Thomas Tuchel Siap Hadapi Argentina yang Terbakar Sejarah di Semifinal

Manajer Timnas Inggris, Thomas Tuchel, mengakui bahwa timnya akan berhadapan dengan Argentina yang “dipenuhi semangat sejarah” di babak semifinal Piala Dunia, Rabu di Atlanta. Pertandingan ini menjadi pertemuan keenam kedua negara di turnamen tersebut, dengan tiga laga sebelumnya terjadi setelah Perang Falklands tahun 1982. Dalam konferensi pers, Tuchel menegaskan bahwa skuadnya sudah siap secara mental menghadapi tim tangguh yang sangat termotivasi oleh masa lalu. Laga ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian taktik, tetapi juga pertarungan emosi dan sejarah yang telah lama membekas.

Sejarah Panas Inggris vs Argentina

Pertemuan paling kontroversial terjadi pada perempat final 1986, ketika Diego Maradona mencetak gol “Tangan Tuhan” yang legendaris dan Argentina menang 2-1 dalam perjalanan menuju gelar juara. Enam belas tahun kemudian, pada babak 16 besar 1998, Argentina kembali unggul lewat adu penalti setelah David Beckham diusir keluar lapangan. Beckham membalaskan dendamnya di Piala Dunia 2002 dengan gol penalti yang membawa Inggris menang 1-0 di fase grup. Sementara itu, Inggris pernah mengalahkan Argentina 3-1 (1962) dan 1-0 (1966) saat menjadi juara dunia. Sejarah ini membuat duel semifinal kali ini semakin sarat makna.

Motivasi Argentina: Falklands, Maradona, dan Messi

Tuchel mengakui bahwa Argentina datang dengan api perjuangan yang besar. Mereka ingin mempertahankan gelar yang diraih pada 2022, sekaligus memberikan perpisahan yang layak bagi Lionel Messi yang diperkirakan tampil di Piala Dunia terakhirnya. Semangat mereka semakin terlihat setelah kemenangan 3-1 atas Swiss di perempat final. Beberapa pemain Argentina dikabarkan menyanyikan lagu di ruang ganti yang merujuk pada Perang Falklands, dengan lirik “untuk Las Malvinas, untuk Diego, dan untuk Leo yang terakhir”. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional tim tersebut dengan sejarah bangsa.

Tuchel: “Kami Juga Punya Grit dan Mentalitas”

Meski Argentina dikenal sangat emosional dan terpacu oleh sejarah, Tuchel menegaskan bahwa Inggris tidak gentar. “Saya kenal beberapa pemain mereka, saya pernah melatih mereka. Anda bisa merasakan ‘edge’ itu, terutama saat mereka tertinggal atau pertandingan ketat. Mereka hampir sama dengan kelompok empat tahun lalu—kohesif, penuh pengorbanan, dan percaya pada gaya emosional mereka. Tapi kami juga emosional, kami punya grit dan mentalitas untuk menghadapinya. Kami siap,” ujar Tuchel.

Isu Bellingham Sudah Selesai

Tuchel juga menepis isu ketegangan dengan Jude Bellingham. Sebelumnya, Tuchel mengkritik aspek teknis tim setelah kemenangan 2-1 atas Norwegia di perempat final. Bellingham, yang mencetak dua gol, sempat tidak terima dengan kritik tersebut dan mengatakan Tuchel mungkin tidak tahu rasanya bermain di laga sebesar itu. Namun, Tuchel menjelaskan bahwa keduanya berasal dari semangat kompetitif yang sama. “Saya memanggilnya pemain kelas dunia. Saya sudah bicara dengan seluruh tim, melakukan debrief, dan tidak ada masalah. Ini reaksi normal dari pemain dengan pola pikir seperti dia,” tambah Tuchel.

Mind Games: Guéhi Tekankan Tekanan pada Argentina

Bek Inggris, Marc Guéhi, ikut memanaskan persaingan dengan pernyataan bahwa beban justru berada di pundak Argentina sebagai juara bertahan. “Tidak ada tekanan pada kami. Mereka yang harus keluar dan mempertahankan gelar. Tekanan ada pada mereka,” kata Guéhi. Bek yang pulih dari cedera hamstring ini kemungkinan akan tetap berduet dengan John Stones di lini tengah pertahanan. Sementara itu, Ezri Konsa bersaing dengan Reece James untuk posisi bek kanan. Menariknya, Konsa mengaku belum sempat menonton pertandingan Argentina. “Saya yakin saat rapat nanti kami akan melihat klip-klip mereka dan mencari cara untuk mengalahkan mereka,” ujarnya.

Dengan segala persiapan dan keyakinan yang ditunjukkan oleh Tuchel dan para pemain, Inggris memasuki laga semifinal ini dengan kepala tegak. Perpaduan antara kekuatan teknis, mentalitas baja, dan pengalaman menghadapi tekanan sejarah menjadi modal berharga. Kini tinggal menunggu apakah “Roaring Lions” mampu meredam gairah Argentina yang terbakar oleh kenangan masa lalu.