Crystal Palace vs Nottingham Forest berakhir dengan kemenangan 3-1 bagi tuan rumah di Selhurst Park. Nottingham Forest sebenarnya unggul lebih dulu lewat gol Dan Ndoye pada menit ketiga, tetapi gol penyama kedudukan Daichi Kamada tepat sebelum turun minum membalikkan arah pertandingan. Jefferson Lerma dan Yéremy Pino kemudian menuntaskan kebangkitan Palace, sekaligus memaksa Oliver Glasner pulang dengan kekalahan dari stadion yang dulu menjadi rumahnya.
Laga ini terasa berbeda karena Glasner kembali ke Selhurst Park untuk pertama kalinya sebagai pelatih kepala Nottingham Forest. Ia pernah menjadi sosok yang dipuja di sana sebelum meninggalkan klub pada musim panas dan digantikan Pierre Sage. Sambutan hangat dari tribun tuan rumah, ditambah nyanyian yang mengiringi kebangkitan Palace, membuat pertandingan ini lebih menyerupai duel penuh muatan personal ketimbang laga liga biasa.
Jalannya Laga Crystal Palace vs Nottingham Forest
Nottingham Forest membuka keunggulan saat pertandingan baru berjalan tiga menit. Sundulan lemah Anan Khalaili dimanfaatkan Dan Ndoye untuk berlari sendirian ke pertahanan Palace dan mencetak gol, sebuah awal yang membuat tim tamu nyaris tidak percaya pada keberuntungan mereka. Selama sekitar 40 menit pertama, pasukan Pierre Sage tampil buruk dan terus ditekan, terutama di area yang dijaga Jefferson Lerma yang bermain sebagai bek darurat karena Axel Disasi menjalani skorsing.
Tekanan Forest belum berbuah gol kedua meskipun peluang datang silih berganti. Jaydee Canvot kehilangan penguasaan bola, lalu umpan Morgan Gibbs-White menemukan Ndoye yang tidak terjaga, tetapi tembakan pemain itu berhasil ditepis Walter Benítez ke atas mistar. Daniel Muñoz juga hampir mencetak gol ke gawang mantan klubnya, hanya terpaut beberapa sentimeter dari sasaran.
Titik balik laga lahir dari penyelamatan luar biasa Benítez, kiper asal Argentina yang mengisi posisi Dean Henderson yang cedera. Ia menggagalkan peluang Liam Delap dari jarak tiga yard setelah tembakan Gibbs-White membentur mistar gawang dan memantul ke depan gawang. Delap kemudian membuang peluang emas lain melalui sundulannya, dan Sage menyebut penyelamatan itu sebagai aksi yang dilakukan dengan keberanian besar.
Forest akhirnya harus membayar mahal tepat sebelum jeda. Daichi Kamada memaksakan bola masuk di dalam kotak enam yard setelah umpan Jørgen Strand Larsen membelok ke arahnya, dan gol itu menjadi gol Premier League pertamanya pada penampilan ke-68. Kepercayaan diri Palace langsung tumbuh; voli Tyrick Mitchell ditepis ke atas, dan dari sepak pojok berikutnya Lerma melompat paling tinggi sehingga bola melewati sela-sela kaki Matz Sels dan melewati garis gawang. Rekaman ulang menunjukkan bola mungkin menyentuh lengan rekan setimnya sendiri, Khalaili, tetapi VAR tidak mempermasalahkan kejadian itu.
Di babak kedua, Palace nyaris kebobolan ketika sundulan Gibbs-White pada awal babak membentur tiang gawang setelah mengenai Mitchell. Lerma kembali menciptakan kekacauan dari sepak pojok di sisi lain lapangan, tetapi kali ini Forest berhasil menyapu bola. Namun tidak ada penyelamatan serupa beberapa menit kemudian: umpan Quinten Timber dibelokkan ke arah Strand Larsen, dan Pino tidak membuang kesempatan dari bola muntah tersebut. Pino lalu beralih peran sebagai pemberi umpan, meski Strand Larsen gagal melewati Sels, dan para pendukung Palace dengan gembira menanyakan kepada Glasner berapa skor pertandingan. Ndoye dan Neco Williams sempat mendapat peluang menjelang akhir, tetapi Forest dan Glasner sudah terlalu jauh tertinggal saat itu.
Latar Belakang: Luka Lama antara Palace, Forest, dan Marinakis
Pertemuan ini sarat sejarah yang belum selesai. Ketika kedua tim bertemu di Selhurst Park 14 bulan sebelumnya, sebuah spanduk berisi kartun pedas tentang Marinakis dibentangkan pada babak pertama, dan sang pemilik Forest kini menuntut Palace serta “pihak-pihak tak dikenal” terkait insiden tersebut. Kelompok suporter yang diduga berada di balik aksi itu disebut telah bubar, sehingga tidak ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban secara langsung.
Ketegangan kian memuncak ketika Palace diturunkan dari Europa League pada musim lalu, sengketa yang berujung pada permusuhan antara kedua kubu. Keputusan Glasner menerima tawaran menangani Forest pada musim panas hanya menambah rasa tidak nyaman itu, meski ia tetap mendapat sambutan hangat dari pendukung tuan rumah baik sebelum maupun sesudah pertandingan. Situasi ini menjelaskan mengapa laga tersebut terasa begitu emosional bagi kedua belah pihak.
Marinakis sendiri tidak terlihat di ruang direksi pada laga ini, sebuah absen yang mencolok setelah perseteruannya di depan publik dengan rekan sejawatnya di Palace, Steve Parish. Di tribun, pendukung tuan rumah langsung menyanyikan lagu anti-Uefa dan anti-Marinakis yang dulu menjadi pengiring kemenangan mereka di Conference League di bawah asuhan Glasner. Suporter Forest menjawabnya dengan nyanyian: “We’ve got Ollie Glasner”.
Respons Glasner dan Sage Usai Laga
Glasner menanggapi kekalahan itu dengan nada pasrah yang pahit. “Sebut saja karma atau apa pun, tapi rasanya saya tidak layak menang di Selhurst Park karena para pemain sudah melakukan segalanya,” ujarnya, sembari mengaku tidak mendengar cemoohan dari pendukung Palace. Ia menilai timnya tampil dominan dan menegaskan bahwa hasil akhir tidak boleh memengaruhi kepercayaan dirinya.
“Saya pikir ini penampilan Nottingham Forest yang paling dominan. Tapi hasilnya tidak tepat. Jadi ini memberi saya kepercayaan diri. Tugas saya adalah tidak terpengaruh secara negatif oleh hasil,” tambah Glasner. Perkataannya menunjukkan bahwa ia menolak menjadikan kekalahan itu sebagai ukuran tunggal atas kualitas timnya, meskipun hasil di papan skor jelas tidak berpihak padanya.
Di sisi lain, Sage memilih untuk tidak menyombongkan diri atas kemenangan melawan pendahulunya. Ia justru memuji Benítez yang melakukan penyelamatan dengan keberanian besar, dan menegaskan bahwa pertandingan ini bukan soal balas dendam. Sikap itu memberi ruang bagi Palace untuk menikmati kemenangan kandang pertama mereka tanpa menambah bara permusuhan yang sudah ada.
Dampak dan Implikasi bagi Kedua Tim
Bagi Palace, hasil ini menjadi kemenangan kandang pertama Sage di Premier League sejak ia mengambil alih kursi pelatih dari Glasner pada musim panas. Kemenangan tersebut membuktikan bahwa skuad yang ia warisi masih mampu bangkit setelah tertinggal, terutama ketika kiper pelapis tampil gemilang di momen krusial. Modal kepercayaan diri semacam ini biasanya lebih berharga daripada sekadar tambahan tiga poin di klasemen.
Sebaliknya, Forest mendapat pelajaran pahit tentang cara mempertahankan keunggulan. Gol pembuka Ndoye seharusnya menjadi fondasi kemenangan, tetapi kegagalan memanfaatkan peluang emas Delap dan rapuhnya pertahanan saat menghadapi bola mati membuat mereka kehilangan kendali. Sage mewarisi satu karakteristik dari pendahulunya, yakni kesulitan mengantisipasi sepak pojok, dan Palace nyaris memanfaatkannya lagi lewat sundulan Gibbs-White di awal babak kedua.
Untuk Glasner sendiri, tekanan publik yang muncul setelah gol Pino terasa nyata. Pendukung Palace menyanyikan “You’re getting sacked in the morning” yang diarahkan kepadanya, sebuah sindiran yang biasanya menggambarkan betapa cepatnya penilaian terhadap seorang pelatih di Premier League. Ia memang mengaku tidak mendengarnya, tetapi nada pertanyaan itu tetap menggambarkan ketidaknyamanan seputar posisinya di Forest.
Konteks Lebih Luas: Rivalitas yang Belum Usai
Duel ini memperlihatkan bahwa perseteruan antara kedua kubu tidak hanya berlangsung di lapangan. Gugatan Marinakis terhadap Palace masih berjalan, dan hubungan antara kedua pemilik klub belum menunjukkan tanda-tanda mendingin. Selama sengketa hukum dan rasa tidak suka itu belum selesai, pertemuan berikutnya berpotensi kembali diwarnai atmosfer panas yang sama.
Kisah personal para pemain menambah lapisan pada pertandingan ini. Kamada, yang pernah memenangi Europa League bersama Glasner di Eintracht Frankfurt sebelum dibawa ke Selhurst Park dengan status bebas transfer, mencetak gol pertamanya di Premier League justru pada laga melawan mantan pelatihnya. Sementara itu, Benítez yang dipanggil menggantikan Henderson yang cedera membuktikan bahwa peran pemain pelapis bisa menentukan arah sebuah pertandingan.
Bagi pembaca netral, hasil ini menjadi pengingat bahwa sepak bola Inggris jarang hanya soal taktik. Cerita soal kesetiaan, dendam lama, dan tekanan dari tribun sering kali sama pentingnya dengan susunan pemain dan strategi di atas kertas. Laga di Selhurst Park kali ini adalah contoh sempurna bagaimana sejarah antar klub bisa menghidupkan kembali pertandingan yang secara teknis mungkin biasa saja.
Palace akhirnya merayakan kemenangan yang membangkitkan semangat, sementara Forest harus merenungkan bagaimana dominasi yang mereka klaim tidak berbuah hasil. Glasner bisa saja benar ketika menyebut penampilan timnya yang paling dominan, tetapi sepak bola tetap diukur oleh skor akhir. Bagi Palace, malam itu menjadi bukti bahwa kebangkitan bisa lahir dari satu penyelamatan dan satu sepak pojok yang tepat.
