Dua Gol Haaland Bawa City Raih Tiga Poin Penting
Manchester City kalahkan Porto 2-0 pada laga pembuka Liga Champions mereka di Estádio do Dragão, dengan dua gol yang seluruhnya dicetak Erling Haaland. Kemenangan ini sekaligus mengobati kenangan pahit City di stadion yang sama, tempat mereka takluk pada final Liga Champions 2021. Bagi Enzo Maresca, pelatih anyar yang tengah membangun timnya, tiga poin ini menjadi modal berharga untuk bersaing di Eropa.
Dalam pertandingan yang diguyur hujan deras, City tampil kerja keras dan disiplin. Maresca bahkan sempat mengaku senang dengan ritme “boom-boom” musik house sebelum laga, dan pada akhirnya ia menikmati nada manis kemenangan setelah anak asuhnya tampil solid. Apalagi, City datang dengan catatan enam kekalahan dari sembilan laga tandang terakhir di kompetisi ini, sehingga hasil positif di kandang juara Portugal punya makna yang jauh lebih besar.
Haaland kembali membuktikan diri sebagai pembeda di panggung terbesar. Dengan dua golnya malam itu, penyerang asal Norwegia itu naik ke posisi ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah City dengan koleksi 167 gol hanya dalam empat tahun. Ia juga kian konsisten di Liga Champions, yakni 59 gol dari 59 penampilan, sebuah catatan yang sulit ditandingi pemain lain.
“Pertandingan yang luar biasa melawan juara Portugal,” kata Haaland seusai laga. “Kami harus tampil di panggung terbesar, dan malam ini kami berhasil melakukannya.”
Porto Sempat Beri Dua Peringatan di Babak Pertama
Porto datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyapu bersih lima laga Primeira Liga mereka. Pada awal babak pertama, tim asuhan Francesco Farioli itu membiarkan City menguasai bola dengan umpan-umpan pendek yang belum terlalu berbahaya. Namun, begitu City mulai kehilangan ketajaman, Porto langsung menunjukkan bagaimana cara merebut bola dan keluar dari tekanan.
Dua peringatan nyaris membuat gawang Gianluigi Donnarumma kebobolan lebih dulu. Pertama, Gabriel Veiga berhasil menembus pertahanan City dan memaksa Donnarumma melakukan penyelamatan, meski wasit sudah mengibarkan bendera offside. Kedua, ketika umpan Marc Guéhi terlalu pendek untuk Ayyoub Bouaddi, Porto langsung merebutnya dan William Gomes harus dihentikan di tepi kotak penalti City.
Maresca tampaknya sadar ritme timnya terlalu lambat dan berusaha mengubahnya. Begitu Phil Foden pindah dari sisi kanan dan mempercepat serangan, pertahanan Porto langsung kewalahan hingga sundulan Haaland memaksa Diogo Costa bekerja keras. Pola yang nyaris sama terulang ketika umpan Antoine Semenyo dari sisi kiri disambut sundulan Haaland, tetapi kali ini bola melambung di atas gawang.
City kemudian terus menekan dan Porto nyaris tercekik di area sendiri. Foden, Rayan Cherki, dan Haaland bergantian merepotkan lini belakang tuan rumah. Momentum itu makin terasa ketika Bouaddi melepaskan umpan dari dekat garis tengah yang membuat pertahanan Porto panik dan hanya mampu membuang bola.
Keributan di Lorong Stadion Warnai Turun Minum
Menjelang turun minum, suasana di lorong stadion sempat memanas. Keributan terjadi ketika para pemain dan staf kedua tim berjalan menuju terowongan, dan gambar televisi memperlihatkan Rúben Dias meletakkan tangannya ke arah pelatih Porto, Francesco Farioli. Insiden ini bermula dari benturan antara Guéhi dan Veiga yang membuat pemain Porto itu mengalami cedera kepala, meskipun ia tetap mampu melanjutkan laga.
Ketika dikonfirmasi soal aksi Dias tersebut, Maresca tampak kesal, terutama saat ditanya apakah kaptennya itu akan diberi pembinaan karena bisa merugikan City. “Mungkin. Lagipula, kalian boleh bertanya apa saja, tetapi berapa kali kalian melihat saya, bangku cadangan saya, atau staf yang bekerja dengan saya berdiri di tepi lapangan? Nol, selama 95 menit. Berapa kali kalian melihat bangku cadangan mereka?” ujarnya.
Emosi yang meluap di akhir babak pertama itu memang nyaris menodai performa apik City di lapangan. Insiden tersebut juga berpotensi menarik perhatian UEFA, terutama karena melibatkan kapten tim dan pelatih lawan. Namun, setidaknya hingga pertandingan usai, tidak ada tindakan disipliner yang dilaporkan.
Babak Kedua: City Lebih Efisien dan Maresca Jeli Membaca Laga
Begitu babak kedua dimulai, suasana langsung berubah. City akhirnya menunjukkan keganasan yang dibutuhkan di level ini ketika Cherki menusuk ke kotak penalti, berbelok ke kiri, dan meninggalkan Diogo Costa yang tidak berdaya. Ia lalu mengirim bola kepada Enzo Fernández, dan sundulan Haaland dari umpan itu masuk ke gawang setelah menghantam tanah lebih dulu.
Porto bukannya tanpa perlawanan. Mereka naik ke atas dan nyaris menyamakan kedudukan, salah satunya lewat André Silva yang punya banyak waktu untuk bergerak ke kanan dan melepaskan tembakan, tetapi bola hanya mengenai sisi jaring. Keunggulan tipis itu mengingatkan Maresca pada kemenangan 1-0 atas Coventry pada Sabtu lalu, sehingga pelatih asal Italia itu tidak tinggal diam.
Begitu melewati menit ke-60, Maresca menarik Cherki dan Semenyo untuk digantikan Elliot Anderson serta Iliman Ndiaye. Ia mengganti dua pemain penyerang dengan dua nama baru, yakni satu sosok penyerang murni dan satu gelandang bertahan yang diminta menjaga keseimbangan tim. Anderson diharapkan membantu Bouaddi mematikan segala ancaman Porto, sekaligus memberi ketenangan bagi lini belakang City.
Ndiaye nyaris menggandakan keunggulan ketika ia meliuk melewati pemain lawan dan melepaskan tembakan, tetapi bola masih mudah ditangkap Costa. Foden juga berulang kali mencoba menusuk pertahanan Porto, namun bola selalu kembali ke kiper tuan rumah. Di menit-menit akhir, penyelesaian kaki kanan Haaland akhirnya memastikan kemenangan City dan membuat keributan yang sempat memanas lagi tidak lagi berarti bagi tim tamu.
Debut Penuh Ayyoub Bouaddi dan Pujian Khas Haaland
Maresca memberikan debut penuh kepada Ayyoub Bouaddi dalam laga ini. Gelandang berusia 18 tahun asal Maroko itu ditandemkan dengan Enzo Fernández di lini tengah dan tampil cukup impresif sepanjang pertandingan. Meski begitu, satu momen yang gagal ia selesaikan dengan baik sempat menjadi sorotan Haaland.
Momen itu terjadi di babak kedua ketika Bouaddi seharusnya bisa memberi umpan terobosan kepada Haaland yang sudah berdiri bebas, tetapi ia memilih opsi lain. “Saya bilang kepada chairman (Khaldoon al-Mubarak), kami punya permata di sana,” kata Haaland. “Tapi dia seharusnya memberi umpan terobosan kepada saya di babak kedua, karena saya sendirian. Saya sedikit marah, jadi akan saya sampaikan sekarang — tetapi dia bermain bagus, kecuali umpan itu.”
Celotehan Haaland itu justru mencerminkan tingginya standar yang berlaku di skuad City. Seorang pemain semuda Bouaddi tentu akan banyak belajar dari pengalaman tampil di laga sebesar ini. Kepercayaan yang diberikan Maresca sejak menit pertama juga menjadi sinyal bahwa City serius mempercayakan ruang kepada talenta muda di laga penting.
Manchester City Kalahkan Porto dan Membungkam Kritik
Manchester City kalahkan Porto dan sekaligus memastikan Maresca memenangi keempat laga perdananya, sebuah capaian yang mungkin melampaui ekspektasi pelatih berusia 46 tahun itu. Dengan dua gol Haaland, tim asuhannya menjaga start sempurna dan mengirim pesan ke seluruh Eropa bahwa mereka layak diperhitungkan. Apalagi, lawan yang mereka taklukkan malam itu adalah juara Portugal yang sedang dalam kepercayaan diri tertinggi.
Performa City ini juga menjawab kritik yang pernah dialamatkan kepada Maresca saat menangani Leicester dan Chelsea, yang menilai gaya bermainnya terlalu menyamping dan kurang tajam. Melawan Porto, timnya tampil langsung, agresif, dan efisien di sepertiga akhir lapangan. Haaland tentu menjadi faktor pembeda, tetapi cara City membangun serangan juga menunjukkan perkembangan taktis yang nyata.
Meski begitu, masih ada pekerjaan rumah yang harus dibenahi. City tetap terlihat rentan ketika Porto melancarkan serangan balik, dan tensi emosional di lorong stadion berpotensi menjadi perhatian UEFA. Jika Maresca mampu menambal celah-celah itu, bukan tidak mungkin City akan menjadi salah satu peserta yang paling disegani di Liga Champions musim ini.
Dengan dua gol Haaland, Manchester City kalahkan Porto untuk mengawali perjalanan Eropa mereka dengan langkah nyaris sempurna. Kemenangan ini membuktikan bahwa proyek Maresca mulai berjalan ke arah yang benar, sekaligus menegaskan Haaland tetap menjadi mesin gol paling menakutkan di benua Eropa. Kini tinggal bagaimana City menjaga konsistensi dan emosi tim agar hasil positif semacam ini bisa terus berlanjut.
