menjadikan kasus ini sebagai salah satu yang paling rumit dan berlapis dalam sejarah Premier League.
Menariknya, klub berusaha keras menggugurkan dakwaan tersebut melalui jalur hukum selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Upaya itu dinilai sebagian pihak sebagai manuver untuk memperlambat proses, bukan menjawab substansi persoalan. Menurut salah satu suporter yang menulis pandangannya, upaya itu akhirnya gagal, tetapi perkara belum benar-benar selesai karena City berencana mengajukan banding.
Karena itu, belum ada yang tahu pasti bagaimana putusan dan berapa berat hukumannya. Mantan pemain sekaligus pelatih Wayne Rooney, dalam sebuah wawancara, bahkan memperkirakan City bisa kehilangan sekitar 60 poin. Jika itu terjadi, praktis nyaris mustahil bagi mereka menghindari degradasi pada musim yang bersangkutan. Angka tersebut masih sebatas perkiraan, tetapi cukup menggambarkan betapa besarnya risiko yang membayangi klub.
Dari Thaksin ke Sheikh Mansour: Akar “Cityitis” yang Tak Pernah Hilang
Kegelisahan ini bukan hal baru. Pada 2008, sekitar 15 tahun sebelum dakwaan keuangan mencuat, para pendukung City sudah menyanyikan lagu bertema “City akan terdegradasi dengan satu miliar di bank”, dinyanyikan dengan nada lagu Yellow Submarine. Lagu itu lahir dari situasi nyata: kepemilikan Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand, berakhir dalam 15 bulan setelah lebih dari 1 miliar poundsterling asetnya dibekukan. Sheikh Mansour dari Uni Emirat Arab kemudian masuk menyelamatkan klub, meski saat itu City tengah terpuruk.
Meski dibiayai kekayaan yang hampir tak terbatas, pada Desember tahun itu City masih berkutat di zona degradasi. Kondisi semacam ini oleh sebagian suporter disebut “Cityitis”, istilah untuk kebiasaan menghancurkan diri sendiri justru ketika segalanya tampak berjalan baik. Sejarahnya menggelitik: City tetap saja mengoleksi trofi demi trofi, tetapi lagu tentang degradasi dan satu miliar di bank terus dinyanyikan. Ketika investigasi fair play keuangan dibuka pada 2018, nyanyian itu makin lantang. Setelah lebih dari 100 dakwaan muncul pada 2023, suara itu kembali menguat.
Klub ini memang terlihat menikmati ironi terhadap dirinya sendiri. Lagu lain yang dinyanyikan adalah “Kursi kosong di kandang” dengan nada Rotterdam milik The Beautiful South, karena mereka kesulitan menjual habis tiket, serta “Inikah Etihad?” yang dinyanyikan di markas lawan yang sunyi. Semua itu bukan soal menantang takdir, melainkan pengakuan bahwa, apa pun yang terjadi, mereka akan selalu menjadi City dengan segala keunikannya.
Ada satu hal yang membuat perilaku manajemen belakangan ini terasa bertolak belakang dengan jati diri klub. City didirikan pada 1880 sebagai St Mark’s (West Gorton) oleh jemaah Gereja Inggris St Mark’s untuk tujuan kemanusiaan dan penyelamatan sosial, melayani kawasan miskin di Manchester timur, wilayah yang seabad kemudian dikenal sebagai lokasi syuting serial Shameless. Bagi sebagian pendukung, cara klub membela diri dalam perkara ini dinilai jauh dari semangat pendiriannya.
Dampak bagi Klub: Trofi, Pemain, dan Masa Depan Skuad
Risiko terberat yang mengintai adalah pencabutan trofi yang diraih pada periode 2009-10 hingga 2017-18, rentang waktu ketika pelanggaran aturan fair play terjadi. Delapan trofi berada dalam sorotan, termasuk tiga gelar Premier League dan musim “centurions” yang memecahkan rekor dengan 100 poin pada 2017-18. Sebagian suporter menilai langkah itu berlebihan dan pada akhirnya sama saja dengan Premier League yang “memakan” reputasinya sendiri.
Selain itu, degradasi hampir pasti membawa konsekuensi besar pada komposisi skuad. Klub diperkirakan akan kehilangan pemain-pemain terbaiknya, termasuk Erling Haaland, sosok yang dijuluki dewa sepak bola Skandinavia karena ketajamannya. Satu-satunya alasan ia mungkin bertahan adalah rasa penasaran soal berapa banyak gol yang bisa ia cetak seandainya bermain di divisi Championship. Setelah itu, mau tidak mau, klub harus membangun ulang dari fondasi.
Namun, pandangan yang lebih optimistis melihat skenario terburuk justru punya sisi terang. Kehilangan semua trofi tidak berarti kehilangan kenangan, karena momen-momen indah tetap tercatat, mulai dari quadruple domestik tanpa preseden pada 2018-19 hingga treble termasuk Liga Champions pada 2022-23. Pada tahun-tahun itu nyaris tidak ada aroma skandal, dan klub hanya digambarkan sebagai tim super kaya yang dikelola cemerlang oleh Pep Guardiola, pelatih terbaik dunia versi banyak kalangan.
Everton, Nottingham Forest, dan Isu Satu Aturan untuk Semua
Perdebatan soal keadilan menjadi inti persoalan ini. Everton dan Nottingham Forest sudah menerima pengurangan poin untuk pelanggaran yang jauh lebih ringan. Jika City lolos begitu saja, situasi itu akan terasa memalukan dan menegaskan dugaan bahwa ada perlakuan berbeda antara klub kaya dan klub kecil. Argumen itulah yang membuat sebagian pendukung City, meski berat hati, mengakui bahwa klub mereka memang bersalah dan pantas diproses.
Di sisi lain, City hampir pasti akan menyatakan bahwa putusan yang dijatuhkan tidak adil. Alasan yang akan dikemukakan adalah bahwa aturan fair play dianggap terlalu sempit untuk menghambat ambisi mereka menjadi kekuatan global. Para pengacara akan mengamini argumen tersebut karena memang dibayar untuk itu, dan banyak pendukung akan ikut membela karena mereka adalah fans. Namun, tidak semua suporter berpandangan sama, dan sebagian menilai pembelaan itu sekadar bentuk kekecewaan.
Karena City menyatakan akan mengajukan banding, perkara ini masih bisa berlarut-larut. Artinya, ketidakpastian soal masa depan klub belum akan sirna dalam waktu dekat. Bagi pihak lain di liga, proses banding ini juga menjadi ujian apakah sistem aturan keuangan sepak bola Inggris benar-benar bisa ditegakkan.
Sisi Lain yang Justru Ditunggu Para Suporter
Bila bagian terburuk benar-benar terjadi, pendukung City mengaku masih punya banyak hal untuk disyukuri. Yang paling utama adalah tegaknya keadilan. Selain itu, bermain di divisi lebih rendah justru mengembalikan kenangan masa lalu, seperti ketika klub berlaga di Championship dengan andalan Kevin Keegan yang dinyanyikan dalam chant “100 gol per musim” sekitar dua dekade lalu. Era League One juga diingat sebagai masa keemasan tersendiri, dan bagi sebagian fans, mengalahkan Gillingham di laga playoff adalah memori sepak bola paling berharga.
Penurunan kasta biasanya diikuti penurunan harga tiket, sehingga pendukung biasa bisa kembali memenuhi stadion. Harga yang terjangkau juga membuat fans kembali menghargai setiap kunjungan ke Wembley maupun gelar yang diraih. Karena Guardiola kemungkinan sudah lebih dulu pergi, klub tidak perlu lagi khawatir kehilangan sosoknya. Yang terpenting, muncul pelajaran soal kerendahan hati, agar tidak lagi bersungut-sungut hanya karena dalam satu musim klub “hanya” menjuarai Piala Liga dan Piala FA.
Manfaat lain yang diharapkan adalah perubahan cara berpikir dalam membangun tim. Alih-alih sekadar membuka buku cek dan mendatangkan pemain terbaik dunia, klub dituntut lebih imajinatif. Sebagai gambaran, penyerang asal Bermuda, Shaun Goater, disebut baru saja meninggalkan pekerjaannya sebagai pelatih Aston Villa Women. Usianya baru 56 tahun, tidak pernah sepenuhnya bergantung pada kecepatan, dan menurut pengamatan penulis, ia sedang menganggur. Sindiran ringan itu menunjukkan bahwa suporter City sudah mulai menerima kenyataan dengan humor.
Pada akhirnya, apa pun putusan yang nanti dijatuhkan, satu hal yang bisa dipastikan adalah nyanyian para pendukung akan kembali bergema. Lagu lama tentang degradasi dan satu miliar di bank kemungkinan akan dinyanyikan lebih lantang dari sebelumnya, sebagai bentuk penerimaan bahwa klub ini selalu menjadi City, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Kasus ini pada akhirnya bukan hanya soal pelanggaran administratif, tetapi tentang bagaimana sebuah klub besar membayar harga dari ambisinya. Sanksi Manchester City berpotensi menjadi titik balik yang menentukan arah kompetisi, sekaligus pengingat bahwa aturan tetap harus berlaku, bahkan bagi tim yang paling kaya sekalipun. Para pendukung tinggal menunggu apakah kejatuhan yang mereka takutkan benar-benar datang, atau justru menjadi awal dari pembangunan kembali yang lebih sehat.
