Presiden FIFA, Gianni Infantino, bakal menghadapi pertanyaan tajam dari para anggota dewan FIFA soal keterlibatannya dalam rencana penjualan Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan, kasus Folarin Balogun, serta keputusan memberikan FIFA peace prize perdana kepada Donald Trump. Interogasi itu berlangsung dalam rapat yang diperkirakan bakal memanas di markas besar badan sepak bola dunia tersebut di Zurich, Kamis waktu setempat.
Rapat ini menjadi momen pertama Infantino berhadapan langsung dengan para pengkritiknya sejak berbagai kontroversi itu mencuat pada musim panas lalu. Sejumlah pihak yang akan hadir bahkan memprediksi diskusi tersebut berpotensi “eksplosif”. Tekanan yang mengemuka membuat pertemuan ini menjadi salah satu ujian terbesar bagi kepemimpinan Infantino selama menjabat di kursi tertinggi FIFA.
Fakta Utama: Agenda Panas di Markas FIFA Zurich
Sejumlah isu sensitif telah masuk ke dalam agenda rapat yang diedarkan FIFA bulan lalu. Selain rencana penjualan Piala Dunia yang gagal dan kasus Balogun, dewan juga akan membahas pemberian FIFA peace prize perdana kepada Donald Trump. Ketiga topik itu menjadi pijakan bagi anggota dewan untuk mempertanyakan arah kepemimpinan Infantino.
Yang tak kalah penting, Infantino kemungkinan besar juga akan dicecar soal laporan media pekan ini yang menyebut dirinya menerima “gaji kedua” sekitar £1,3 juta pada 2024. Angka itu disebut berada di luar gaji £3,9 juta yang tercatat resmi dalam laporan keuangan FIFA. Temuan ini menambah daftar pertanyaan yang harus dijawab sang presiden di depan para anggota dewan.
Seorang peserta rapat memprediksi jalannya pertemuan akan berlangsung keras. Sejumlah pihak menilai suasana tersebut tak terhindarkan mengingat besarnya kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan dan keputusan FIFA belakangan ini.
Latar Belakang: Rencana FFE dan Seruan Mundur Tiga Konfederasi
Situasi memanas setelah munculnya proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang memicu gelombang kritik. Menanggapi hal itu, Infantino menolak berulang kali permintaan agar digelar rapat umum luar biasa (extraordinary general meeting) dewan pada musim panas lalu. Penolakan itulah yang membuat pertemuan pertama dengan para kritiknya di Zurich kini terasa begitu dinanti.
Tiga nama besar akan hadir langsung untuk menekan Infantino, yakni Aleksander Ceferin, Victor Montagliani, dan Sheikh Salman Bin Ibrahim al-Khalifa. Mereka merupakan presiden UEFA, Concacaf, serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Ketiganya sebelumnya telah menyerukan agar Infantino mundur dari jabatannya.
Dalam rapat ini, mereka akan mendesak agar dilakukan peninjauan independen terhadap tata kelola FIFA. Desakan tersebut bukan tanpa dasar, karena muncul kekhawatiran bahwa sistem pengawasan internal FIFA belum cukup kuat untuk mencegah terulangnya persoalan serupa.
Menanggapi surat dari Ceferin, Montagliani, dan Salman pada bulan lalu, Infantino sebenarnya berjanji akan memerintahkan peninjauan eksternal atas tata kelola FIFA ke depan. Namun, hingga kini rincian mengenai peninjauan itu belum juga muncul. Keraguan pun mencuat soal apakah proses tersebut benar-benar akan berjalan independen.
Isu Gaji Kedua dan Bantahan Resmi FIFA
Laporan tentang “gaji kedua” mencuat dari dokumen US Internal Revenue Service yang diungkap ke publik. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sebuah anak perusahaan FIFA yang bertugas menjalankan Piala Dunia musim panas lalu membayar Infantino sebesar US$1,76 juta. Pembayaran itu tidak disebutkan dalam laporan tahunan FIFA, yang mencatat gajinya sebesar 4,27 juta franc Swiss atau setara £3,86 juta.
Statuta FIFA dengan tegas menyatakan bahwa “kompensasi individual presiden FIFA … harus dipublikasikan”. Ketentuan itu menjadi dasar pertanyaan mengapa pembayaran tersebut tidak terekam dalam laporan resmi. FIFA sendiri membantah telah melakukan pelanggaran.
“FIFA tidak membayar gaji kedua kepada presiden FIFA dan mematuhi seluruh persyaratan pelaporan terkait kompensasi,” demikian pernyataan resmi badan sepak bola dunia tersebut. FIFA menegaskan bahwa kompensasi tahunan presiden beserta tunjangan kontraktual lainnya ditentukan oleh subkomite kompensasi yang independen.
FIFA juga menyatakan dengan kuat menolak segala klaim yang menyebut pihaknya gagal mengungkapkan informasi keuangan dan melanggar statuta. Menurut FIFA, laporan keuangannya diaudit secara independen, dan semua deklarasi telah sejalan dengan regulasi perpajakan di Swiss, Amerika Serikat, serta sejumlah negara lain.
Analisis Dampak: Mengapa Posisi Infantino Tetap Kukuh
Meski diterpa berbagai kontroversi, posisi Infantino justru tampak sulit digoyang. Ketiga konfederasi yang paling vokal menentangnya—Eropa, Asia, serta Amerika Utara dan Tengah beserta Karibia—tetap tidak cukup kuat menggeser dukungan elektoral yang ia miliki. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan publik dan kritik dari sejumlah asosiasi tidak otomatis berujung pada perubahan kepemimpinan.
Ketidaksolidan kubu penentang menjadi salah satu penyebabnya. Montagliani, misalnya, menolak seruan untuk menantang Infantino, karena ia memilih fokus pada upayanya terpilih kembali sebagai presiden Concacaf. Sementara itu, UEFA belum menemukan kandidat alternatif, kendati sempat menjajaki sejumlah figur terkemuka di dunia sepak bola.
Nama-nama yang sempat dijajaki UEFA antara lain Arsène Wenger dan Michele Kang, pemilik sejumlah klub termasuk London City Lionesses. Namun, hingga kini belum ada calon yang benar-benar maju. Kondisi ini membuat perlawanan terhadap Infantino berjalan tanpa tokoh sentral yang bisa menyatukan suara.
Bagi publik sepak bola, persoalan ini menyoroti bagaimana isu transparansi dan akuntabilitas di tubuh federasi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ketika kandidat alternatif tak kunjung ada, pilihan pembaca dan penggemar pun seolah terbatas pada satu nama yang sama.
Konteks Lebih Luas: Pemilu Tanpa Penantang dan Janji Dana Pengembangan
Dengan dinamika tersebut, Infantino berada di jalur untuk kembali terpilih secara aklamasi alias tanpa lawan dalam pemilu bulan Maret. Batas waktu bagi para kandidat untuk menyatakan niat maju adalah 18 November. Pemilu sendiri dijadwalkan berlangsung dalam kongres FIFA di Rabat pada 18 Maret.
Pada rapat di Zurich, Infantino diperkirakan akan mengusulkan kenaikan dana hingga £2,6 miliar untuk pengembangan sepak bola global. Dana tersebut bakal diambil dari cadangan keuangan badan sepak bola dunia itu. Kenaikan yang mencakup pendanaan periode 2027 hingga 2030 tersebut akan mendorong total belanja FIFA untuk pengembangan sepak bola pada rentang waktu itu menjadi £4,83 miliar.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Infantino memperkuat dukungan di kalangan asosiasi anggota, yang selama ini menjadi basis suaranya. Dengan menawarkan aliran dana yang lebih besar, ia berupaya menyeimbangkan tekanan politik yang datang dari sejumlah konfederasi besar. Strategi semacam ini kerap menjadi kunci dalam menjaga loyalitas blok-blok pemilih di internal FIFA.
Penutup
Rapat dewan FIFA di Zurich menjadi panggung penting bagi Gianni Infantino untuk menghadapi pertanyaan soal rencana FFE, kasus Balogun, pemberian FIFA peace prize kepada Donald Trump, hingga isu gaji kedua yang ramai diberitakan. Di saat yang sama, ia menikmati posisi kuat karena belum ada penantang yang muncul untuk pemilu Maret mendatang. Apapun hasilnya, pertemuan ini akan menjadi salah satu momen krusial dalam menentukan arah tata kelola FIFA ke depan.
