Karier Lionel Messi di Argentina Berakhir: Misteri Sakral

Karier Lionel Messi di Argentina resmi berakhir pada Selasa malam di Stadion Monumental, dan seperti hampir seluruh perjalanannya bersama tim nasional, penutup itu berlangsung penuh gejolak emosi, terasa tergesa-gesa, namun tetap mengharukan. Menghadapi Benin, Messi menyumbang assist untuk ketiga gol timnya sekaligus mengeksekusi penalti dengan sukses. Setelah laga usai, ia mengambil mikrofon dan berpidato dengan cara yang membuat banyak orang tercengang, sebab pemain yang lama dikenal canggung berbicara di depan publik itu mendadak tampil lancar dan penuh percaya diri.

Perpisahan tersebut menutup babak panjang yang jauh dari mulus. Bertahun-tahun Messi harus berjuang meyakinkan publik Argentina bahwa dirinya layak dikenang, bahkan ketika kemampuannya di level klub nyaris tak terbantahkan. Kisah itu kini menjelma semacam obituari sepak bola, yang memunculkan kembali luka lama, kritik pedas, sekaligus gelombang cinta yang datang terlambat.

Perpisahan di Monumental: Laga Terakhir yang Serba Improvisasi

Pertandingan perpisahan Messi di Stadion Monumental terasa jauh dari kemegahan yang biasanya menyertai momen sebesar itu. Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) kesulitan mengamankan lawan yang sepadan karena enggan berbagi panggung box office dengan kekuatan sepak bola lain. Benin akhirnya dipilih, dan sebagian pihak mencemoohnya sebagai lawan yang tidak layak untuk mengiringi laga terakhir seorang ikon.

Pelatih Lionel Scaloni bahkan sempat menyebut keinginannya menghadapi lawan yang lebih besar daripada Bolivia dan Burkina Faso, dua tim lain yang dijadwalkan melawan Argentina pada jendela pertandingan itu. Burkina Faso sendiri mengirimkan tim U-23 yang baru tiba beberapa jam sebelum pertandingan, sementara Stadion Monumental tidak terisi penuh. Harga tiket dinilai sangat mahal, dan sebagian penggemar garis keras menolak membeli dengan menyebutnya sebagai “penipuan”.

Meski demikian, saat menghadapi Benin, mereka tetap datang dalam jumlah besar. Benin ternyata memberi perlawanan, dan pertandingan itu dibuka sekaligus ditutup oleh momen simbolik ketika kapten tim Benin menghadiahkan Messi sebuah patung Dahomey Agojie, merujuk pada kelompok perempuan yang pernah berjuang melawan pendudukan Prancis. Dari tribun beton terdengar sorak yang tegas, terus-menerus, dan bergetar, sementara kamera menyorot wajah-wajah yang menangis. Itu sepak bola sepenuhnya, dan Messi jelas menikmatinya.

Penghormatan yang Spontan, Kacau, dan Tidak Selalu Mulus

Sebelum pertandingan, Messi menerima gelar doktor kehormatan dari University of Buenos Aires. Upacaranya berlangsung kecil dan sederhana, digelar di sebuah ruang belakang di kantor AFA, jauh dari kesan megah yang mungkin dibayangkan banyak orang. Penghormatan untuk nomor punggung 10 disiarkan, dan media sosial dipenuhi unggahan bernada hiperbolik.

Salah satu unggahan menyamakan Messi dengan Scheherazade, tokoh dalam Kisah Seribu Satu Malam, yang disebut menipu takdir pertandingan demi pertandingan untuk memberi rakyat Argentina satu hari lagi keajaibannya. Unggahan itu menutup dengan kalimat bahwa seribu satu malam Lionel Messi bersama seragam biru langit-putih kini berakhir. Sebuah balasan datang cepat: penulisnya meminta semua orang berhenti karena saat itu baru pukul sembilan pagi dan ia belum siap menangis.

Hiburan di sekitar pertandingan sendiri, untuk meminjam cara Wayne Rooney menggambarkannya, terbilang buruk. Soledad Pastorutti membawakan penghormatan yang berlarut-larut dengan menyanyikan lagu yang sama seperti yang pernah ia bawakan bersama Maradona. Seorang veteran Perang Falklands/Malvinas menyanyikan lagu kebangsaan, lalu menyelimuti dirinya dengan bendera yang sama seperti yang pernah jatuh di lapangan di Atlanta. Di tribun, penonton menyanyikan chant menentang presiden AFA, Chiqui Tapia, sementara pertunjukan drone di akhir acara menampilkan iklan sebuah perusahaan asuransi di langit.

Karier Lionel Messi di Argentina: Debut dan Perjuangan Jorge Messi

Messi tumbuh besar di sistem pembinaan usia muda Barcelona, dan karena latar belakangnya ia berhak membela Spanyol maupun Argentina. Debutnya untuk Argentina terjadi dalam sebuah pertandingan kelompok usia melawan Paraguay, dan momen itu memicu perlombaan untuk memastikan ia mengikat kesetiaannya pada negara kelahirannya sebelum Spanyol sempat membujuknya. Saat itu ia sudah menjadi salah satu bintang paling menjanjikan di akademi Barcelona, tetapi namanya belum banyak dikenal di Argentina.

Ayahnya, Jorge Messi, tidak menginginkan apa pun selain melihat putranya membela Argentina. Ia mengirimkan video ke pelatih Argentina saat itu, Marcelo Bielsa, dengan harapan bisa mempercepat prosesnya. Selama bertahun-tahun, Jorge menjalani perjuangan berat untuk memperkuat ikatan antara Lionel dan Argentina, karena ketajaman sang anak yang tampak tak terbendung di sistem Barcelona yang mapan justru tidak langsung muncul di level nasional. Dalam masa-masa itu, Jorge kerap melontarkan pertanyaan yang sama kepada rekan-rekan senegaranya: bagaimana caranya membuat Argentina mencintai anak saya?

Kini, ketika orang mulai menulis obituari sepak bola Messi, sejumlah insiden paling menyakitkan terhadap dirinya kembali muncul ke permukaan. Kritik terhadapnya datang dalam berbagai bentuk:

  • Sejumlah panelis berdiri dalam hening cipta sebagai bentuk protes terhadap penampilan Messi bersama tim nasional.
  • Ia dikritik karena tidak menyanyikan lagu kebangsaan.
  • Diketahui bahwa ia mengalami serangan muntah dan diare sebelum pertandingan Argentina.
  • Diego Maradona mengejeknya sebagai bukan pemimpin, meski kemudian justru ia yang menjadikan Messi kapten Argentina.

Ketika upaya merebut hati publik meningkat dan Messi mulai memberi wawancara, isi pembicaraannya dinilai sangat dasar dan hampir tidak mengungkap apa pun. Meski begitu, ia tidak pernah menyerah. Ia melewatkan penalti, menangis, lalu berdiri lagi untuk mengeksekusinya.

Keheningan dan Kontradiksi yang Membayangi Messi

Penulis Brasil Milly Lacombe pernah mengangkat sisi rumit dari sosok Messi ketika gelombang sentimen anti-Argentina memuncak pada turnamen tahun ini. Ia menyebut apa yang dilakukan Argentina di Piala Dunia berada pada tataran yang sakral, sekaligus mengakui adanya kontradiksi dalam dukungannya: Messi, tulisnya, adalah pemain yang seperti Tuhan, tetapi juga manusia yang menjabat tangan Trump. Lacombe menekankan pentingnya mengakui kompleksitas semacam itu alih-alih menyederhanakannya.

Ia juga mempertanyakan mengapa Messi tidak bersuara menentang insiden rasis yang terlihat di sekitar tim Argentina. Menurut Lacombe, itulah yang membuatnya begitu menyakitkan ketika seseorang dengan kekuatan sebesar Messi justru memilih membuat dirinya kecil. Keheningan Messi memang menjadi bahan pembicaraan panjang, meski ketidaknyamanannya berbicara di depan publik juga bukan rahasia lagi.

Jurnalis John Carlin pernah mengatakan bahwa setelah dua kali mewawancarai Messi, ia akan menolak tawaran ketiga karena sulitnya membuat sang pemain mengucapkan sesuatu yang berbobot. Pada 2010, Juan Sebastián Verón mengaku belum pernah melihat Messi segugup saat pertama kali berbicara di depan rekan-rekannya sebagai kapten Argentina. Dalam hal berbicara di publik, ledakan paling terkenal Messi mungkin terjadi di Piala Dunia 2022, ketika ia menyuruh seorang pemain Belanda untuk pergi.

Meski dikenal pendiam, Messi selalu bermakna bahkan ketika ia tidak bersuara. Jurnalis Argentina Alejandro Wall menggambarkan bahwa yang mencirikan Messi di tim nasional adalah kekalahannya: ia kalah berkali-kali dan terbentuk justru dalam kekalahan.

Dampak dan Implikasi: Dari Pahlawan Menjadi Sasaran Cacian

Cacian terhadap Messi sebenarnya lebih sering datang dari media daripada dari rakyat biasa. Ketika ia memutuskan berhenti dari tim nasional pada 2016, gelombang cinta dan keinginan spontan menyapu seluruh negeri, dan ia pun membatalkan keputusannya. Sejak saat itu, prioritas utama AFA sejalan dengan keinginan Jorge Messi: mencari pelatih yang mampu menyesuaikan seluruh sistem permainan untuk Lionel. Tugas itu tidak mudah, dan hasilnya baru benar-benar terlihat bertahun-tahun kemudian.

Perubahan besar mungkin baru benar-benar muncul setelah Maradona meninggal pada 2020. Messi tampil lebih tegak, lebih percaya diri, dan lebih nyaman menjalankan perannya sebagai pemimpin. Pada 2021 Argentina memenangi Copa América, dan potongan pidato motivasinya kepada rekan setim mulai tersebar. Ia berbicara dengan kalimat-kalimat sederhana dalam aksen Rosario yang khas, mengucapkan huruf s dengan desis dan tidak melafalkan sebagian besar konsonan akhir. Prestasi dirinya dan Argentina setelah titik itu berbicara sendiri.

Namun citra itu bergerak dinamis. Messi dan Argentina diperlakukan sebagai kesayangan setelah menjuarai Piala Dunia 2022, tetapi ketika final 2026 berakhir dengan kekalahan dari Spanyol, mereka berubah menjadi sosok yang dimusuhi. Bagi penggemar Argentina, kekalahan itu membuka keran cacian dari segala penjuru dunia, sekaligus menyadarkan mereka bahwa penampilan tersebut mungkin saja menjadi yang terakhir dari Messi bersama seragam Argentina. Ketika ia akhirnya memastikan pensiun dari kancah internasional, gelombang duka dan rasa terima kasih menyapu negeri itu.

Misteri Sakral di Balik Penampilan Messi

Lacombe pernah menjelaskan apa yang membuat Messi sulit dijelaskan lewat angka atau analisis taktik. Menurutnya, ketika Messi di tengah pertandingan yang hampir kalah menengadah ke langit, lalu membalikkan keadaan dan menghancurkan lawan, ada sesuatu yang sangat misterius di sana, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan. Ia mengaku mulai mendukung Inggris dalam laga semifinal melawan Argentina, tetapi pada akhir pertandingan justru menangis, terserahkan pada komitmen, gairah, dan cinta yang ditumpahkan tim Argentina ke lapangan. Hanya dalam momen gairah sehebat itu, katanya, kita bisa menyentuh yang sakral.

Malam perpisahan di Monumental menutup kisah itu dengan cara yang tidak sepenuhnya mulus, tetapi tetap ditebus oleh sepak bola. Messi menyumbang assist untuk ketiga gol Argentina dan tidak gagal dalam penalti. Setelah itu ia berpidato dengan kefasihan dan kepercayaan diri yang menurut sebagian orang layak dikaji kata demi kata dalam sebuah disertasi.

Dalam pidato itu, Messi menanggapi teori konspirasi seputar final Piala Dunia, dengan menegaskan bahwa tidak ada hal aneh yang terjadi dan pertandingan melawan Inggris menguras energi mereka secara emosional. Ia juga memperingatkan akan datangnya masa-masa sulit, tetapi menegaskan bahwa persatuan tim adalah jalan untuk melewatinya. “Kami punya mimpi untuk mewujudkan mimpi kami,” ujarnya, lalu menambahkan bahwa ia tidak tahu mengapa kali ini ia berbicara lebih banyak dari biasanya, dan bahwa ia tidak ingin meninggalkan tempat itu. Ia mencintai Argentina, dan Argentina membalas cinta itu.

Sepanjang karier Lionel Messi di Argentina, hubungan antara seorang pemain besar dan negaranya memang tidak pernah sesederhana yang terlihat dari papan skor. Ada penolakan, kritik, cemoohan, dan pertanyaan menyakitkan dari ayahnya sendiri tentang bagaimana membuat Argentina mencintai anaknya. Semua itu berakhir dengan gelombang cinta yang datang justru ketika karier internasionalnya tutup usia, dan dengan sebuah malam yang ditebus oleh permainan sepak bola itu sendiri.

Yang tersisa sekarang bukan hanya statistik atau trofi. Ketika Messi menengadah ke langit lalu membalikkan keadaan, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan data. Seperti yang dikatakan Lacombe, di sanalah letak misteri, dan di sanalah letak yang sakral.