Brighton menang atas Sunderland dengan skor 2-0 di Stadium of Light, dan kemenangan itu terasa istimewa karena mereka harus menuntaskan laga dengan sepuluh pemain setelah Pascal Struijk diganjar kartu merah pada babak kedua. Tambahan tiga poin membuat Brighton makin kukuh di peringkat ketiga Premier League dengan koleksi 13 poin. Sebaliknya, Sunderland masih tertahan di angka empat poin dan baru mengoleksi satu kemenangan saja di kompetisi ini sepanjang musim.
Gol kedua Brighton yang dilesakkan Jaouen Hadjam menjadi pemicu eksodus massal penonton tuan rumah. Stadium of Light kosong dalam hitungan menit, diselingi beberapa cemoohan, sementara garis kening pelatih Sunderland, Régis Le Bris, makin berkerut. Hasil ini menegaskan bahwa Sunderland masih jauh dari performa yang mereka harapkan, hanya beberapa hari sebelum mereka bertolak ke Portugal tengah.
Jalannya Laga: De Cuyper Membuka Jalan, Hadjam Menutup Pesta
Babak pertama berjalan hati-hati dan minim peluang bersih. Sunderland sempat menciptakan celah lewat umpan-umpan terukur Enzo Le Fée untuk Wilson Isidor, yang mengisi posisi penyerang utama Brian Brobbey karena cedera hamstring, dan untuk Thomas Meunier. Sayangnya, pengaruh Le Fée memudar drastis setelah turun minum sehingga daya gedor tuan rumah ikut mengendur.
Skor kacamata bertahan hingga jeda, dan peluang terbaik babak pertama justru lahir di masa injury time. Saat itu sundulan Struijk menghantam tiang gawang sementara Robin Roefs sudah terlewati, sebuah momen yang membuat pemilik klub Sunderland di tribun direktur mungkin merasa sedikit lega karena papan skor masih menunjukkan 0-0.
Kerapuhan lini belakang tuan rumah akhirnya berbuah petaka pada menit ke-53. Lini pertahanan Sunderland yang kehilangan Dan Ballard karena cedera hamstring gagal menyapu lemparan jauh, lalu umpan terobosan cerdik Pascal Gross membuka ruang bagi Maxim De Cuyper untuk melepas tembakan rendah sekali sentuh yang menyusup tepat di antara Roefs dan tiang gawang. Gol tersebut tercatat sebagai keterlibatan gol langsung ketujuh Gross dalam gol Brighton pada enam penampilan terakhirnya di Premier League, bukti bahwa gelandang berusia 35 tahun itu masih menjadi mesin kreativitas timnya.
Sunderland tak pernah benar-benar menemukan jawaban, dan gol kedua Brighton memastikan hasil akhir. Kombinasi dua pemain pengganti, Georginio Rutter dan Hadjam, berbuah tembakan yang melewati Roefs dan mengunci kemenangan tim tamu. Momen itulah yang mematahkan harapan tuan rumah sekaligus memicu penonton berbondong-bondong meninggalkan stadion.
Kartu Merah Struijk dan Ketangguhan Pertahanan Brighton
Ujian terbesar Brighton datang ketika Struijk menjatuhkan Isidor yang sedang berakselerasi menuju kotak penalti. Bek rekrutan musim panas senilai £20 juta dari Leeds itu dinilai menghalangi peluang mencetak gol yang jelas, tetapi wasit Tom Bramall awalnya tidak melihat insiden tersebut sebagai pelanggaran berat. Video assistant referee kemudian mengarahkan Bramall untuk meninjau monitor di tepi lapangan, dan setelah menonton ulang rekamannya, sang pengadil mengubah keputusannya menjadi kartu merah untuk Struijk.
Bermain dengan sepuluh orang ternyata tidak membuat Brighton kehilangan kendali. Mereka tetap tampak nyaman, menjaga bentuk pertahanan, dan nyaris tidak memberi ruang bagi Sunderland untuk menembus kotak penalti. Pelatih Fabian Hürzeler menegaskan bahwa keyakinan semacam itu memang sudah tertanam kuat dalam timnya sejak awal pertandingan.
“Laga ini tidak mudah, tetapi kami selalu percaya bisa membawa pulang sesuatu dari sini,” kata Hürzeler. “Kami menjaga clean sheet dan selalu punya peluang untuk mencetak gol. Kami memang selalu bermain sepak bola yang bagus, tapi saya tidak ingin kami hanya dikenal sebagai tim yang enak ditonton.” Pernyataan itu menegaskan identitas baru yang sedang ia bangun di Brighton: rapi, disiplin, sekaligus efektif ketika pertandingan berjalan tidak sesuai rencana.
Sunderland di Titik Terendah: Empat Poin dan Masalah di Luar Lapangan
Hasil ini meninggalkan Sunderland dengan koleksi empat poin dan hanya satu kemenangan di Premier League musim ini. Le Bris tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap penampilan anak asuhnya. “Laga yang ketat dan intens,” ujarnya. “Tapi kami tidak tampil dalam performa terbaik. Ini soal ketenangan. Kami harus mengubah momentum.”
Di tribun direktur, pemilik sekaligus chairman Sunderland, Kyril Louis-Dreyfus, menyaksikan jalannya laga dengan wajah gelisah. Pria berusia 29 tahun itu baru saja menambah jabatan chief executive ke dalam portofolionya di klub, setelah Tom Burwell meninggalkan posisi interim CEO secara mendadak hanya lima bulan setelah mengemban tugas tersebut. Langkah itu membuat Louis-Dreyfus kini turun tangan langsung dalam pengambilan keputusan operasional klub.
Salah satu tugas paling mendesak dalam perannya yang baru adalah mengamankan sponsor di bagian depan kostum. Upaya itu menjadi kian pelik setelah kesepakatan dengan Visit Ghana batal. Tanpa pemasukan dari sponsor utama, ruang gerak Sunderland dalam perencanaan jangka panjang berpotensi ikut terhambat.
Pada Kamis nanti, Sunderland akan bertolak ke Portugal tengah untuk menghadapi Torreense di ajang Liga Europa. Mereka berangkat dengan suasana introspeksi, bukan optimisme. Perjalanan ini bisa menjadi titik balik yang menyegarkan, atau justru menambah panjang daftar persoalan yang harus diurai Le Bris.
Xhaka Kehilangan Ketajaman dan Konteks yang Lebih Luas
Di kubu Sunderland, Granit Xhaka tampil tidak seperti biasanya. Gelandang yang dikenal tenang dan akurat itu justru beberapa kali ceroboh dalam penguasaan bola sehingga merusak alur serangan timnya. Kondisi di luar lapangan diduga ikut memengaruhi ketajaman penampilannya.
Pekan lalu, otoritas di Lucerne menjatuhkan denda sebesar £136.000 dengan status ditangguhkan kepada kapten timnas Swiss tersebut, terkait pengakuannya memperoleh sertifikat vaksinasi Covid palsu selama masa pandemi. Beban dari kasus itu dinilai ikut menguras fokusnya menjelang laga melawan Brighton.
Rekaman media sosial yang beredar juga sempat menyita perhatian publik. Dalam video tersebut, Xhaka terlihat menahan diri saat menerima cemoohan dari penggemar Newcastle ketika sedang berbelanja bersama istrinya di dekat rumah mereka di Gosforth. Sikap menahan diri itu memang terpuji, tetapi di atas lapangan Sunderland justru membutuhkan agresivitas khas Xhaka yang selama ini menjadi ciri permainannya.
Dampak bagi Klasemen dan Langkah Berikutnya
Bagi Brighton, kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga angka. Posisi ketiga mereka makin kokoh setelah poin bertambah menjadi 13, dan catatan clean sheet menjadi fondasi utama di baliknya. Penampilan mereka memang tidak sefluent kemenangan 3-0 atas Arsenal sebelum jeda internasional, tetapi kualitas organisasi pertahanan mereka kini sulit diabaikan lawan mana pun.
Hürzeler sendiri menegaskan bahwa timnya tidak ingin lagi hanya dipandang sebagai tim yang bermain cantik. Kombinasi disiplin, kerja sama kolektif, dan kemampuan menyelesaikan pertandingan dalam kondisi tertekan menjadi nilai jual baru Brighton musim ini. Jika mampu menjaga konsistensi, mereka berpotensi menjadi ancaman serius bagi tim-tim papan atas.
Sebaliknya, Sunderland harus segera menemukan solusi. Dengan baru mengumpulkan empat poin, mereka sudah tertinggal dari ritme yang dibutuhkan untuk bertahan nyaman di papan tengah. Kekalahan dari Brighton juga memperlihatkan betapa mudahnya tuan rumah kehilangan ketenangan begitu pertandingan memasuki fase krusial.
Kemenangan Brighton atas Sunderland menyoroti dua arah yang berlawanan dalam satu pertandingan. Tim tamu makin menemukan identitas dan mantap di papan atas, sementara tuan rumah masih bergulat dengan ketidakkonsistenan serta sejumlah persoalan di luar lapangan. Kartu merah Struijk bahkan tidak cukup menghentikan laju Brighton, justru memperlihatkan seberapa matang organisasi permainan yang dibangun Hürzeler.
Selanjutnya, Sunderland punya kesempatan memperbaiki suasana saat menghadapi Torreense di Portugal, sementara Brighton bisa memanfaatkan momentum ini untuk terus menempel ketat tim-tim di atasnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Brighton layak diperhitungkan, melainkan seberapa jauh mereka mampu melangkah musim ini.
