Nyanyian Anti Imigran di Sepak Bola Inggris Melonjak, Data Terbaru Ungkap

Sepak bola Inggris kembali diterpa kabar mengkhawatirkan. Data terbaru dari Kick It Out, organisasi yang fokus memerangi diskriminasi, menunjukkan lonjakan signifikan dalam laporan nyanyian anti imigran di stadion-stadion Inggris. Tren ini menjadi cermin buruk bagi atmosfer pertandingan yang seharusnya menjadi ajang hiburan dan persatuan.

Lonjakan Pelaporan Nyanyian Anti Imigran

Sepanjang musim 2025-26, Kick It Out menerima 39 laporan terkait nyanyian yang menargetkan imigran. Angka ini lebih tinggi dari total dua musim sebelumnya jika digabungkan. Frase seperti “stop the boats” dan “send them back” dilaporkan terdengar di semua level kompetisi, mulai dari liga amatir hingga profesional. Fenomena ini oleh Kick It Out disebut sebagai tren mass chanting bernada diskriminatif yang semakin mengakar.

Peningkatan nyanyian anti imigran ini selaras dengan kenaikan laporan diskriminasi secara keseluruhan, baik di dalam stadion maupun di ruang digital. Total laporan diskriminasi mencapai 1.744 kasus pada musim lalu—sebuah rekor baru dan naik 25% dibanding musim sebelumnya.

Diskriminasi Meningkat di Semua Kategori

Setiap jenis diskriminasi mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Berikut rincian laporan yang diterima Kick It Out:

  • Rasisme: 792 laporan (45% dari total), naik 19%.
  • Seksisme: 216 laporan, naik 12%.
  • Homofobia: 203 laporan, naik 46%.
  • Anti-Semitisme: 93 laporan, naik 43%.
  • Ableisme (diskriminasi terhadap difabel): 89 laporan, naik 20%.
  • Islamofobia: 60 laporan, naik 88%.

Kenaikan drastis ini menunjukkan bahwa permasalahan diskriminasi di sepak bola Inggris masih jauh dari kata selesai. Isu nyanyian anti imigran menjadi salah satu wajah baru dari problem lama yang kian kompleks.

Sepak Bola Akar Rumput dan Pelecehan Wasit Juga Terdampak

Diskriminasi tidak hanya terjadi di level elite. Laporan dari sepak bola akar rumput (grassroots) naik untuk kelima kalinya secara berturut-turut, mencapai 248 laporan—naik 33% dibanding musim sebelumnya. Selain itu, pelecehan terhadap wasit tercatat sebanyak 98 laporan, angka yang sama dengan gabungan tiga musim sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya diskriminatif telah merambah hingga ke lapangan-lapangan kecil, dan membutuhkan intervensi serius dari semua pihak.

Respon Pemain dan Otoritas

Samuel Okafor, CEO Kick It Out, mengatakan bahwa peningkatan laporan juga mencerminkan keberanian para korban dan saksi untuk bersuara. “Angka-angka ini membuktikan diskriminasi masih tertanam dalam pertandingan, seiring meningkatnya ujaran kebencian di masyarakat. Namun, ini juga menunjukkan orang-orang semakin berani melawan pelecehan,” ujarnya.

Ia memuji langkah para pemain profesional yang menjadi contoh. Misalnya, bek timnas wanita Inggris, Jess Carter, yang melaporkan pesan bernada kebencian hingga pelaku divonis hukuman percobaan pada Maret lalu. Di kubu pria, Antoine Semenyo juga mengungkap pelecehan rasis yang diterimanya sepanjang musim, dan satu kasus sudah dijadwalkan untuk disidangkan pada September mendatang.

Temuan Kick It Out ini sejalan dengan laporan UK Football Policing Unit pekan lalu. Polisi mencatat bahwa sebagian kenaikan bisa disebabkan oleh perbaikan mekanisme pelaporan, misalnya kategori diskriminasi misoginis yang baru diperkenalkan awal musim lalu. Baik polisi maupun Kick It Out mendesak platform online untuk lebih proaktif mencegah ujaran kebencian.

Harapan ke Depan: Kesadaran yang Kian Membaik

Meskipun angka diskriminasi memprihatinkan, tren positif juga terlihat: semakin banyak orang yang berani melapor. Okafor menegaskan, “Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas sepak bola, klub, liga, regulator, dan pemerintah untuk memastikan keberanian melapor diiringi dengan tindakan yang jelas dan konsisten. Sepak bola harus menjadi tempat yang menyambut semua orang.”

Lonjakan nyanyian anti imigran dan bentuk diskriminasi lainnya menjadi alarm keras bagi industri sepak bola Inggris. Namun, dengan meningkatnya kesadaran dan keberanian untuk melawan, masih ada harapan untuk menciptakan stadion yang aman dan inklusif bagi semua kalangan.