Sávio resmi menjadi pemain Tottenham Hotspur setelah klub London Utara itu menuntaskan transfernya dari Manchester City dengan nilai awal £75 juta, plus bonus yang bisa membuat totalnya mencapai £85 juta. Pemain sayap Brasil berusia 22 tahun ini langsung meminta untuk dipanggil Sávio, bukan Savinho, dan akan mengenakan nomor punggung 17 peninggalan Cristian Romero. Keputusan soal nama inilah yang ikut mewarnai konferensi pers Roberto De Zerbi pada Selasa, tidak lama setelah kesepakatan diumumkan ke publik.
Perekrutan ini bukan sekadar menambah pemain baru, melainkan simbol awal mula yang diharapkan mengubah haluan Tottenham. Spurs baru saja melewati musim penuh dramatis dengan nyaris terdegradasi, dan mereka memulai musim ini dengan kekalahan telak 0-3 dari Brentford. De Zerbi pun dituntut membenahi banyak hal, mulai dari mentalitas tim hingga adaptasi para pemain anyar, termasuk Sávio.
Sávio Tottenham: Rebrand Nama dan Transfer Rekor dari Man City
Kedatangan Sávio ke Tottenham langsung mencatatkan sejarah bagi Manchester City, karena ini menjadi penjualan termahal yang pernah dilakukan klub tersebut. City sebelumnya hanya membayar sekitar £30,8 juta kepada Troyes untuk membawa Sávio ke Inggris, sehingga mereka meraup keuntungan berlipat dari selisih harga jual kali ini. De Zerbi mengungkapkan bahwa pembicaraan untuk merekrut Sávio sebenarnya sudah berjalan sejak tiga hari setelah musim lalu berakhir, dan prosesnya panjang hingga akhirnya rampung.
Di atas kertas, Sávio dianggap sebagai salah satu pemain terbaik dunia dalam situasi satu lawan satu, kemampuan yang langka dan sangat berharga bagi tim mana pun. Namun, De Zerbi juga menyadari bahwa penyelesaian akhir pemainnya masih perlu banyak peningkatan. Catatan gol Sávio di City memang tidak impresif, yakni hanya tujuh gol di semua kompetisi dan dua gol dalam 53 penampilan Premier League.
Soal perubahan nama, De Zerbi memberikan jawaban yang cukup menghibur. “Begini, saya kalah 0-3 di laga pertama Premier League… apakah Anda pikir itu masalah bagi saya jika Savinho menjadi Sávio?” ujarnya sambil menoleh ke arah penerjemah. “Kalau Enrico (sang penerjemah) berubah menjadi Savinho, itu baru masalah. Kalau Savinho tetap Sávio, tidak ada yang berubah bagi saya.”
Kenapa Sávio Kembali Menggunakan Nama Lamanya?
Nama Savinho yang dipakainya selama dua musim di Manchester City sebenarnya berasal dari kata Sávio dengan akhiran “-inho” yang dalam bahasa Portugis bermakna “kecil”. Dengan kembali menjadi Sávio, banyak yang menafsirkan bahwa pemain asal Brasil ini ingin menunjukkan dirinya kini lebih matang secara usia dan karier. Ia sendiri tidak memberikan pernyataan resmi yang panjang lebar, tetapi keputusan ini dianggap sebagai bagian dari awal baru yang ia inginkan.
Selain soal nama, ada teori menarik yang beredar mengenai angka transfer Sávio. Tottenham dikabarkan masih memburu satu penyerang lain dari Manchester City, yakni Omar Marmoush, yang sebelumnya bermain untuk Eintracht Frankfurt. Frankfurt memiliki klausul penjualan kembali atas Marmoush, sehingga muncul dugaan bahwa Spurs sengaja membayar lebih untuk Sávio agar kewajiban mereka kepada City lebih rendah dan kompensasi ke Frankfurt pun bisa ditekan.
Teori ini belum mendapat konfirmasi resmi, tetapi wajar jika publik mencoba mencari logika di balik nilai transfer yang terbilang besar. Yang pasti, De Zerbi tidak mempermasalahkan semua spekulasi itu selama timnya mendapat pemain berkualitas. Fokusnya kini adalah bagaimana Sávio bisa langsung berkontribusi dan membantu Spurs keluar dari keterpurukan.
Kekalahan 0-3 dari Brentford Membuka Kembali Luka Lama
Kekalahan telak dari Brentford di laga pembuka Premier League akhir pekan lalu benar-benar memupus euforia yang sempat menyelimuti Tottenham setelah belanja besar di musim panas. De Zerbi mencoba menjelaskan bahwa timnya tampil dalam kondisi yang jauh dari ideal, dengan lini belakang yang sepenuhnya baru dan duet gelandang yang belum pernah bermain bersama. Selain itu, lini depan yang diisi Mikey Moore, Richarlison, dan Mathys Tel dinilai bukan komposisi ideal untuk menembus empat besar.
Masalah makin rumit karena Spurs kehilangan sejumlah pemain kunci akibat cedera. Beberapa nama yang harus absen adalah:
- Pedro Porro
- Micky van de Ven
- Mateus Fernandes
- Dominic Solanke
De Zerbi juga kerap menyinggung padatnya tur pramusim ke Selandia Baru dan Australia sebagai salah satu penyebab. Namun, penjelasan ini tidak cukup memuaskan publik, sebab performa melawan Brentford jelas jauh dari kata layak untuk klub sebesar Tottenham. Euforia belanja besar di musim panas pun berubah menjadi frustrasi yang sangat familiar bagi para pendukung Spurs.
Catatan kandang Spurs juga menjadi momok yang tidak bisa diabaikan. Sepanjang tahun 2026, Tottenham hanya memenangkan satu laga kandang domestik, yaitu kemenangan melawan Everton di pekan terakhir musim lalu yang memastikan mereka lolos dari degradasi. Situasi ini membuat laga Carabao Cup melawan Charlton menjadi ujian besar, sekaligus kesempatan untuk memutus tren buruk di hadapan pendukung sendiri.
De Zerbi: Proyek Baru Dimulai Sekarang, Bukan Musim Lalu
De Zerbi menegaskan bahwa proyek yang ia bangun di Tottenham baru benar-benar dimulai saat ini, bukan pada musim lalu ketika ia datang di tengah krisis dengan tujuh laga tersisa. Saat itu, ia berhasil mengumpulkan 11 poin dan menyelamatkan Spurs dari ancaman degradasi yang nyata. “Musim lalu, kami berjuang untuk bertahan di liga,” kata De Zerbi, menunjukkan betapa rendahnya standar yang harus ia perbaiki.
Sang pelatih juga mengingatkan para pemainnya bahwa tantangan musim lalu justru lebih berat daripada kondisi sekarang. Ia meminta skuadnya tetap tenang dan tidak bereaksi emosional setelah kekalahan dari Brentford. “Musim lalu, dalam situasi yang lebih buruk, kami menunjukkan karakter, keberanian, kebanggaan, dan kualitas. Sekarang kami harus tetap tenang dan menganalisis situasi dengan lebih baik,” ujarnya.
Target utama De Zerbi adalah konsistensi, yang ia definisikan sebagai lima kemenangan beruntun. Ia sadar target itu terdengar sulit setelah hasil buruk di laga pembuka, tetapi ia tetap optimistis karena kualitas skuad yang ada. “Kami harus terbiasa menang, menang terus, dan mengubah kebiasaan dari dua musim terakhir,” tegasnya.
Jelang Lawan Charlton: Porro dan Van de Ven Kembali, Maddison Absen
Tottenham akan menjamu Charlton di Carabao Cup, dan De Zerbi mendapat kabar baik karena Pedro Porro serta Micky van de Ven siap tampil sebagai pemain pengganti. Dominic Solanke juga berpeluang langsung menjadi starter setelah pulih dari masalah kebugaran. Namun, James Maddison dipastikan absen sekitar dua pekan akibat cedera bahu yang ia derita saat melawan Brentford.
Sávio sendiri tersedia untuk menjalani debut karena berkas administrasinya telah selesai, dan De Zerbi masih mempertimbangkan apakah akan langsung menurunkannya sejak menit awal. Soal kesiapan tim, De Zerbi menegaskan bahwa ia memperlakukan Carabao Cup sama seriusnya dengan Premier League. “Kami tidak dalam posisi untuk membedakan kompetisi. Kami harus bermain baik dan terbiasa menang beruntun,” katanya.
De Zerbi juga menekankan bahwa kemenangan atas Charlton bukan sekadar target, melainkan keharusan. Ini adalah langkah pertama untuk mengubah mentalitas tim dan mengembalikan kepercayaan diri para pemain. Jika Spurs kembali gagal, tekanan terhadap proyek De Zerbi akan semakin besar, dan sorotan tajam pun akan kembali menghantam klub.
Kedatangan Sávio dengan rebrand nama barunya memang menjadi cerita yang menarik, tetapi nilai sebenarnya hanya akan terlihat di lapangan. Tottenham butuh lebih dari sekadar pemain baru; mereka butuh perubahan budaya, mentalitas, dan kebiasaan menang yang sudah lama hilang. De Zerbi tampaknya memahami hal itu, dan laga melawan Charlton akan menjadi awal pembuktian bagi Sávio dan seluruh skuad Tottenham.
