Israel Resmi Cabut Dukungan untuk Gianni Infantino

Israel resmi cabut dukungan untuk Infantino dalam perebutan kursi presiden FIFA. Ketua Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA), Moshe Zuares, menyampaikan keputusan itu melalui surat resmi yang dikirim pada Selasa. Dengan demikian, Israel menjadi anggota FIFA terbaru yang secara resmi menarik dukungannya terhadap pencalonan kembali Gianni Infantino.

Keputusan ini diambil di tengah tekanan yang semakin besar terhadap kepemimpinan Infantino di FIFA, dan upaya untuk memaksanya mundur diperkirakan akan semakin intensif dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya, ia memecat Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, yang dikenal vokal mengkritik rencana penjualan saham Piala Dunia. Karena IFA telah menjadi anggota UEFA sejak 1994 dan Zuares duduk di komite eksekutif UEFA, langkah Israel ini dinilai sebagai indikasi kuat bahwa kekecewaan terhadap Infantino semakin meluas di kubu Eropa.

Israel Cabut Dukungan untuk Infantino Lewat Surat Resmi IFA

Dalam surat yang telah dilihat oleh Guardian, Zuares menyebut bahwa peristiwa-peristiwa terkini telah memicu “krisis kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya” antara visi UEFA dan FIFA dalam hal tata kelola sepak bola global. Ia juga menegaskan bahwa keretakan ini bersifat “mendalam, substansial, dan berprinsip”, yang mendorong semua pemangku kepentingan untuk meninjau ulang arah ke depan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi FIFA bukan sekadar perbedaan teknis, melainkan menyangkut fondasi etika dan arah organisasi.

Zuares mengonfirmasi bahwa keputusan tersebut diambil secara bulat setelah IFA menggelar pertemuan dewan. “Kami tidak punya pilihan selain mencabut surat dukungan kami sebelumnya, dengan harapan tulus bahwa dialog yang produktif di antara semua pihak pada akhirnya akan memulihkan visi dan arah yang tepat bagi sepak bola dunia,” demikian bunyi pernyataan Zuares. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut bukanlah langkah yang diambil dengan ringan, melainkan konsekuensi logis dari situasi yang berkembang di tubuh FIFA.

Keputusan Israel ini menjadi pukulan tersendiri bagi Infantino, yang selama ini berupaya keras membangun hubungan baik dengan Palestina. Ia telah menginvestasikan banyak modal politik untuk memperbaiki hubungan olahraga antara Israel dan Palestina. Namun, langkah IFA yang justru berseberangan dengan arah kebijakan Infantino menunjukkan bahwa upaya diplomatik tersebut belum cukup untuk meredam ketidakpuasan yang berkembang.

Kronologi: Pemecatan Kevin Lamour dan Rencana Penjualan Piala Dunia

Krisis ini bermula dari pemecatan Kevin Lamour dari posisinya sebagai Kepala Operasional FIFA. Lamour diketahui sangat kritis terhadap proposal Fifa Forward Enterprise (FFE) yang digagas Infantino, yaitu rencana untuk membawa investasi swasta ke dalam Piala Dunia. Pemecatan itu dikonfirmasi pada Senin malam, tidak lama setelah Lamour melontarkan pernyataan yang berbunyi seperti firasat.

“Jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan, maka biarlah,” ujar Lamour dalam pernyataannya pada 31 Juli. “Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya akan tidur nyenyak malam ini.” Pernyataan tersebut kini terbukti menjadi ramalan yang tepat, karena hanya berselang beberapa hari kemudian ia resmi didepak dari FIFA.

Sebelumnya, pada kongres FIFA bulan April di Vancouver, Infantino juga sempat mencoba menggelar sesi foto yang melibatkan delegasi Israel dan Palestina. Namun, upaya itu gagal karena Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, menolak berdiri berdampingan dengan Wakil Presiden IFA, Basim Sheikh Suliman. Meski mengalami kegagalan, Infantino tetap berencana mempertemukan Israel dan Palestina dalam pertandingan pertama turnamen baru U-15 di Amerika Serikat pada bulan depan, sebagaimana dilaporkan Guardian pada Juni.

Gelombang Penarikan Dukungan dari Anggota UEFA

Langkah Israel ini sejalan dengan keputusan sejumlah anggota UEFA lain yang lebih dulu menarik dukungannya terhadap Infantino. Intervensi Israel ini menggema dari penarikan dukungan yang dilakukan oleh empat asosiasi sepak bola Eropa sebelumnya. Beberapa negara yang telah mengambil sikap serupa antara lain:

  • Inggris
  • Wales
  • Skotlandia
  • Republik Irlandia

Laura McAllister, mantan pemain tim nasional wanita Wales yang kini menjabat anggota komite eksekutif UEFA, ikut mengkritik keputusan FIFA memecat Lamour. McAllister, yang merupakan salah satu dari lima wakil presiden UEFA dan pernah bekerja bersama Lamour sebelum ia pindah ke FIFA pada 2024, menyebut pemecatan itu “mengirim pesan yang sangat meresahkan”. Ia menilai tindakan tersebut menimbulkan keraguan besar atas upaya FIFA untuk memperbaiki diri setelah skandal FFE.

“Selama peristiwa memalukan dalam beberapa pekan terakhir, ia menunjukkan dirinya sebagai pembela yang berani bagi para pemangku kepentingan terpenting dalam sepak bola,” kata McAllister dalam pernyataannya. “Pemecatan Kevin secara serius melemahkan administrasi FIFA, sekaligus merusak kesempatan unik untuk mengubah budaya di FIFA dan menata ulang organisasi ini di atas nilai-nilai olahraga, bukan sekadar nilai komersial dan finansial.” Ia juga menegaskan bahwa FIFA bukanlah sang presiden, melainkan seluruh keluarga sepak bola, dan sepak bola dunia membutuhkan pemimpin yang kuat, berprinsip, dan independen yang berani bersuara, mengkritik saat diperlukan, serta teguh memegang nilai-nilai mereka.

CEO Premier League: FIFA Menekan Tombol Self-Destruct

Kritik tajam juga datang dari Richard Masters, Chief Executive Premier League. Dalam wawancaranya dengan BBC, Masters menilai bahwa Infantino telah menekan “tombol self-destruct” melalui rencana kontroversialnya untuk membawa investasi swasta ke Piala Dunia. Menurutnya, FIFA menciptakan masalah ini sendiri dan kini harus menanggung konsekuensinya.

“Ini adalah masalah yang diciptakan oleh FIFA sendiri,” ujar Masters. “Ini adalah luka yang ditimbulkan sendiri. Organisasi ini telah menekan tombol self-destruct, dan konsekuensinya kini mengalir ke dalam solusi-solusi yang perlu ditemukan.” Masters juga menegaskan bahwa FIFA seharusnya tidak pernah berpikir untuk menjual sebagian saham Piala Dunia, mengingat status FIFA sebagai organisasi nirlaba.

“Mereka seharusnya memegang kompetisi itu sebagai amanah untuk masa depan sepak bola,” tambah Masters. Pernyataan ini mempertegas bahwa kekhawatiran terhadap arah kebijakan Infantino tidak hanya datang dari dalam struktur FIFA, tetapi juga dari kompetisi domestik paling bergengsi di dunia. Sebagai liga yang disaksikan jutaan penggemar di berbagai negara, sikap Premier League tentu memiliki bobot tersendiri dalam percaturan sepak bola global.

Kesimpulan: Masa Depan Infantino di Ujung Tanduk

Penarikan dukungan dari Israel menambah panjang daftar anggota FIFA yang kecewa dengan kepemimpinan Gianni Infantino. Ditambah dengan pemecatan Kevin Lamour dan kritik dari berbagai pihak, tekanan terhadap presiden FIFA itu kini semakin sulit untuk diabaikan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Infantino dapat mempertahankan kursinya, melainkan seberapa besar kerusakan yang harus diperbaiki sebelum kongres berikutnya digelar.

Dengan semakin banyaknya anggota UEFA yang menarik dukungan, masa depan kepemimpinan Infantino di FIFA berada di titik yang sangat genting. Apakah ia mampu meredam krisis ini atau justru semakin terisolasi, akan menjadi kisah yang terus menarik untuk diikuti. Yang jelas, sepak bola dunia sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan arah tata kelola organisasi untuk bertahun-tahun ke depan.