Kekalahan Adu Penalti Pertama Jerman: Paraguay Ukir Sejarah di Piala Dunia

Kekalahan Adu Penalti Pertama Jerman di Piala Dunia

Jerman harus mengakui kekalahan adu penalti pertama mereka dalam sejarah Piala Dunia setelah takluk dari Paraguay di Boston. Laga yang berlangsung dramatis ini berakhir dengan skor 1-1 setelah 120 menit, sebelum Paraguay tampil superior dalam babak tos-tosan. Kapten José Canale menjadi pahlawan dengan tendangan penalti terakhir, sementara kiper Orlando Gill tampil gemilang menggagalkan dua eksekusi Jerman.

Kekalahan adu penalti ini menjadi yang pertama bagi Jerman sejak era Panenka pada 1976. Tim asuhan Julian Nagelsmann tampil dominan dalam penguasaan bola tetapi gagal memanfaatkan peluang. Paraguay, di sisi lain, menunjukkan pertahanan disiplin dan semangat juang luar biasa sepanjang pertandingan. Kini Paraguay melaju ke babak 16 besar di Philadelphia, merayakan kemenangan terbesar dalam sejarah sepak bola mereka.

Jalannya Pertandingan: Paraguay Bertahan dengan Disiplin

Dominasi Jerman Tanpa Gol

Sejak menit awal, Jerman menguasai jalannya laga. Statistik babak pertama menunjukkan 79% penguasaan bola dan 308 umpan berbanding 55 milik Paraguay. Namun, Paraguay berdiri kokoh dengan formasi 4-5-1 yang kerap berubah menjadi 4-6-0. Tidak ada ruang bagi pemain Jerman untuk bergerak. Antonio Rüdiger bahkan frustrasi dan melambungkan bola langsung ke arah kiper hanya karena tidak menemukan opsi operan.

Gol Kejutan Julio Enciso

Di tengah kebuntuan, Paraguay mencetak gol pada menit ke-27. Dari sepak pojok Miguel Almirón, bola dikembalikan ke arahnya, lalu ia memberikan umpan terobosan cerdik kepada Matías Galarza. Umpan silang datar Galarza disambut tandukan keras Julio Enciso yang hanya bertinggi 168 cm — pemain terpendek ke-17 di Piala Dunia ini. Manuel Neuer tidak berdaya, dan Paraguay unggul 1-0.

Jerman Menyamakan Kedudukan

Memasuki babak kedua, pelatih Jerman memasukkan Leon Goretzka. Namun, peluang emas justru datang ke Paraguay saat Kimmich melakukan back-pass buruk yang nyaris dimanfaatkan Enciso. Neuer berhasil memblok. Pada menit ke-54, Jerman akhirnya menyamakan skor. Florian Wirtz melebar ke kiri, memotong ke dalam, dan melepaskan umpan silang diagonal. Kai Havertz dengan indah menanduk bola ke sudut gawang. Skor 1-1 bertahan hingga akhir waktu normal.

Babak Tambahan: Drama VAR dan Peluang Terbuang

Babak tambahan berjalan dengan Jerman terus menekan. Paraguay bertahan sangat dalam, hampir di belakang garis gawang sendiri. Nick Woltemade memiliki peluang tetapi tendangannya masih melenceng. Pada menit ke-103, Jonathan Tah mencetak gol dari sundulan, tetapi wasit menganulirnya setelah VAR melihat Waldemar Anton melanggar kiper Paraguay. Keputusan itu membuat Jerman frustrasi dan pertandingan berlanjut ke adu penalti.

Adu Penalti yang Mendebarkan

Kesalahan Beruntun Pemain Jerman

Suasana di stadion menegangkan. Pemain Paraguay berpelukan, sementara Jerman tampak gelisah. Havertz sebagai penendang pertama gagal setelah tendangannya yang lemah bisa ditebak kiper. Woltemade juga gagal dengan tendangan serupa. Paraguay justru tenang dan sukses mengeksekusi penalti mereka. Meski Antonio Sanabria dan Fabián Balbuena gagal — berkat sedikit aura Neuer yang kembali — tetapi Jerman terus melakukan kesalahan. Tah melambungkan bola jauh di atas mistar. José Canale kemudian menjadi penentu: tendangan kerasnya menjebol gawang Jerman. Paraguay menang 4-3 dalam adu penalti.

Paraguay Raih Kemenangan Bersejarah

Bangku cadangan Paraguay membanjiri lapangan. Kemenangan ini adalah hasil terbaik dalam sejarah sepak bola Paraguay — melebihi pencapaian sebelumnya. Kekalahan adu penalti pertama Jerman ini menjadi catatan kelam bagi Nagelsmann, yang kini terancam digantikan Jürgen Klopp. Laga selama 120 menit hanya menghasilkan enam tembakan tepat sasaran, tetapi drama di akhir membuatnya terasa epik.

Kesimpulan: Malam Bersejarah di Boston

Pertandingan ini membuktikan bahwa Piala Dunia mampu menyuguhkan kejutan. Paraguay, yang diunggulkan bertahan mati-matian, berhasil menjegal raksasa Eropa. Bagi Jerman, kekalahan adu penalti ini menjadi pengingat bahwa penguasaan bola saja tidak cukup tanpa penyelesaian akhir yang klinis. Sementara bagi Paraguay, malam di Boston akan dikenang sebagai puncak perjuangan dan kebanggaan nasional.