Masalah di Lini Belakang dan Bek Kanan yang Terus Berguguran
Inggris akan terbang ke Atlanta dengan segudang pekerjaan rumah. Lini pertahanan tengah masih rapuh, posisi bek kanan seperti kena kutukan cedera, gelandang kelelahan, dan satu-satunya harapan hanyalah pertunjukan hebat Harry Kane serta Jude Bellingham yang terus berlanjut. Pelatih Thomas Tuchel hanya bisa berkata, “Ini saatnya tetap percaya dan terus mendorong tim.”
Kemenangan 2-0 atas Panama di New Jersey memang mengamankan posisi puncak Grup L, tapi permainan Inggris jauh dari meyakinkan. Untungnya, hasil ini memastikan lawan di babak 32 besar adalah Republik Demokratik Kongo (DRC) pada Rabu — lawan yang bisa dikalahkan. Jika Kane dan Bellingham terus tampil gemilang, Inggris tetap ancaman bagi siapa pun.
Tuchel terlalu pintar untuk tidak sadar bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki. Panama meninggalkan turnamen tanpa satu gol pun dalam tiga pertandingan, tetapi mereka tetap mampu menciptakan peluang melawan Inggris. Pertahanan rapuh itu akan dihukum oleh serangan yang lebih tajam. Rasa lega karena terhindar dari Senegal seharusnya tidak membuat lengah. DRC memulai turnamen dengan menahan Portugal, memiliki gelandang dinamis Noah Sadiki (milik Sunderland), dan Yoane Wissa dari Newcastle pasti akan memanfaatkan celah jika Inggris tidak segera membenahi pertahanan.
Kutukan Bek Kanan: Quansah Cedera, Tuchel Harus Putar Otak
Masalah terbesar justru di pos bek kanan yang seolah terkutuk. Tino Livramento sudah pulang ke Inggris, Reece James (hamstring) harus berlomba dengan waktu agar fit untuk babak 16 besar — andai Inggris lolos — dan Jarell Quansah mengalami cedera pergelangan kaki saat melawan Panama. Meski Quansah sudah bisa bergerak bebas ketika meninggalkan stadion pada Sabtu malam, ia tetap diragukan tampil lawan DRC. Tuchel pun harus berpikir keras apakah perlu merombak lini belakang lagi.
Duet Bellingham dan Kane: Senjata Mematikan yang Mulai Padu
Namun, kekhawatiran itu diimbangi oleh mulai mengilapnya duet Jude Bellingham dan Harry Kane. Kolaborasi mereka memberi Inggris peluang untuk mencetak empat gol jika lawan hanya mampu membalas tiga. Kemitraan ini gagal bersinar di Euro 2024, tetapi di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, keduanya mulai menemukan irama. Mereka tidak lagi saling berebut ruang. Bellingham sudah paham kapan harus menusuk saat Kane turun ke lini tengah, dan kombinasi mereka kian matang saat melawan Panama — untuk pertama kalinya sejak September 2023 mereka bekerja sama mencetak gol dari open play.
Gol itu terjadi lima menit setelah Bellingham membuka keunggulan. Saat serangan dibangun, Bellingham memulai dari posisi lebih tinggi dari Kane. Marcus Rashford mengirim umpan lambung ke sisi kiri. Bellingham berlari, memotong ke dalam, lalu menyilangkan bola untuk Kane yang sudah berada di kotak penalti dan dengan sempurna menyundul bola menjadi 2-0. Momen itu menunjukkan betapa dahsyatnya dua pemain kelas dunia di tangan Tuchel.
Perdebatan mengenai posisi Bellingham sudah selesai. Pertanyaan selanjutnya: apakah serangan Inggris terlalu bergantung pada gelandang Real Madrid dan Kane? Mereka telah mencetak lima dari enam gol Inggris. Kontribusi dari penyerang lain masih mengecewakan.
Bisakah Ketergantungan pada Bintang Diterima?
Apakah itu masalah? Setiap tim memiliki bintang. Brasil mengandalkan Vinícius Júnior dan Matheus Cunha. Argentina belum lepas dari Messidependencia. Spanyol lebih seragam, tapi tetap berharap pada Lamine Yamal. Namun, ketika berbicara variasi serangan, orang langsung berpikir tentang Prancis. Kylian Mbappé menghancurkan lawan di dua laga awal, lalu Ousmane Dembélé mencetak hattrick di babak pertama melawan Norwegia. Michael Olise juga bersinar, ada kilatan dari Désiré Doué dan Bradley Barcola.
Akan tetapi, tidak masuk akal menuntut Marcus Rashford, Bukayo Saka, Noni Madueke, Morgan Rogers, Anthony Gordon, atau Eberechi Eze untuk mencapai level seperti itu. Anda tidak bisa menyuruh Andy Murray untuk “lebih seperti Roger Federer”. Jadi, apa yang bisa dilakukan Tuchel?
Tuchel Minta Lebih dari Pemain Pendukung
Tuchel tetap bisa menuntut lebih dengan caranya sendiri. Rogers tidak efektif sebagai gelandang serang (No. 10) saat melawan Panama, dan Tuchel tampaknya belum sepenuhnya percaya pada Eze. Gordon kesulitan saat tidak punya ruang di sisi kiri. Saka punya dua assist — termasuk sepak pojok yang diselesaikan Bellingham dengan voli — tetapi ia masih butuh meningkatkan ketajaman.
Rashford memberikan secercah harapan. Ia mencetak gol setelah masuk sebagai pemain pengganti melawan Kroasia, meski ia tidak menganggap dirinya supersub. Saat dimainkan menggantikan Gordon kontra Panama, Rashford tampak hidup. Tapi umpan terakhirnya harus lebih baik. Ia perlu lebih klinis saat melawan DRC.
Di mata Tuchel, bukan tentang kejayaan individu. Fokusnya adalah kolektif. “Kadang, lari dari pemain lain untuk membuka ruang bagi Jude sehingga ia bisa bersinar,” ujar Tuchel. “Mereka bekerja dalam unit. Jika Anda lihat peluang di babak pertama saat Jude melakukan lari ke kotak penalti, Nico O’Reilly ikut lari untuk menarik bek lawan.”
Tuchel membenci pendekatan serangan “freestyle” yang diterapkan Inggris pada babak pertama laga persahabatan melawan Selandia Baru bulan ini. “Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan rekannya. Kami ingin bermain dengan pola dan dalam unit. Ini bukan cuma soal pola, tapi kualitas dalam menjalankan pola,” tegasnya.
Pelatih asal Jerman itu tidak mau terlibat perdebatan apakah ia seharusnya memberi tempat untuk Cole Palmer. Ia hanya fokus mendorong pemain yang ada. Yang mengecewakan, tak ada satu pun pemain yang tampil saat Ghana berhasil menetralisir Bellingham dan Kane. Thomas Partey mengawal Kane hingga hanya 19 sentuhan. Bellingham pun mulai frustrasi. Dalam laga imbang melawan Ghana, ia hanya bertukar tiga operan dengan Kane. Dalam situasi seperti itu, seharusnya pemain sayap tampil lebih banyak.
“Kami ingin para pemain ini tampil di momen krusial,” ujar Tuchel. “Nico hampir melakukannya melawan Ghana. Harry melakukannya. Jude melakukannya. Saya yakin Morgan Rogers, Anthony Gordon, Noni, Bukayo akan melakukannya saat waktunya tiba.”
Rashford mulai menunjukkan kilatan kelas. Tapi ia harus konsisten. Kane sendiri bekerja keras di babak pertama melawan Panama — hanya sekali menyentuh bola di kotak penalti. Namun saat pertandingan memasuki momen genting, Bellingham dan Kane menjadi penentu. Merekalah alasan Inggris tetap optimis.
Kesimpulan: Untuk melaju jauh di Piala Dunia 2026, Inggris tidak bisa hanya mengandalkan duet Bellingham dan Kane. Pemain sayap dan gelandang lain harus segera meningkatkan kontribusi, atau impian Inggris akan kandas di tangan lawan yang lebih solid. Tuchel punya tugas besar untuk membangun keseimbangan antara bintang dan kolektifitas tim.
