Pep Guardiola membela Manchester City setelah klub itu dinyatakan bersalah atas seluruh tuduhan pelanggaran aturan keuangan Premier League dalam rentang sembilan tahun. Mantan manajer berusia 55 tahun tersebut menegaskan bahwa dirinya akan selalu berdiri di belakang klub, dengan pesan tegas kepada para penggemar: “Kita akan melewati ini bersama-sama.”
Dukungan Guardiola tidak bisa dilepaskan dari kedekatannya dengan era kejayaan sekaligus periode yang kini menjadi sorotan. Dua musim pertamanya menangani City masuk dalam rentang waktu yang diselidiki komisi independen, dan ia juga dikenal sebagai sekutu dekat CEO Ferran Soriano yang membawanya ke Inggris. Klub sendiri tetap menyatakan tidak bersalah dan berencana mengajukan banding sebelum tenggat pada Jumat.
Guardiola Bela Manchester City Lewat Pesan Emosional
Melalui media sosial, Guardiola mengirim pesan yang menyentuh kepada seluruh pendukung Manchester City di berbagai penjuru dunia. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bersama klub tidak berkurang, justru semakin kuat di tengah situasi sulit ini. “Saya ingin setiap penggemar Manchester City di seluruh dunia tahu bahwa saya ada di sini, lebih dari sebelumnya,” tulisnya.
Dalam pernyataan tersebut, Guardiola menyebut sejumlah pihak yang ia dukung, mulai dari klub, pemilik, chairman, Ferran Soriano, para pemain, hingga staf. Ia juga secara khusus menyebut Enzo (Maresca) serta para suporter yang ia gambarkan sebagai pendukung yang istimewa. Pesannya ditutup dengan kalimat penuh kehangatan: “Izinkan saya tegaskan, kita akan melewati ini bersama-sama. Saya mencintai kalian semua.”
Sikap ini menunjukkan bahwa meski tak lagi memegang kendali teknis di lapangan, Guardiola tetap ingin terlihat sebagai bagian dari keluarga besar City. Bagi banyak penggemar, pernyataannya menjadi semacam jaminan bahwa sosok yang membawa klub ke puncak kejayaan tidak akan meninggalkan mereka di saat terpuruk.
Kronologi Tuduhan yang Membayangi Era Guardiola
Guardiola meninggalkan City pada musim panas setelah satu dekade penuh prestasi. Selama sepuluh tahun itu, ia mempersembahkan 20 trofi bagi klub, menjadikannya salah satu manajer tersukses dalam sejarah Premier League. Namun, bayang-bayang penyelidikan membuat sebagian besar masa jabatannya tidak pernah benar-benar lepas dari pertanyaan tentang pelanggaran aturan keuangan.
Tuduhan pertama kali diajukan kepada City pada Februari 2023. Sepanjang proses investigasi berjalan, Guardiola berulang kali dimintai komentar mengenai hal tersebut. Ia konsisten menyatakan kepercayaannya terhadap apa yang disampaikan manajemen klub yang dimiliki pemilik asal Abu Dhabi itu.
“Saya percaya kepada mereka,” ujar Guardiola pada Mei. “Saya berbicara dengan mereka dan memercayai cara mereka bersikap dan bertindak.” Pernyataan itu sejalan dengan posisinya sebagai figur yang selalu membela klub di ruang publik, bahkan ketika pertanyaan soal tuduhan terus menghantuinya dari musim ke musim.
Setelah meninggalkan kursi manajer, Guardiola dipastikan tetap melanjutkan perannya sebagai duta global City Football Group. Peran itu mencakup pemberian “nasihat teknis kepada klub-klub dalam grup, mengerjakan proyek dan kolaborasi tertentu”. Ini mempertegas bahwa hubungannya dengan City tidak berakhir begitu saja ketika ia berhenti melatih.
Kritik Keras dan Seruan agar Jajaran Direksi Mundur
Tidak semua pihak di lingkaran City mendukung sikap bertahan tersebut. Mantan chairman City, David Bernstein, menggambarkan situasi yang menimpa klub sebagai “lebih dari mengerikan”. Bernstein yang menjabat ketua antara 1998 hingga 2003 itu menilai hukuman yang pantas untuk kasus ini sulit dibayangkan beratnya.
“Saya tidak bisa memikirkan hukuman yang cukup kuat untuk ini, sungguh. Maksud saya, ini benar-benar mengerikan,” kata Bernstein. Ia lalu mengangkat persoalan lain, yaitu posisi dewan direksi klub yang menurutnya ikut bertanggung jawab atas jalannya klub selama periode tersebut.
Menurut Bernstein, direktur klub termasuk CEO yang sudah lama menjabat dan melewati masa itu memiliki tanggung jawab penuh atas pengelolaan klub dari segala aspek. Ia membandingkan situasi ini dengan perusahaan publik, di mana para direktur seharusnya mundur atau diskors sambil menunggu hasil akhir, terlepas dari ada atau tidaknya banding. “Saya rasa manajemen saat ini tidak bisa melanjutkan secara kredibel,” tegasnya.
Kritik dari figur yang pernah memimpin klub ini menunjukkan bahwa persoalan City bukan hanya soal sanksi dari Premier League. Ada tekanan internal dan pertanyaan tentang akuntabilitas di level kepemimpinan yang bisa berdampak jangka panjang pada cara klub dijalankan.
Tim Putri Tetap Fokus dan Konteks yang Lebih Luas
Di sisi lain, tim putri Manchester City memilih untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Pelatih kepala Manchester City Women, Andrée Jeglertz, menegaskan bahwa skuadnya tidak terpengaruh oleh situasi yang sedang menimpa klub. Timnya tengah bersiap menjamu Real Madrid di ajang Women’s Champions League pada Kamis.
Ketika ditanya apakah ia sependapat dengan Guardiola dan tetap mendukung klub meski ada vonis bersalah dari Premier League, Jeglertz menjawab dengan tegas. “Tentu saja. Saya bekerja di klub ini sekarang, dan itulah yang menjadi tugas saya, sudah pasti,” ujarnya. Namun, ia menolak berkomentar lebih jauh saat ditanya apakah ada jaminan bahwa tim putri tidak akan terdampak oleh kasus ini.
Pelatih asal Swedia itu menegaskan bahwa timnya, yang musim lalu menjuarai Women’s Super League, hanya fokus pada sepak bola. “Kami tidak mengubah apa pun, kami terus melakukan semua hal seperti biasanya,” katanya. Pernyataan ini menggambarkan upaya menjaga stabilitas di tengah guncangan yang menimpa klub secara keseluruhan.
Kasus ini juga mencerminkan tren yang lebih luas dalam sepak bola modern, di mana pelanggaran aturan keuangan klub-klub besar semakin sering berujung pada proses hukum dan sorotan publik. Bagi City, langkah banding yang akan diajukan menjadi penentu arah, sementara tekanan terhadap manajemen berpotensi terus menguat. Bagaimana klub menavigasi periode ini akan menentukan bukan hanya masa depan mereka di kompetisi, tetapi juga reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun.
Dukungan Guardiola menegaskan bahwa ikatannya dengan Manchester City tidak putus meski ia sudah tidak lagi menjadi manajer. Di tengah vonis bersalah dan rencana banding, ia memilih berdiri di sisi klub dan para pendukungnya. Namun, kritik dari mantan chairman dan ketidakpastian soal dampaknya bagi seluruh bagian klub menunjukkan bahwa persoalan ini masih jauh dari selesai.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada proses banding serta langkah yang diambil manajemen untuk merespons tekanan yang muncul. Bagi para penggemar, pesan Guardiola setidaknya memberi ketenangan bahwa figur yang pernah membawa klub ke puncak tetap setia. Bagaimana kisah ini berakhir masih menjadi tanda tanya yang akan terjawab dalam beberapa waktu mendatang.
