Tony Pulis: Stoke Dicurangi Usai Pelanggaran Manchester City

Tony Pulis menegaskan bahwa Stoke City telah “dicurangi” dari gelar Piala FA 2011 setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir seluruh tuduhan pelanggaran Manchester City terhadap aturan keuangan Premier League. Pernyataan itu muncul sebagai reaksi atas kabar pada Jumat lalu bahwa City terbukti bersalah pada semua kecuali satu dari lebih dari 100 tuduhan yang dilayangkan Premier League sejak Februari 2023. Bagi Pulis, pria berusia 68 tahun yang saat itu menangani Stoke, vonis tersebut membuka kembali luka lama yang selama ini ia simpan sendiri.

Stoke kalah 1-0 di final Piala FA 2011 lewat gol Yaya Touré, dan selama bertahun-tahun kekalahan itu diterima sebagai bagian biasa dari sepak bola. Namun setelah vonis terbaru, Pulis mengaku cara pandangnya terhadap laga tersebut berubah total. Ia pun mempertanyakan apakah keadilan bagi klub-klub yang harus mengakui keunggulan City pada periode itu masih mungkin ditegakkan. Manchester City sendiri diperkirakan akan mengajukan banding dan tetap membantah melakukan pelanggaran.

Pulis Menuntut Keadilan atas Pelanggaran Manchester City

Dalam kolomnya untuk BBC Sport, Pulis menulis dengan nada getir soal trofi yang menurutnya seharusnya menjadi milik Stoke. “Kapan kami mendapatkan Piala FA kami?” tulisnya. “Itulah yang ditanyakan semua penggemar Stoke kepada saya sejak kabar itu muncul pada Jumat. Saya pun berpikir hal yang persis sama.”

Meski begitu, Pulis realistis soal bentuk hukuman yang mungkin dijatuhkan. Ia mengaku tidak berharap Manchester City menyerahkan kembali trofi Piala FA 2011 beserta medali juara yang sudah diterima para pemainnya. Menurutnya, kecil kemungkinan trofi dan gelar lain juga dikembalikan ke pemilik sebelumnya. Ia menilai pengurangan poin dan denda besar justru jauh lebih mungkin terjadi.

Namun hal itu tidak lantas menghapus rasa kecewa yang ia rasakan. “Saya tetap merasa dicurangi. Kami tidak akan pernah mendapatkan hari itu kembali, termasuk kesempatan merayakan bersama warga Stoke-on-Trent dengan trofi dan medali yang kami perjuangkan dengan jujur,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa karena melanggar aturan, Manchester City yang justru menikmati perayaan tersebut, dan proses yang masih panjang karena adanya banding membuat situasi ini meninggalkan rasa yang sangat tidak nyaman baginya.

Belanja Yaya Touré dan Ketimpangan di Final 2011

Pulis secara khusus menyoroti pengeluaran Manchester City untuk Yaya Touré, pencetak satu-satunya gol di final 2011. Gelandang asal Pantai Gading itu didatangkan dari Barcelona dengan biaya sekitar £24 juta dan dikabarkan menerima gaji sekitar £180.000 per pekan. Menurut Pulis, angka-angka itu berada jauh di luar jangkauan Stoke pada masa yang sama.

“Yaya Touré, yang mencetak gol kemenangan, dilaporkan menerima 10 kali lipat dari yang kami bayarkan kepada pemain kami, dan biaya transfernya sendiri lebih mahal daripada seluruh starting 11 kami saat ia didatangkan dari Barcelona pada 2010,” tulis Pulis. Perbandingan itu ia pakai untuk menggambarkan betapa timpangnya kekuatan kedua tim di laga puncak tersebut. Dengan selisih sebesar itu, menurutnya, hasil akhir pertandingan tidak bisa lagi dibaca sebagai murni soal taktik atau kualitas permainan.

Konteks inilah yang membuat rasa kecewa Pulis berbeda dari biasanya. Ia tidak sedang mempersoalkan siapa yang bermain lebih baik pada hari itu, melainkan dasar aturan yang seharusnya membuat kompetisi berjalan setara. Ketika aturan itu sendiri dilanggar, ia menilai pertandingan kehilangan makna sebagai ajang adu kemampuan yang adil.

Dari Kecewa Biasa Menjadi Rasa Dicurangi

Pulis mengakui bahwa emosinya terhadap kekalahan 2011 dulu jauh lebih sederhana. “Kekecewaan saya dulu terkubur dalam kenyataan bahwa kami bermain melawan tim penuh bintang, menghadapi pelatih kelas elite seperti Roberto Mancini, dan hanya kurang sedikit saja,” ujarnya. “Hari ini saya merasa sangat berbeda, dan saya yakin orang-orang yang terhubung dengan klub lain yang terdampak kesuksesan City pada periode yang sama, antara 2009 dan 2018, juga merasakan hal serupa.”

Ia menegaskan bahwa persoalannya bukan sekadar satu laga final. “Kami kalah, tetapi dari tim yang dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan yang ditetapkan Premier League. Dengan melakukannya, mereka bukan hanya mengalahkan Stoke di final Piala FA, tetapi juga mengumpulkan banyak gelar dan kemudian mendominasi sepak bola Inggris lebih dari satu dekade. Jadi, dengan aturan yang telah dilanggar itu, apa hukumannya?” tulisnya.

Pulis juga menduga reaksi tidak akan berhenti pada Stoke. “Saya tahu semua pendukung Stoke akan menuntut City menyerahkan trofi itu, dan setiap klub yang terdampak oleh tindakan mereka akan mempertimbangkan opsi hukum mereka,” katanya. Pernyataan itu memberi sinyal bahwa persoalan ini berpotensi bergerak dari ranah opini publik ke ranah hukum antarklub.

Sikap Manchester City dan Proses yang Belum Tuntas

Manchester City tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah pendiriannya. Pada Sabtu, ketua klub Khaldoon al-Mubarak menegaskan posisi mereka di tengah derasnya pemberitaan. “Ada begitu banyak keriuhan di sekitar kami, tetapi tidak ada yang berubah. Kami pernah menghadapi tantangan bersama-sama dan berhasil melewatinya. Masih banyak pihak yang ingin merongrong momentum klub kami. Kami tidak akan memberi mereka kesempatan itu,” ujarnya.

Sehari sebelumnya, juru bicara City sudah menyampaikan pernyataan serupa. “Proses Premier League masih berjalan, dengan elemen-elemen penting yang belum selesai dan terikat kerahasiaan ketat. Karena itu, posisi Manchester City FC tetap konsisten dengan pernyataan klub pada Februari 2023,” katanya. Ia menambahkan bahwa klub telah dengan cermat menghormati proses hukum selama delapan tahun, dengan asumsi bahwa dewan dan eksekutif Premier League bertindak sebagai regulator yang independen, tidak memihak, dan adil, bebas dari pengaruh partisan.

Artinya, kisah ini belum sampai pada babak akhir. Banding yang diperkirakan diajukan City bisa memakan waktu panjang, sementara bentuk hukuman final belum jelas. Di sisi lain, tuntutan agar trofi dan gelar dikembalikan tetap terdengar nyaring, meski secara praktis sangat sulit diwujudkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Apa Artinya bagi Klub yang Bersaing dengan City

Selama lebih dari satu dekade, Manchester City menjadi tolok ukur persaingan di sepak bola Inggris dengan rentetan gelar yang mereka kumpulkan. Bagi klub-klub seperti Stoke, yang bersaing dengan sumber daya jauh lebih kecil, dominasi itu berarti peluang meraih trofi menjadi jauh lebih sempit. Keluhan Pulis adalah suara dari pihak yang merasa selalu berada di sisi yang dirugikan tanpa pernah punya cara untuk membalasnya di lapangan.

Kabar vonis ini juga membuka pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana aturan keuangan seharusnya ditegakkan. Jika pelanggaran terbukti, hukuman seperti apa yang cukup adil bagi klub yang sudah menikmati hasilnya bertahun-tahun? Pertanyaan itu kini tidak hanya menjadi milik Stoke, tetapi juga milik setiap klub yang merasa kehilangan kesempatan pada periode 2009 sampai 2018.

Kisah ini menunjukkan bahwa hasil di lapangan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah pertandingan. Bagi Pulis, final 2011 kini dibaca dengan cara yang sama sekali berbeda, bukan karena skornya berubah, melainkan karena dasar aturan di baliknya dipertanyakan. Piala itu tetap berada di lemari trofi Manchester City, dan kemungkinan besar akan tetap di sana apa pun hasil akhir prosesnya nanti. Namun tuntutan Pulis menyisakan satu pertanyaan yang belum terjawab: seberapa berharga sebuah gelar jika diperoleh dengan cara yang di kemudian hari dipersoalkan.