Gianni Infantino Minta Maaf, Dituntut Jawab Soal FFE

Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA atas rencana pengalihan sebagian hak komersial organisasi melalui proyek FIFA Forward Enterprise (FFE). Namun permintaan maaf itu dinilai belum cukup, karena sejumlah anggota dewan menegaskan bahwa ia baru bisa disebut layak memimpin FIFA jika bersedia membuka seluruh dokumen dan menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial yang selama ini menggantung.

Permintaan maaf tersebut muncul dalam rapat Dewan FIFA di Zurich, pertemuan pertama sejak proposal FFE yang semula tidak diungkap ke publik mencuat. Rapat berlangsung selama tiga setengah jam dan tidak hanya membahas FFE, tetapi juga kasus hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun, pemberian FIFA Peace Prize, serta pendanaan untuk asosiasi nasional. Beberapa jam setelah rapat, FIFA merilis pernyataan video dari Infantino, yang sebelumnya menolak berbicara maupun menerima pertanyaan dari media, termasuk BBC.

Apa Isi Proyek FFE yang Menuai Protes

FIFA Forward Enterprise adalah proposal yang di dalamnya sebagian hak komersial FIFA hendak diserahkan kepada sebuah perusahaan investasi swasta. Rencana itu disusun tanpa diketahui banyak pihak sebelum akhirnya bocor dan memicu reaksi keras dari berbagai federasi anggota. Infantino sendiri membatalkan proposal tersebut hanya dalam hitungan hari setelah informasinya tersebar luas.

Dalam pernyataan videonya, Infantino mengakui ada kekeliruan dalam proses komunikasi dan konsultasi proyek itu. Menurut dia, kesalahan itulah yang kemudian menimbulkan banyak konsekuensi. “Pertama-tama saya meminta maaf atas kesalahan yang kami buat terkait proses komunikasi dan konsultasi proyek FIFA Forward Enterprise yang menimbulkan banyak konsekuensi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa FFE hanyalah sebuah usulan dan sama sekali bukan kesepakatan yang sudah final. Tujuannya, kata dia, adalah memungkinkan FIFA berinvestasi lebih besar kepada asosiasi anggotanya, bukan menggantikan dukungan yang selama ini berasal dari sumber daya yang sudah dimiliki FIFA. Infantino menambahkan bahwa ia akan menjawab pertanyaan secara tertulis “pada waktunya” setelah apa yang ia sebut sebagai diskusi konstruktif, meski di dalam forum itu sendiri muncul beragam pendapat dan sudut pandang yang berbeda.

Dokumen FFE Diminta Segera Dibuka

Ketua Football Association (FA) Inggris yang juga wakil presiden FIFA, Debbie Hewitt, menyebut rapat tersebut sebagai pertemuan dewan paling tegas, paling terbuka, dan paling jujur yang pernah ia ikuti. Meski demikian, ia menegaskan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Salah satu hal yang paling mengecewakan, menurut Hewitt, adalah tidak adanya jawaban atas permintaan spesifik mereka, terutama dokumen-dokumen terkait FFE.

Hewitt mengaku menanyakan langsung alasan dokumen itu tidak dibagikan, tetapi ia justru diminta menyampaikan pertanyaannya secara tertulis. Ia menilai Infantino wajib menjawab semua pertanyaan tersebut, dan jika tidak, maka pria berdarah Swiss-Italia itu tidak layak menjabat sebagai presiden FIFA. “Itulah yang disampaikan dalam rapat,” katanya.

Ia mengungkapkan telah berulang kali meminta dokumen FFE dibagikan, tetapi belum menerimanya, termasuk setelah permintaan pada hari itu. Menurut Hewitt, dokumen tersebut penting untuk memahami alasan di balik munculnya FFE, sekaligus berkaitan dengan kasus Balogun dan FIFA Peace Prize. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, tegasnya, akan menentukan penilaian pribadinya tentang apakah Gianni Infantino merupakan kandidat yang tepat, karena selama kejadian sebenarnya belum terlihat jelas, sangat sulit menilai apakah perilaku tertentu memang perlu berubah.

Permintaan Maaf Gianni Infantino Dinilai Setengah Hati

Hewitt mengakui ada sedikit penyesalan atau “kontrisi” dalam permintaan maaf Infantino. Meski begitu, ia menilai suasana rapat saat itu benar-benar tanpa batasan dalam menyampaikan pendapat mengenai apa yang telah terjadi. Menurutnya, hal yang benar-benar disesali Infantino adalah karena ia tidak membawa rencana itu ke Dewan FIFA sejak awal.

“Jika kamu benar-benar menyesalinya sedalam itu, bagikanlah kepada kami,” kata Hewitt, yang berharap Infantino membuka dokumen FFE secara bebas. Ia meyakini langkah itu akan membuat Dewan bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dokumen-dokumen tersebut, ujarnya, menjadi bagian penting berikutnya agar dewan merasa nyaman menilai apakah proses pidana perlu ditempuh atau tidak.

UEFA, badan sepak bola Eropa, termasuk pengkritik paling keras terhadap Infantino dan berulang kali meminta ia mundur dari jabatannya. UEFA bahkan telah menyiapkan langkah hukum pidana terhadap Infantino serta mengajukan klaim ke tiga pengadilan di Amerika Serikat agar semua dokumen terkait FFE dibuka. Ketika ditanya apakah sikap UEFA terhadap Infantino berubah, Hewitt menegaskan tidak ada yang bergeser dari posisinya, sebab satu-satunya hal baru adalah mereka kini memiliki presiden yang menyampaikan permintaan maaf.

Kasus Balogun, Peace Prize, dan Reputasi Sepak Bola

Selain FFE, rapat Dewan FIFA membahas kasus Balogun, yang menurut Hewitt termasuk salah satu isu terbesar. Balogun luput dari sanksi setelah dikartu merah di Piala Dunia, karena hukumannya ditangguhkan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta keputusan itu ditinjau ulang. BBC Sport memahami bahwa ada usulan kepada Dewan untuk mengubah kode disiplin FIFA, dengan mengatur bahwa komite disiplin tidak boleh menangguhkan hukuman otomatis satu pertandingan akibat kartu merah, dan komite hukum FIFA akan mengkaji serta memperbarui Dewan FIFA pada Desember.

Hewitt menilai apa yang terjadi pada Juli tidak menguntungkan sepak bola, baik dalam kasus Balogun maupun FFE. Menurut dia, reputasi sepak bola berada dalam ancaman serius saat itu. Ia juga menyoroti bahwa begitu perilaku di luar lapangan mulai memengaruhi apa yang terjadi di dalam lapangan, maka itu menjadi hari gelap bagi sepak bola, dan pandangan itu disampaikan oleh sejumlah orang yang hadir di ruangan tersebut.

Isu FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Presiden Trump juga diangkat, bersama perilaku Infantino terhadap sejumlah tokoh terkenal dan pejabat negara lain. Hewitt menilai ketika Infantino menempatkan pejabat atau tokoh lain di atas 211 asosiasi anggotanya, ia telah kehilangan esensi sepak bola itu sendiri. Ia menekankan bahwa kritik itu tidak hanya datang dari perwakilan Eropa. Cara pemberian penghargaan ini akan menjadi objek investigasi komite sosial FIFA yang akan melapor pada Desember, mencakup alasan penghargaan itu dibuat, apakah seharusnya ada, apakah pantas diberikan dengan cara seperti itu, siapa yang memutuskan, serta apakah penghargaan itu perlu dihapus atau direformasi.

Pilpres FIFA dan Sosok Penantang Infantino

Infantino akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden FIFA untuk ketiga kalinya pada Maret nanti. Hingga kini belum ada kandidat kredibel yang muncul untuk menantangnya. Ramon Vega, mantan bek Tottenham dan tim nasional Swiss, menyatakan niatnya maju, tetapi tampaknya sulit ia memperoleh lima surat dukungan dari asosiasi anggota, apalagi menjadi penantang yang serius.

Sejumlah tokoh senior sepak bola Eropa kepada BBC Sport mengatakan mereka menginginkan mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, yang maju sebagai calon. Namun belum jelas apakah Wenger bersedia melepaskan posisinya sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA demi bertarung melawan atasannya sendiri, dalam pertarungan yang mungkin tidak ia menangkan. Situasi ini membuat posisi penantang belum menemukan bentuk yang pasti.

Hewitt mengakui UEFA dan pihak-pihak yang berseberangan dengan Infantino harus menemukan sosok yang bersedia menaruh namanya di surat suara sebelum tenggat 18 November. Ia menilai penting bagi Infantino memiliki penantang dengan manifesto berbeda, dan hal itu juga baik bagi FIFA. Menurutnya, semua pihak harus mengingat bahwa ada 211 asosiasi yang berhak memberikan suara sesuai pandangan masing-masing, dan seorang pemimpin FIFA idealnya mengutamakan sepak bola, mampu menyatukan dunia, serta punya keberanian untuk melakukan reformasi.

Apa Artinya bagi Masa Depan FIFA

Rapat di Zurich menegaskan bahwa persoalan FFE belum selesai meski proposalnya sudah ditarik. Tekanan utama kini beralih ke soal transparansi dokumen, bukan sekadar permintaan maaf lisan. Selama berkas-berkas itu tidak dibuka, tuduhan bahwa FIFA tidak terbuka akan terus bergaung, terutama karena UEFA telah menempuh jalur hukum di Amerika Serikat.

Sejumlah tenggat waktu penting juga semakin dekat. Komite hukum FIFA akan melapor soal revisi kode disiplin pada Desember, diikuti laporan komite sosial mengenai Peace Prize pada bulan yang sama. Sementara itu, batas pendaftaran calon presiden pada 18 November akan menjadi ujian bagi koalisi penantang Infantino untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar punya alternatif.

Hewitt menyebut rapat itu sebagai titik balik, ketika menjadi sangat jelas bahwa untuk melangkah maju, semua pihak harus lebih dulu memahami masa lalu. Pernyataan itu menandakan fokus Dewan FIFA kini bukan hanya mendorong perubahan perilaku, tetapi juga mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik sejumlah keputusan kontroversial.

Singkatnya, Gianni Infantino sudah menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA atas kekacauan komunikasi proyek FFE, tetapi permintaan maaf itu belum menjawab pertanyaan utama soal dokumen dan alasan di balik rencana tersebut. Kritik terhadapnya kini bersandar pada satu tuntutan sederhana: bukalah berkasnya, jawab pertanyaannya, atau akui bahwa ia tidak layak memimpin.

Dengan tenggat pencalonan pada November dan rangkaian laporan komite pada Desember, beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah posisi Infantino semakin kuat atau justru makin terdesak. Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu hal yang sama, yaitu seberapa jauh FIFA bersedia membuka diri terhadap pengawasan publik dan kritik internalnya sendiri.